Pantau - Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat nilai ekspor nikel Indonesia mencapai 25,96 miliar dolar AS atau sekitar Rp472 triliun hingga Agustus 2026.
Capaian tersebut setara dengan 57,7 persen dari target ekspor nikel nasional pada 2026 yang ditetapkan pemerintah sebesar 45 miliar dolar AS atau sekitar Rp818,2 triliun.
Koordinator Kerja Sama dan Investasi Minerba Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Yan Abrar, menyampaikan data tersebut dalam Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu.
"Sampai dengan Agustus 2026, nilainya mencapai sekitar 25,96 miliar dolar AS, hampir 26 miliar dolar AS," ucap Yan.
Menurut Yan, peningkatan nilai ekspor tersebut mencerminkan keberhasilan program hilirisasi dalam mendorong nilai tambah komoditas nikel Indonesia di pasar internasional.
Nilai Ekspor Nikel Indonesia Melonjak Lebih dari 12 Kali LipatYan menjelaskan bahwa nilai ekspor nikel Indonesia mengalami peningkatan signifikan sejak pemerintah mengembangkan program hilirisasi mineral.
Pada 2017, nilai ekspor nikel Indonesia tercatat sebesar 3,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun.
Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 40 miliar dolar AS atau sekitar Rp727,32 triliun pada 2025.
Dengan demikian, nilai ekspor nikel Indonesia pada 2025 meningkat lebih dari 12 kali lipat dibandingkan dengan capaian pada 2017.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor nikel terus berlanjut sepanjang 2026 melalui penguatan industri pengolahan dan peningkatan nilai tambah produk mineral.
"Untuk 2026, pemerintah menargetkan setidaknya 45 miliar dolar AS (Rp818,2 triliun)," ujar Yan.
Berdasarkan realisasi hingga Agustus 2026, Indonesia masih membutuhkan tambahan nilai ekspor sekitar 19,04 miliar dolar AS untuk mencapai target tahunan tersebut.
Selain peningkatan nilai ekspor, Yan mengungkapkan bahwa merek produk nikel kelas 1 (class-1 nickel) asal Indonesia telah memperoleh pengakuan dari London Metal Exchange (LME).
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa produk nikel hasil hilirisasi Indonesia telah memenuhi standar yang digunakan dalam perdagangan logam internasional.
Hilirisasi Nikel Berpotensi Tingkatkan Nilai Tambah hingga 67,7 Kali LipatYan menegaskan bahwa potensi ekonomi nikel Indonesia dapat meningkat lebih besar apabila pengembangan industri dilakukan melalui rantai pasok yang luas dan terintegrasi.
"Potensi nilai tambah nikel Indonesia menjadi jauh lebih besar ketika kami mengembangkan rantai pasok," ucap Yan.
Ia menjelaskan bahwa pengolahan bijih nikel menjadi berbagai produk turunan mampu menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan bahan baku.
Produk nikel sulfat, misalnya, memiliki potensi nilai tambah hingga 11,4 kali lipat dibandingkan dengan bijih nikel.
Sementara itu, produk prekursor nikel memiliki potensi nilai tambah mencapai 19,4 kali lipat dari bahan baku awal.
Pada tahapan produksi katoda nikel, potensi peningkatan nilai tambah mencapai 37,5 kali lipat dibandingkan dengan bijih nikel.
Potensi nilai tambah terbesar terdapat pada produksi sel baterai yang dapat mencapai 67,7 kali lipat dari nilai bijih nikel.
Perbandingan tersebut memperlihatkan besarnya peluang ekonomi yang dapat diperoleh Indonesia melalui pengembangan industri pengolahan nikel hingga menghasilkan produk akhir.
Karena itu, pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan ekspor mineral, tetapi juga mendorong pembangunan industri pengolahan lanjutan untuk memperkuat daya saing nasional.
Pemerintah Dorong Ekosistem Industri Nikel yang TerintegrasiYan menyampaikan bahwa pengembangan hilirisasi nikel menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem industri yang mampu menghubungkan sektor pertambangan dengan industri pengolahan dan manufaktur.
Penguatan rantai pasok tersebut diharapkan dapat memperbesar nilai ekonomi produk nikel sekaligus meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.
"Oleh karena itu, tujuan Indonesia bukan sekadar mengekspor lebih banyak produk mineral, melainkan membangun ekosistem yang terintegrasi dan kompetitif, mulai dari pertambangan hingga pengolahan," kata Yan.
Melalui strategi tersebut, pemerintah menempatkan pengembangan industri nikel terintegrasi sebagai salah satu fokus hilirisasi mineral untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.





Komentar (0)