PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan penurunan laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Namun di sisi lain, bank itu justru mencatatkan pertumbuhan kreditnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang belum diaudit, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk CIMB Niaga mencapai Rp 4,49 triliun per September 2026. Angka tersebut turun 14,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,27 triliun.
Sejalan dengan penurunan laba bersih, laba operasional perseroan juga menyusut menjadi Rp 5,75 triliun dari Rp 6,58 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Tekanan terhadap kinerja CIMB Niaga antara lain berasal dari pendapatan bunga dan syariah bersih yang turun menjadi Rp 9,86 triliun, dibandingkan Rp 10,07 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kendati demikian, perseroan masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan nonbunga sebesar 7,8% secara tahunan atau year on year (YoY). Laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) juga tetap stabil di level Rp 8,2 triliun.
Presiden Direktur sekaligus CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan, perseroan masih mampu menjaga kinerja di tengah tantangan ekonomi dewasa ini. Upaya itu tercermin melalui pertumbuhan bisnis, pengelolaan biaya yang disiplin, dan peningkatan efisiensi operasional.
“Meskipun profitabilitas menghadapi tantangan karena tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko kredit, kami tetap mampu menjaga kondisi keuangan yang solid,” ungkap Lani dalam keterangan resmi, dikutip pada Rabu (28/10).
Di tengah penurunan laba, penyaluran kredit dan pembiayaan CIMB Niaga masih mencatatkan pertumbuhan. Hingga 30 September 2026, total kredit dan pembiayaan meningkat 6,7% YoY menjadi Rp 242,6 triliun.
Pertumbuhan terutama ditopang segmen perbankan korporasi yang naik 15,1% YoY. Sementara itu, kredit perbankan komersial tumbuh 6,4% dan segmen usaha menengah dan kecil meningkat 1,9%. Adapun penyaluran kredit perbankan konsumer relatif terjaga.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 273,7 triliun. Dana murah atau current account and savings account (CASA) tumbuh 4,4% YoY menjadi Rp 197 triliun, sehingga rasio CASA meningkat menjadi 72%.
Total aset konsolidasian perseroan mencapai Rp 384,8 triliun per akhir September 2026. Angka itu naik 4,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, posisi permodalan dan likuiditas perseroan tetap terjaga. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 23,7%. Sementara rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) mencapai 87,7%.
Perkuat Kualitas AsetLani menuturkan, perseroan akan mengambil langkah adaptif dan berhati-hati untuk menghadapi dinamika ekonomi serta mengatasi tantangan profitabilitas dalam jangka pendek.
“Fokus kami adalah memperkuat kualitas aset, mendorong pertumbuhan kredit secara selektif, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga efisiensi biaya,” katanya.
Perseroan juga akan melanjutkan implementasi strategi Forward30 untuk memperkuat fundamental dan kapabilitas bisnis, sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Di segmen syariah, Unit Usaha Syariah CIMB Niaga mencatatkan total pembiayaan Rp 49,4 triliun dan DPK Rp 52,5 triliun per 30 September 2026. Perseroan terus mengoptimalkan komposisi portofolio dengan meningkatkan fokus pada segmen bisnis yang memberikan imbal hasil lebih baik guna memperkuat profitabilitas jangka panjang.





Komentar (0)