Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hingga mendekati level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia (BI) menyebut ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan.
Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan BI pada Rabu (28/10/2026), rupiah tercatat berada di level Rp18.183 per dolar AS.
Kondisi ini disebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang turut memengaruhi pergerakan harga minyak, ekspektasi suku bunga AS, serta aliran modal ke negara berkembang.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, ketidakpastian konflik Timur Tengah membuat harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko fiskal. Situasi tersebut juga mendorong naiknya ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
“Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas 115 dolar AS per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari memburuknya sentimen pasar global. Erwin mengatakan, kondisi risk-off mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman, sehingga dolar AS menguat dan dana keluar dari pasar negara berkembang atau emerging markets.
Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil atau yield obligasi turut memengaruhi pergerakan arus modal. Kombinasi faktor tersebut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, kekhawatiran mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) ikut memengaruhi aliran dana. Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan turut menjadi faktor yang menekan nilai tukar rupiah.
Erwin mencatat, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara bulanan, rupiah mengalami pelemahan sebesar 1,15 persen.
Meski demikian, cadangan devisa Indonesia masih terjaga. BI mencatat posisi cadangan devisa mencapai 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan transaksi spot. Bank sentral juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.






Komentar (0)