Tanda Kiamat AI Makin Dekat Muncul di China, Bubble Pecah

cnbcindonesia.com
54 menit lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanda yang dikhawatirkan banyak orang kini mulai tampak. Di China, gelembung industri kecerdasan buatan (AI) telah pecah. Dalam empat bulan terakhir, indeks saham perusahaan teknologi andalan merosot tajam, menghapus ratusan miliar dolar AS atau setara puluhan ribu triliun rupiah dari bursa.

Reuters melaporkan indeks STAR50 yang terdiri dari banyak perusahaan AI dan chip yang sempat menjadi kebanggaan dan pusat perhatian dunia kini nilainya anjlok 40 persen. Nilai yang hangus dari bursa mencapai US$ 480 miliar atau sekitar Rp 8.400 triliun.

"Pasar saham berubah menjadi kegilaan spekulasi. Dan sekarang kita melihat gelembung itu pecah," ujar Dong Baozhen, pengelola dana investasi di Beijing.

Banyak perusahaan yang sempat dipuji tinggi kini jatuh. Saham perusahaan robotika Unitree tinggal separuh nilainya sejak melantai di bursa pada bulan Agustus lalu. Produsen chip CXMT juga turun lebih dari seperempat dalam sebulan terakhir.

Pilihan Redaksi
  • Perusahaan Rugi IPO, Ecommerce Raksasa Kaya Raya Bareng Google
  • Ramai-Ramai Suntik Uang Buat Pemasok Senjata Canggih AS, Ini Daftarnya

Namun belum semua putus asa. Perusahaan AI terkemuka DeepSeek baru saja berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$ 15 miliar atau sekitar Rp 262,5 triliun, salah satu pendanaan terbesar dalam sejarah China. Huawei juga memperoleh pinjaman US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 40,2 triliun dari bank-bank dalam negeri untuk membeli chip kecerdasan buatan.

Ada yang melihat penurunan ini bukan semata-mata karena pasar yang jenuh. China terus menghadapi hambatan dari luar, termasuk pembatasan ekspor dan pertimbangan larangan terhadap produk peralatan data center. Kendati demikian, pola yang terlihat di China mengingatkan pada apa yang juga mulai terasa di negara lain. Uang yang dicurahkan ke industri ini sungguh luar biasa besar, tetapi keuntungan yang diharapkan belum kunjung datang.

Di Amerika Serikat pun hal serupa mulai terasa. Perusahaan Anthropic mencatat kerugian US$ 80 miliar atau sekitar Rp 1.400 triliun dan berencana menghabiskan US$ 1 triliun atau sekitar Rp 17.500 triliun untuk membangun data center dalam 10 tahun ke depan. Angka-angka itu membuat banyak pemodal mulai bertanya-tanya kapan cuan datang?

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tabrakan Kereta di Spanyol, 46 Orang Tewas
• 12 jam lalu
0
thumb
Viral Kamera Tersembunyi di Ruang Ganti Pakaian RSUD Zainoel Abidin Aceh, Disimpan di Box Pengharum Ruangan
• 13 jam lalu
0
thumb
Annie Areeya Tantang Aisar Khaled Buka Suara, Klaim Punya Bukti soal Kehamilannya
• 1 jam lalu
0
thumb
Starting XI Persib Vs Melbourne Victory: Gakuto Notsuda Akhirnya Debut, Langsung Duet dengan Thom Haye
• 11 jam lalu
0
thumb
Tito Beri Tenggat Sepekan Daerah yang Belum Bentuk Satgas MBG, Bakal Kirim Surat Cinta
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.