Rayakan Sumpah Pemuda, Xplore Indonesia Luncurkan Antologi Pemikiran Tokoh Nasional

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu (28/10) menjadi momentum peluncuran buku antologi pemikiran lintas tokoh nasional bertajuk XPLORE 98 FREQUENCIES OF INDONESIA.

Peluncuran buku ini menjadi bagian dari perhelatan “Makloemat Kebangsaan: Dentang Noesantara” yang digelar di Selasar Nashar, Pavilioen Raden Saleh, ARTHOTEL Curated, lantai 8 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

BACA JUGA: Doulos Hope Singah di Jakarta, Bea Cukai Dukung Kelancaran Impor Buku

Mengusung tema “Satoe Frekwensi, Seojeta Karya”, kegiatan tersebut sekaligus meresmikan Roemah Berkarya “X-OFFICE”.

Acara juga dimeriahkan dengan pameran karya WR Pustaka dan WR Film, inisiasi film Kotak Elito, serta sosialisasi Asosiasi Film dan Media Edukasi Anak Indonesia Raya.

BACA JUGA: Ayah Mansuri Luncurkan Buku untuk Anak yang Tumbuh Tanpa Peran Seorang Bapak

Founder Xplore Indonesia Anton Firmansyah (AF) mengatakan gerakan Xplore Indonesia hadir untuk membangun kepercayaan terhadap potensi masyarakat Indonesia sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa.

“Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Namun, potensi itu tidak akan berkembang maksimal jika kita tidak membangun kepercayaan terhadap kemampuan bangsa sendiri dan memperkuat semangat gotong royong,” demikian gagasan yang diusung dalam gerakan Xplore Indonesia.

BACA JUGA: Buku Peracik Rasa Hadirkan 80 Resep dari 8 Tokoh Ternama

Menurut Anton, gerakan tersebut berangkat dari dua agenda utama, yakni mengindonesiakan orang Indonesia melalui penguatan nilai gotong royong, toleransi, dan tenggang rasa, serta membangun kejayaan bangsa melalui kolaborasi yang inklusif.

“Kejayaan Indonesia bukan sesuatu yang hanya kita tunggu. Kejayaan itu harus kita bangun bersama, ketika masyarakat memiliki ruang untuk berkontribusi dan menentukan masa depannya melalui kolaborasi,” demikian pesan kebangsaan yang diusung Xplore Indonesia.

Dalam mukadimah buku tersebut, Anton menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak cukup menjadi modal untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju.

Indonesia juga membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Kekayaan alam Indonesia harus diimbangi dengan talenta dan sumber daya manusia yang andal. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi juga oleh kemampuan kita mengelola potensi tersebut,” demikian inti pemikiran yang disampaikan dalam mukadimah buku.

Antologi XPLORE 98 FREQUENCIES OF INDONESIA menghimpun gagasan dari beragam kalangan, mulai dari masyarakat akar rumput, seniman, budayawan, profesional muda di bidang teknologi, hingga tokoh nasional dan negarawan.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat mengangkat pentingnya penegakan konstitusi yang dijiwai etika, moralitas, gotong royong, dan tenggang rasa.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyoroti pentingnya mengawal konstitusi agar menjadi living constitution, yakni konstitusi yang hidup dalam praktik bermasyarakat dan bernegara. Ia juga menekankan perlunya menjaga harmoni antara nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Di bidang ekonomi dan teknologi, mantan Menteri Koordinator Perekonomian sekaligus Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Hatta Rajasa menyampaikan pemikiran mengenai re-engineering Rumah Indonesia, penguatan kemandirian ekonomi, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), serta integritas kepemimpinan.

Bupati Lahat Bursah Zarnubi yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), mengangkat pentingnya menjaga fitrah kemanusiaan dalam pembangunan bangsa.

Adapun Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menyoroti ketahanan keluarga dan pentingnya pengawalan gizi anak sejak dalam kandungan untuk mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Antologi tersebut turut memuat refleksi politisi nasional Anas Urbaningrum mengenai pentingnya merawat idealisme pergerakan.

Sementara itu, CEO Bridge Timor Synergi Ade Reza Hariyadi mengangkat pentingnya etika bisnis berkeadilan dan kemitraan inklusif dalam mengembangkan perdagangan serta investasi, khususnya dalam hubungan Indonesia dan Timor-Leste.

Keberagaman gagasan tersebut diharapkan memperkaya diskusi mengenai arah pembangunan nasional sekaligus membuka ruang dialog lintas generasi dan lintas sektor.

Anton berharap buku ini dapat menjadi rujukan bagi generasi muda dalam memahami tantangan kebangsaan dan mengambil bagian dalam menentukan masa depan Indonesia.

“Melalui perpaduan suara dari akar rumput hingga pandangan para tokoh nasional, buku ini diharapkan menjadi kompas moral dan intelektual bagi generasi muda dalam mengawal kedaulatan serta kejayaan bangsa,” demikian pesan Anton Firmansyah. (dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dicegat Demo ke HI, Mahasiswa Bentangkan Spanduk Raksasa
• 9 jam lalu
0
thumb
Jokowi Akan Dipanggil ke Sidang Ijazah, Ajudan: Insya Allah Kami Datang
• 8 jam lalu
0
thumb
Bank Sentral Korea Beri Warning Ekonomi, Ini Sebabnya
• 23 jam lalu
0
thumb
Nikita Mirzani Menang Banding, Klaim Kerugian Reza Gladys Jadi Sorotan
• 8 jam lalu
0
thumb
5 Fakta Unik Sumpah Pemuda
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.