Bappenas Dorong Biosolusi di Sektor Pangan dan Energi, Potensinya USD 2,23 Miliar

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Kementerian PPN/Bappenas mendorong pengembangan biosolusi di sektor pangan dan energi untuk meningkatkan produktivitas serta nilai tambah sumber daya hayati Indonesia.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, mengatakan sektor pangan, termasuk pakan ternak, menjadi salah satu bidang yang paling potensial untuk pengembangan biosolusi di Indonesia.

“Yang paling relevan dan besar di Indonesia itu sebenarnya di bagian pangan, tapi pangan ini ada dua, pangan dan pakan juga. Karena ujung dari pakan itu pangan lagi,” kata Leonardo dalam konferensi pers Peluncuran Laporan The Value of Biosolutions in Indonesia, di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (28/10).

Berdasarkan laporan The Value of Biosolutions: Growth and Prosperity-Indonesia Edition, sektor biosolusi di Indonesia berpotensi menghasilkan nilai ekonomi sebesar USD 2,23 miliar atau setara dengan Rp 40,53 triliun (dengan kurs Rp 18.177 per dolar AS) pada 2035.

Leonardo menjelaskan, pengembangan biosolusi dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengoptimalkan pemanfaatan tanaman yang sudah dibudidayakan.

Dengan demikian, peningkatan hasil pertanian tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara lebih optimal.

“Fokusnya adalah mengoptimalkan dari semua tanaman yang kita sudah tanam, untuk bisa dimanfaatkan optimal. Dan itu adalah potensi terbesar yang selama ini masih underutilized di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Leonardo, biosolusi juga dapat mendorong peningkatan nilai tambah dari setiap hektare lahan pertanian. Pemanfaatan sumber daya hayati melalui teknologi dinilai dapat menghasilkan produk yang lebih beragam sekaligus meningkatkan produktivitas.

Selain pangan, sektor energi menjadi bidang lain yang dinilai potensial untuk pengembangan biosolusi, terutama melalui pemanfaatan bahan baku biofuel.

Leonardo mengatakan biofuel menjadi salah satu pilihan yang relevan bagi Indonesia dalam menjalankan transisi energi. Pemanfaatan biomassa dapat dilakukan secara langsung atau diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar nabati.

“Kenapa kita mendorong biofuel? Karena ini adalah yang paling relevan dan affordable teknologinya untuk Indonesia,” kata Leonardo.

Menurut Leonardo, pengembangan biofuel tidak harus bergantung pada satu jenis bahan baku. Teknologi biosolusi memungkinkan produksi bahan bakar nabati memanfaatkan berbagai sumber daya hayati, sehingga pilihan bahan baku dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan di dalam negeri.

Leonardo mencontohkan bioetanol yang dapat diproduksi dari berbagai bahan baku, seperti sorgum dan jagung. Diversifikasi tersebut dinilai relevan agar pengembangan biofuel tidak hanya bertumpu pada bahan baku yang juga dibutuhkan untuk keperluan lain.

“Misalnya bioetanol, bisa dari sorgum, bisa dari jagung, bisa dari lain-lain,” tuturnya.

Dalam laporan The Value of Biosolutions: Growth and Prosperity – Indonesia Edition memperkirakan jumlah lapangan kerja di sektor biosolusi dapat meningkat hampir tiga kali lipat pada 2035.

Setiap lapangan kerja baru di sektor biosolusi juga diperkirakan mendukung penciptaan 3,8 lapangan kerja tambahan di sektor ekonomi lainnya, terutama pertanian dan sistem pangan.

Pengembangan biosolusi berkaitan dengan penyusunan peta jalan bioekonomi nasional yang tengah dilakukan Bappenas. Leonardo menjelaskan, bioekonomi merupakan bagian dari upaya mendorong pembangunan ekonomi hijau melalui optimalisasi sumber daya hayati Indonesia.

Dia mengatakan konsep bioekonomi telah dibahas sejak 2014, awalnya dengan fokus pada pemanfaatan sumber daya hutan selain kayu. Konsep tersebut kemudian berkembang untuk mencakup sektor lain, termasuk pertanian, perikanan, dan peternakan.

“Ternyata konsep bioekonomi ini juga relevant beyond dari kehutanan untuk pertanian, kemudian untuk perikanan, peternakan dan banyak solusi-solusi yang diperoleh dari aspek-aspek kekayaan biologis yang kita punya,” terangnya.

Laporan mengenai biosolusi tersebut diluncurkan pada Rabu (28/10) melalui kolaborasi Kementerian PPN/Bappenas, Novonesis, dan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia.

Country Manager Indonesia Novonesis Yonny Setiady mengatakan peluncuran laporan tersebut menjadi awal bagi perusahaan untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan lembaga penelitian di Indonesia.

Menurut Yonny, kolaborasi tersebut diperlukan untuk mengeksplorasi sumber daya hayati Indonesia yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk produk samping dari industri kelapa sawit.

Dia mencontohkan palm kernel expeller (PKE), produk samping pengolahan kelapa sawit yang menurutnya selama ini dijual dengan nilai relatif rendah dan digunakan untuk pakan ternak sapi.

Menurut dia, melalui penerapan teknologi biosolusi berbasis fermentasi, produk samping tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan ternak ayam sekaligus menghasilkan etanol.

“Jadi untuk membuat itu bisa jadi pakan ternak ayam kita punya biosolusinya dengan fermentasi dan dengan berubah itu menjadi etanol. Jadi kita dapat dua, dapat etanol untuk ketahanan energi dan dapat pakan ternak untuk ketahanan pangan,” kata Yonny dalam kesempatan yang sama.

Yonny menuturkan penerapan biosolusi juga telah mencakup berbagai produk dan industri dalam kehidupan sehari-hari. Dia menyebut Novonesis memiliki sekitar 700 aplikasi biosolusi yang digunakan di 30 industri.

Salah satu contoh yang disampaikan Yonny adalah pengembangan yogurt yang dapat disimpan pada suhu ruang. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu memperluas jangkauan distribusi produk, terutama di Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan menghadapi tantangan logistik.

“Indonesia memiliki sumber daya dan ambisi untuk menjadi pemimpin bioekonomi di Asia Tenggara. Laporan ini menunjukkan bagaimana biosolusi, dengan dukungan kebijakan yang tepat, dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja berkualitas tinggi, dan mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045,” ujar Yonny.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Leo/Daniel Resmi Mundur dari Hylo Open 2026, Pelatih Ganda Putra Indonesia Ungkap Alasannya
• 17 jam lalu
0
thumb
Dukung Industri Pariwisata, Regal Springs Hadirkan KING Tilapia untuk Hotel dan Restoran
• 14 jam lalu
0
thumb
Sahroni Anggap Perlu Sanksi Pejabat yang Tak Kirim LHKPN ke KPK
• 23 jam lalu
0
thumb
Bank Sentral Korea Beri Warning Ekonomi, Ini Sebabnya
• 21 jam lalu
0
thumb
19 Orang Terlibat Tawuran Maut di Kebon Jeruk Ditangkap
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.