Bola.com, Jakarta - Bagi publik yang tak pernah terlibat di internal klub pasti menilai manajemen klub di Indonesia terlalu kejam dan gampang memecat pelatih. Padahal bagi para pelaku sepak bola Nasional, terutama pelatih, tak heran lagi dengan fenomena ini.
Sebenarnya manajemen tak sembarang mengambil keputusan untuk menghentikan kerjasama dengan sang jurutaktik. Parameter dengan poin tertinggi adalah kegagalan seorang pelatih mengangkat performa tim yang berbuntut pada jebloknya prestasi.
Patokan lain, misalnya, si pelatih indisipliner dan melanggar pasal yang tercantum dalam kontrak yang telah disepakati bersama klub.
"Pemecatan pelatih bukan fenomena baru di sepak bola. Ini terjadi di seluruh dunia. Sejak dulu pelatih yang dinilai memenuhi target memang harus melepas jabatannya. Kebetulan Liga Indonesia dianggap terlalu mudah memecat pelatih di awal musim. Sehingga kompetisi kita dinilai sangat kejam," kata Gusnul Yakin.




Komentar (0)