JAKARTA, KOMPAS - Cerita pendek Mata-mata di Kepala karya Ni Komang Ariani terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas tahun 2025 pada Malam Anugerah Cerpen Kompas di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Cerpen ini merefleksikan hubungan warga dan negara di tengah persoalan kebebasan berekspresi yang relevan pada kondisi hari ini.
Mata-Mata di Kepala terpilih menjadi yang terbaik dari 3.342 cerpen yang masuk ke redaksi Kompas sepanjang tahun 2025 yang diputuskan oleh para juri; Andreas Maryoto, Dwi As Setianingsih, Dahono Fitrianto, Hilmi Faiq, dan Sarie Febriane. Dari jumlah itu, hanya 49 cerpen yang dimuat di Harian Kompas dan 972 cerpen di Kompas.id. Hanya 17 cerpen di antaranya terpilih menjadi nominasi cerpen pilihan Kompas 2025.
Apa yang saya tulis idenya memang itu yang terjadi dan kita alami sehari-hari, bagaimana kita mengalami kooptasi dari negara tentang kebebasan berbicara. (Ni Komang Ariani)
"Saya dari dulu bacanya cerpen pilihan Kompas, sepertinya jadinya cara menulis saya seperti gaya Kompas. Ini apa yang saya tulis idenya memang itu yang terjadi dan kita alami sehari-hari, bagaimana kita mengalami kooptasi dari negara tentang kebebasan berbicara menjadi demikian sulit ya," kata Ni Komang Ariani.
Ni Komang Ariani menerima penghargaan berupa patung Anugerah Cerpen Kompas karya Dolorosa Sinaga berwarna emas karena cerpen itu emas yang mulia. Di dalam cerpen ada diksi yang mendorong pembaca masuk ke dalam imajinasi pencipta untuk menemukan emas, sesuatu yang berharga.
Hilmi Faiq mengatakan, karya Ni Komang Ariani terpilih menjadi yang terbaik karena cerpennya relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Cerpen ini menyoroti tentang kisah seseorang yang diawasi hingga ketakutan meski tidak ada larangan yang membungkamnya.
"Cerpen ini mengandaikan bahwa hari-hari ini kita menyaksikan kekuasaan dipandang sebagai sesuatu yang tidak baik-baik saja," kata Faiq.
Tokoh utama cerpen tersebut adalah seorang perempuan yang pernah bekerja sebagai editor tata bahasa di sebuah koran. Ia dibawa ke tempat terpencil dan dijamin kehidupannya oleh negara.
Ia memperoleh gaji yang cukup dan diperbolehkan melakukan berbagai pekerjaan. Namun, ada batasan tegas: ia tidak boleh mencampuri urusan negara, menyampaikan komentar yang dapat menyakiti negara, ataupun menghasut warga.
Menurut penilaian juri, premis tersebut menjadi kekuatan utama cerpen karena memperlihatkan paradoks kebebasan. Tokoh seolah-olah diberi keleluasaan menjalani kehidupan, tetapi kebebasannya dibatasi ketika menyangkut urusan publik dan kekuasaan.
Negara hari ini tidak selalu menggunakan polisi, tentara, penjara, atau sensor untuk mengendalikan warga. Sebab, ketika masyarakat sudah merasa terus diawasi, mereka dapat belajar mengawasi diri sendiri dan menghindari pernyataan yang dianggap berisiko.
Situasi tersebut menjadi semakin kompleks ketika pengawasan juga dilakukan antarsesama warga. Di media sosial, pendapat dapat dipotong dari konteksnya, ditafsirkan secara berbeda, lalu digunakan untuk menyerang seseorang. Kesalahan masa lalu pun dapat diungkit kembali ketika seseorang dianggap merugikan kelompok tertentu.
Masyarakat tidak hanya menghadapi pengawasan dari negara, tetapi juga tekanan sosial yang mendorong mereka untuk berhati-hati secara berlebihan.
Dalam keadaan seperti itu, masyarakat tidak hanya menghadapi pengawasan dari negara, tetapi juga tekanan sosial yang mendorong mereka untuk berhati-hati secara berlebihan. Akibatnya, kritik menjadi tumpul, pendapat cenderung seragam, dan warga memilih bersikap pasif.
“Masalah terbesar bukan selalu ketika negara melarang warganya untuk bicara. Tetapi masalah lebih subtil muncul ketika warga mulai berpikir sebaiknya jangan bicara,” ucapnya.
Setelah sempat menurun pada tahun 2024, jumlah cerpenis yang mengirimkan karyanya ke redaksi Kompas kembali bergairah pada tahun 2025, dari 2.611 cerpen menjadi 3.342 cerpen. Tema dan gaya penulisannya juga kian variatif.
Sayangnya, sejumlah naskah diduga ditulis menggunakan perangkat akal imitasi (AI) yang bisa menumpulkan proses kreatif saat menulis. Namun, masih ada beberapa penulis lama tetap mempertahankan ciri khasnya serta penulis baru tetap memilih menulis tanpa bantuan AI.
Untuk menyeleksi naskah, kurator menggabungkan beberapa perangkat pemeriksaan dengan pembacaan terhadap karakter dan gaya penulisan penulis, termasuk membandingkan karya terdahulu dengan naskah terbaru.
"Singkatnya, ada pergeseran cara menulis dan cara crafting. Itu menjadi persoalan penting. Mungkin juga cara menggali ide yang bagi kami tidak menjadi soal karena bisa jadi seseorang butuh teman diskusi dan dia lalu memanfaatkan chatbot. Meskipun kami sadar, bagi sebagian orang, ini bisa jadi persoalan serius," tutur Faiq.
Pemimpin Redaksi Kompas, Haryo Damardono menegaskan, sejauh ini Kompas masih menghindari penulisan karya sastra menggunakan AI. Dia berharap para penulis yang mengirimkan karya ke Kompas tidak menggunakan AI.
"Sastra seharusnya menjadi benteng terakhir kita dari AI," kata Haryo.
Malam Anugerah Cerpen Kompas dimeriahkan oleh penampilan maestro pianis sekaligus Pendiri Daya Indonesia Performing Arts Academy, Tjut Njak Deviana Daudsjah bersama pemain kontrabas, Bayu Rusady. Duet ini membawakan lagu daerah Betawi "Ondel-ondel" dan lagu-lagu anak ciptaan Saridjah Niung alias Ibu Sud yang membuat penonton bernostalgia bersama.
Penyair muda, Anzar Mustikowati dan Peri Sandi Huizche turut menghangatkan suasana dengan beberapa bait puisi. Ada pula komponis, Ananda Sukarlan yang membacakan fragmen dari cerpen Ni Komang Ariani.






Komentar (0)