Rokok dan Daya Beli Masyarakat, Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Belanja Kebutuhan Pokok?

viva.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Pengeluaran untuk rokok menjadi salah satu pos belanja rutin yang perlu diperhatikan ketika rumah tangga mengatur anggaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah pengeluaran untuk pangan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan, kebiasaan merokok turut memengaruhi alokasi pendapatan masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencatat rata-rata pengeluaran per kapita untuk rokok mencapai Rp91.708 per bulan. Angka tersebut setara dengan 5,84 persen dari total pengeluaran per kapita bulanan penduduk.

Baca Juga :
Buang Puntung Rokok Sebabkan Kebakaran TPA Supit Urang Malang, Lansia 71 Tahun Jadi Tersangka
Penjualan Eceran Naik, Makanan hingga Rokok Jadi Penopang Belanja Warga RI

Besaran pengeluaran itu menunjukkan bahwa rokok menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat. Namun, dampaknya terhadap daya beli perlu dilihat berdasarkan kondisi ekonomi setiap rumah tangga, terutama kemampuan memenuhi kebutuhan pokok di tengah berbagai pengeluaran rutin.

Pengeluaran Rokok dan Anggaran Rumah Tangga

Dalam mengelola keuangan, masyarakat harus membagi pendapatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Pengeluaran untuk makanan, minuman, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, hingga kesehatan menjadi bagian dari anggaran yang perlu disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.

Bagi rumah tangga yang memiliki anggota keluarga perokok, pembelian rokok dapat menjadi pengeluaran rutin. Jika dilakukan setiap hari, pengeluaran tersebut terakumulasi menjadi belanja mingguan hingga bulanan.

Sebagai gambaran, pengeluaran rokok rata-rata sebesar Rp91.708 per kapita per bulan menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut memiliki nilai ekonomi yang dapat diperhitungkan dalam anggaran konsumsi. Meski demikian, angka tersebut merupakan rata-rata nasional, bukan jumlah pasti yang dikeluarkan setiap individu atau keluarga.

Pengeluaran aktual dapat berbeda bergantung pada jumlah anggota rumah tangga, kebiasaan konsumsi, harga produk, serta tingkat pendapatan. Karena itu, data tersebut perlu dipahami sebagai gambaran pola konsumsi, bukan ukuran langsung kondisi keuangan seluruh masyarakat.

Beban Pengeluaran Berbeda Menurut Tingkat Pendapatan

Dampak pengeluaran rokok terhadap daya beli tidak selalu sama bagi seluruh lapisan masyarakat. Rumah tangga berpendapatan tinggi dan rendah memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap pengeluaran rutin.

Bagi keluarga dengan anggaran terbatas, setiap pos belanja dapat memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan lainnya. Pengeluaran yang terus berulang berpotensi mempersempit ruang anggaran untuk kebutuhan tambahan, terutama apabila pendapatan tidak meningkat sebanding dengan biaya hidup.

Baca Juga :
Larangan Perisa Rokok, Pedagang Khawatir Omzet Menurun
Dirjen Bea Cukai Masih Kaji Skema Layer Baru, Penjual Rokok Ilegal Bakal Ditarik ke Jalur Legal
Pesan Tegas Suahasil Nazara Soal Rokok Ilegal Usai Jadi Menkeu

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Orasi Kritis di Dies Natalis FHUI, Melli Darsa: Mandat Rakyat Bukan Cek Kosong, Konstitusi Tetap Membatasi!
• 8 jam lalu
0
thumb
FBS UNM Jadi Pionir Tata Kelola Konferensi Akuntabel, ICILLCE 2026 Hadirkan Enam Narasumber dari Lima Negara
• 6 jam lalu
0
thumb
Usut Perkara di Bengkulu, KPK Panggil Anggota DPRD Vina Ledy
• 9 jam lalu
0
thumb
Sudaryono Sebut MBG Hemat Rp 44 Triliun dalam 100 Hari, Anggaran Dikembalikan ke Kas Negara
• 7 jam lalu
0
thumb
BEI dan Nasdaq Gelar InnovAsia, Bahas Akses Pasar Global hingga Pengawasan Perdagangan
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.