JAKARTA— Di antara nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada kaum Quraisy adalah ketika Dia menghalau pasukan bergajah yang bertekad menghancurkan Ka'bah dan menghapuskan keberadaannya.
Allah membinasakan mereka, merendahkan kesombongan mereka, menggagalkan usaha mereka, dan menjadikan upaya mereka sia-sia. Mereka pun pulang dengan membawa kegagalan yang sehina-hinanya.
Baca Juga
Keluarga yang Diinginkan Alquran: Suami Benteng dan Langit, Istri Laksana Bumi Tempat Berpijak
Keluarga yang Diinginkan Alquran: Cerminan Anak Gadis Terhormat Penyejuk Hati
Keluarga yang Diinginkan Alquran: Bagaimana Seharusnya Anak Laki-laki yang Ideal?
Pasukan tersebut berasal dari kaum Nasrani. Pada masa itu, agama mereka dalam beberapa hal masih lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan dengan agama kaum Quraisy yang menyembah berhala.
Namun, peristiwa ini merupakan salah satu tanda pendahuluan dan persiapan bagi diutusnya Rasulullah SAW, sebab menurut pendapat yang paling masyhur, beliau dilahirkan pada tahun terjadinya peristiwa tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ibnu Katsir, dalam kitab tafsirnya menjelaskan, dalam kisah pasukan bergajah disebutkan bahwa ketika Abrahah memegang kekuasaan, ia mengirim pesan kepada Raja Najasyi, penguasa Habasyah (Etiopia), dengan mengatakan, “Aku akan membangun untukmu sebuah gereja di Yaman yang belum pernah dibangun sebelumnya.”
Abrahah kemudian memulai pembangunan sebuah gereja yang sangat megah di Sana'a. Bangunannya menjulang tinggi, halamannya luas, dan berbagai sudutnya dihiasi dengan ornamen yang indah.
Orang-orang Arab menyebut gereja itu dengan nama Al-Qullais karena ketinggiannya. Saking tingginya, orang yang memandangnya seolah-olah khawatir kopiah yang dikenakannya akan terjatuh dari kepala.
Abrahah bertekad mengalihkan ibadah haji bangsa Arab ke gereja tersebut, sebagaimana mereka berhaji ke Ka'bah di Makkah. Ia mengumumkan rencana itu ke seluruh wilayah kekuasaannya.
Namun, bangsa Arab, baik dari kelompok Adnani maupun Qahtani, tidak menyukai rencana tersebut. Kaum Quraisy bahkan sangat marah.
Hingga suatu ketika, seseorang dari kalangan mereka mendatangi gereja itu dan berhasil memasukinya pada malam hari. Ia kemudian melakukan tindakan yang mencemarkan tempat tersebut, lalu pergi.
Komentar (0)