Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menghadiri acara Kongres X Gerakan Pemuda Marhaenis, Rabu (28/10) di Jakarta. Pada kesempatan itu, Hasto menyebut pekerjaan rumah terbesar saat ini adalah menghadirkan kekuasaan yang berwatak kemanusiaan dan mewujudkan keadilan dalam seluruh aspek kehidupan. Menurut dia, marhaenisme tetap relevan sebagai falsafah perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dan ketidakadilan.
Hasto hadir mewakili Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
"Saya ditugaskan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri untuk menghadiri Kongres ke-10 dari Gerakan Pemuda Marhaenis," katanya.
Menurut Hasto, marhaenisme mengingatkan kembali pada falsafah pembebasan rakyat tertindas. Ia menilai kondisi petani, nelayan, buruh, dan masyarakat yang belum sejahtera harus menjadi perhatian dalam perjuangan politik.
"Kita melihat bagaimana kehidupan petani kita, nelayan kita, dan buruh kita, termasuk rakyat yang belum mendapatkan kemakmuran, maka itu seharusnya menjadi orientasi dari seluruh cita-cita perjuangan politik," ujarnya.
Lima Hal Harus BerubahHasto kemudian menjabarkan sejumlah hal yang perlu diperjuangkan untuk menghadirkan kekuasaan yang berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan.
"Bagaimana menghadirkan watak kekuasaan dengan nilai kemanusiaan, keadilan yang dijabarkan melalui pendidikan yang baik bagi anak-anak miskin, sarana kesehatan melalui BPJS Kesehatan yang ditingkatkan, subsidi yang tepat sasaran," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya melindungi masyarakat kecil agar tidak harus berhadapan langsung dengan kelompok oligarki ketika memperjuangkan hak-haknya.
"Tidak boleh rakyat kecil langsung berhadapan dengan oligarki di dalam memperjuangkan hak-haknya, termasuk hak atas kehidupan yang layak untuk mendapatkan akses produksi bagi peningkatan kapasitas perekonomian rakyat," ujar Hasto.
Ia menambahkan, Pancasila perlu dipahami sebagai landasan untuk mewujudkan keadilan sosial dan membebaskan masyarakat dari berbagai persoalan.
"Pancasila juga harus dipahami dalam prinsip-prinsip keadilan sosial yang membebaskan dari berbagai belenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan," tegasnya.
Marhaenisme Dinilai Relevan untuk Gen ZHasto menilai marhaenisme masih relevan untuk diperkenalkan kepada generasi muda, termasuk Generasi Z. Ia menyebut pemikiran tersebut dapat mengingatkan anak muda pada persoalan ketimpangan dan penindasan yang dialami masyarakat.
"Gerakan Pemuda Marhaen ini sangat relevan untuk Gen Z, sangat relevan untuk membangunkan kembali tentang falsafah manusia tertindas akibat kapitalisme, kolonialisme, imperialisme, yang namanya rakyat Marhaen itu," katanya.
Ketua Umum DPP GPM Izedrik Emir Moeis juga menyoroti upaya menghidupkan kembali marhaenisme setelah puluhan tahun tidak digunakan secara luas.
"32 tahun marhaenisme itu diberangus, bahkan namanya disuruh ganti, jadi pemuda demokrat, tidak boleh pakai kata marhaenis. Sekarang kita pakai lagi kata marhaenis," ujarnya.
Emir Moeis mengatakan dirinya telah berdiskusi dengan Megawati mengenai cara menyampaikan gagasan marhaenisme kepada generasi Z. Menurut dia, Megawati menyarankan agar materi pengenalan ideologi tersebut dibuat lebih ringkas dan menarik.
"Dia ngomongnya, buku lu jangan tebel-tebel, anak-anak tidak suka sekarang baca buku, senangnya cuma lihat gadget atau bikin komik-komik gambar," katanya menirukan pesan Megawati.
Menindaklanjuti masukan itu, GPM berencana menggunakan media komik untuk memperkenalkan marhaenisme kepada anak muda.
"Saya sedang kembangkan, Pak Jiwo katanya sudah bersedia membuat komik seperti itu tentang marhaenisme," ujar Emir Moeis.
Ia juga menjelaskan marhaenisme dengan menekankan perlawanan terhadap kemiskinan dan praktik eksploitasi.
"Saya cuma bilang marhaenisme itu satu: dia anti kemiskinan, dia akan berjuang untuk melenyapkan kemiskinan di Indonesia dan mengikis habis para pengisap," tuturnya.






Komentar (0)