Mendeteksi Kanker Payudara Lebih Awal, Meningkatkan Harapan Hidup Pasien

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Tahun 2022 menjadi salah satu masa terberat dalam hidup Flavia Sungkit. Saat itu, usianya baru sekitar 30 tahun dan anaknya masih berusia 1,5 tahun. Di tengah kesibukan bekerja dan mengasuh buah hati, ia mendapat diagnosis kanker payudara.

Flavia semula tak menyangka dirinya mengidap kanker. Sepekan sebelum diagnosis ditegakkan, ia bahkan masih menjalani perjalanan dinas. Meski demikian, ia menyadari kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.

Semuanya bermula ketika Flavia melakukan pemeriksaan payudara sendiri (sadari) dan menemukan benjolan kecil di payudara kirinya. Ia tak mengabaikan temuan tersebut dan segera memeriksakan diri ke rumah sakit.

Keputusan itu menjadi langkah penting dalam penanganan penyakitnya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Flavia dinyatakan mengidap kanker payudara stadium I. Ia sempat menyangkal kenyataan tersebut, tetapi tidak membiarkan dirinya terlalu lama terpuruk.

Baca JugaKanker Payudara, Ancaman Laten Perempuan
Baca JugaBersama Lawan Kanker Payudara, Selamatkan Lebih Banyak Hidup

“Saya tidak mau lama-lama di fase denial. Kita bersedih lama-lama, tetapi kankernya tidak akan mengerti. Kanker akan terus berjalan, yang jika semakin lama dibiarkan, akan semakin menyebar. Jadi, saya harus cepat mengambil keputusan,” tutur Flavia di sela-sela gelar wicara yang diselenggarakan MRCCC Siloam di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Dukungan dokter dan komunitas penyintas kanker turut menguatkan Flavia dalam menghadapi penyakitnya. Dokter yang menanganinya bahkan menyampaikan bahwa peluang kesembuhannya mencapai 95–99 persen karena kanker terdeteksi sejak stadium awal.

Kanker akan terus berjalan, yang jika semakin lama dibiarkan, akan semakin menyebar. Jadi saya harus cepat mengambil keputusan.

Empat tahun berselang, Flavia berhasil melewati masa pengobatan kanker payudara. Hasil pemeriksaan terakhir pada 2026 menunjukkan tidak ada lagi sel kanker yang terdeteksi dalam tubuhnya.

Meski demikian, Flavia tetap menjalani pola hidup sehat, bahkan lebih baik dibandingkan sebelum didiagnosis kanker payudara. Ia menjaga pola makan dan rutin berolahraga.

“Jadi ketika terdeteksi dini, kita punya potensi untuk sembuh lebih tinggi. Itu juga yang kemudian menjadi kekuatan saya dalam menghadapi penyakit ini. Karena mungkin, jika terdeteksi di stadium lanjut, prognosis (jalan penyakit) jauh lebih sulit dan pasti akan semakin memengaruhi mental kita,” kata Flavia.

Deteksi dini

Kisah Flavia menunjukkan pentingnya deteksi dini kanker payudara. Semakin awal kanker ditemukan, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan semakin baik kualitas hidup pasien.

Sayangnya, deteksi dini kanker payudara di Indonesia masih rendah. Sekitar 60–70 persen kasus baru diketahui pada stadium lanjut sehingga meningkatkan risiko kematian.

Baca JugaMencegah Kanker Payudara
Baca JugaMengapa Menyusui Anak Mencegah Ibu Terkena Kanker Payudara?"

Secara umum, jumlah kasus baru kanker di Indonesia mengalami kenaikan 16,01 persen dari tahun 2024 ke 2026. Selain itu, pada periode yang sama, kasus kematian juga naik 16,59 persen.

