BRIN Lakukan Riset untuk Prediksi Kebakaran Hutan dan Lahan

katadata.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang melakukan penelitian terkait prediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Riset ini dilakukan sebagai usaha pemecahan masalah karhutla dalam jangka menengah dan panjang.

“Sebenarnya riset ini sudah berkembang, sekarang tinggal proses validasi untuk memprediksi, sehingga kita punya kemampuan (presikdi) apa yang akan terjadi tiga bulan, enam bulan di kemudian hari terkait dengan karhutla ini. Jadi kemampuan kami memprediksi ini saya kira sangat penting sekali,” kata Kepala BRIN Arif Satria dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Selasa (27/10).

Selain riset, BRIN juga akan bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi untuk mencoba memprediksi terjadinya kebakaran hutan. Tak hanya prediksi, BRIN juga sedang mengembangkan riset terkait model perambatan api di lokasi karhutla.

“Sehingga kita bisa mengantisipasi di kemudian hari. Alhamdulillah memang BRIN saat ini sedang melakukan riset terkait dengan soal model perambatan api di lokasi karhutla ini,” ucapnya.

Dia mengatakan berbagai riset ini dilakukan sebab Presiden Prabowo Subianto terus memantau perkembangan masalah karhutla. Presiden juga menekankan pentingnya hasil riset untuk memecahkan masalah karhutla baik jangka pendek hingga jangka panjang.

Uji Coba Pati Singkong dan APP

BRIN akan memulai uji coba penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menggunakan pati dari singkong dan amonium polifosfat (APP). Kepala BRIN Arif Satria menyatakan seluruh persiapan uji coba telah rampung. 

“Kami kemarin sore sudah koordinasi dengan TNI AU dan pasukan sudah siap semua,” kata Arif saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (27/10). 

Pendekatan pati atau starch dan APP ini dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik kebakaran gambut yang dapat merambat di bawah permukaan dan kembali menyala di permukaan.  Namun, menurut dia, APP masih perlu didapatkan melalui impor. 

“Sekarang kami proses bagaimana mensubstitusi (mengganti) APP. Kami sedang riset agar bisa menggunakan produk yang bisa dihasilkan sendiri,” ujarnya. 

Selain pati APP, Arif menyebut penanganan karhutla juga bisa dilakukan menggunakan bahan semai higroskopis Dumakron dalam operasi modifikasi cuaca (OMC), teknologi CoSAT atau flare berbasis partikel higroskopis halus yang dikembangkan Pindad dan BRIN untuk OMC. Tak hanya itu, penanggulangan karhutla juga memakai dry ice, yang sudah dipakai dalam beberapa hari terakhir.

Dia menyebut pemerintah akan menggunakan seluruh inovasi dan teknologi tersebut untuk menangani karhutla.“Kami akan memasukkan semuanya, jadi singkong, Dumakron khususnya juga karena sangat penting dan lebih efisien untuk proses OMC ini,” ucapnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
5 Karakter yang Terlibat dalam Misteri Pekerjaan di Drakor Dead-End Job
• 14 jam lalu
0
thumb
Jatim Perkuat Pemberdayaan Ekonomi untuk Memutus Rantai Kemiskinan Antargenerasi
• 12 jam lalu
0
thumb
Polisi Bongkar Penimbunan 1.030 Liter BBM Subsidi di Blitar, Tangki Mobil Dimodifikasi
• 7 jam lalu
0
thumb
Viral Ikan Asin Diduga Disemprot Pestisida, BPOM Turun Tangan dan Ingatkan Bahaya Residu Kimia
• 23 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Beruntun di Jombang, Bus Ngebut di Jalur Berlawanan Tabrak Truk Sapi lalu Kabur
• 55 menit lalu
0
Berhasil disimpan.