Kasus terbanyak ditemukan pada kanker payudara yang angka kasusnya naik dari 41,8 kasus per 100.000 penduduk pada 2022 menjadi 55,8 kasus per 100.000 penduduk pada 2024. Angka kematian terkait kanker payudara juga naik dari 14,4 kasus per 100.000 penduduk pada 2022 menjadi 22,7 kasus per 100.000 penduduk pada 2024.

Ditemui terpisah, Guru Besar Radiologi-Pencitraan Payudara dan Reproduksi Perempuan FK-KMK Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Lina Choridah mengatakan, rendahnya kesadaran pemeriksaan risiko kanker payudara pada masyarakat menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka kematian akibat kanker di Indonesia. Penapisan massal yang dijalankan baru berupa sadari atau pemeriksaan payudara sendiri dan sadanis atau pemeriksaan payudara klinis.

Pemeriksaan payudara dengan alat ultrasonografi (USG) dan mamografi masih minim. Hal tersebut membuat diagnosis kanker payudara kurang tepat. Selain itu, faktor risiko kanker payudara juga semakin besar.

Faktor risiko kanker payudara yang mesti diwaspadai, antara lain menstruasi di usia lebih dini, menopause yang mundur, melahirkan di atas usia 30 tahun, memilih tidak memiliki anak, dan gaya hidup sedentari yang lebih jarang bergerak.

Meski demikian, Lina menuturkan, adanya program cek kesehatan gratis yang diinisiasi pemerintah diharapkan bisa memperbaiki sistem deteksi dini kanker payudara di Indonesia. Kementerian Kesehatan pun telah mulai melengkapi setiap puskesmas dengan alat ultrasonografi (USG).

Baca JugaDari Stadium hingga Profil Tumor, Penanganan Kanker Payudara Kini Makin Presisi
Baca JugaKurang dari 30 Persen Perempuan Indonesia Lakukan Skrining Kanker Payudara

Terkait dengan itu, Ketua Tim Kerja Penyakit Kanker Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Uswatun Hasanah menuturkan, pemerintah telah menargetkan setidaknya 60 persen kasus kanker payudara bisa terdeteksi pada stadium awal.

Pemerintah telah menargetkan setiap perempuan usia 30-69 tahun bisa melakukan skrining payudara lewat program cek kesehatan gratis. Namun, pada 2025, jumlah perempuan yang melakukan skrining payudara baru mencapai sekitar 10 persen.

Pada tahun 2026, jumlah yang melakukan skrining payudara juga masih rendah hanya sekitar 16,19 persen. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk melakukan skrining.

Menurut Uswatun, rendahnya partisipasi masyarakat dalam melakukan skrining dipengaruhi oleh beberapa hal, mulai dari rasa takut jika hasil pemeriksaan dinyatakan positif, akses layanan yang belum merata, serta kesadaran yang belum maksimal.

Saat sudah terdeteksi pun terdapat pasien yang tidak mau melakukan pemeriksaan lebih lanjut maupun pengobatan. Itu menyebabkan, kasus kanker tidak segera ditangani hingga akhirnya memburuk.

“Pemerintah sudah menargetkan 60 persen kasus kanker payudara bisa ditemukan di stadium awal. Kemudian proses diagnosis juga lebih cepat maksimal 60 hari setelah pemeriksaan dilakukan dan targetnya 80 persen pasien yang ditemukan bisa mendapatkan pengobatan sampai selesai,” ujar dia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kemarau Masih Berlangsung, BMKG Sebut Sebagian Wilayah Jatim Hujan karena OMC
• 8 jam lalu
0
thumb
Update Karhutla di Papua: 2.393 Hektare Lahan Terbakar, BNPB Beber Kendala Pemadaman
• 3 jam lalu
0
thumb
Fleetwood singkirkan Arsenal lewat adu penalti di Piala Liga
• 18 jam lalu
0
thumb
Apple Rilis MacBook Pro 14 Inci Chip M6 Terbaru, Cek Spesifikasinya
• 13 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Antam Naik 20 Ribu Jadi Rp 2,57 Juta, Galeri24 Menguat Rp 11 Ribu
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.