IHSG Diprediksi Masih Tertekan Jelang Keputusan The Fed hingga RUPSLB BEI

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih melemah pada perdagangan Rabu (28/10). Pada Selasa (27/10), IHSG ditutup turun 106,96 poin atau anjlok 1,99 persen ke level 5.266,13.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyebut IHSG masih berpotensi terkoreksi terbatas karena terdeteksi pola wave (b) setelah koreksi signifikan.

“Sinyal Stochastics K_D menunjukkan arah positif, meskipun sinyal RSI masih negatif dan volume transaksi mengalami penurunan,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10).

Nafan memperkirakan support IHSG di kisaran 5.192 dan 5.065, serta resistance di 5.398 dan 5.524.

Sentimen Global

Prediksi masih tertekannya IHSG disebabkan pasar yang menanti keputusan suku bunga The Fed. Inflasi AS pada September tercatat 3,7 persen secara tahunan, di atas target 2 persen.

Dinamika menjelang pemilu sela AS pada 3 November 2026 juga menjadi perhatian. Investor tak hanya menunggu keputusan Oktober, tetapi juga sinyal kebijakan berikutnya, termasuk kemungkinan perubahan suku bunga pada Desember.

Investor global juga menantikan laporan keuangan Microsoft dan Alphabet pada Rabu (28/10), diikuti Amazon pada Kamis (29/10), untuk melihat apakah belanja infrastruktur AI menghasilkan pendapatan dan laba.

Selain itu harga minyak turun di tengah diplomasi konflik AS-Iran. WTI melemah 1,83 persen ke USD 99,90 per barel dan Brent turun 1,67 persen ke USD 113,88 per barel. Meski begitu, perkembangan konflik masih dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan moneter.

Sentimen Domestik

Di dalam negeri, investor mencermati laporan keuangan bank. Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan melapor Kamis (29/10), disusul BBRI, BBTN, dan BDMN pada Jumat (30/10). Jadwal itu masih estimasi dan dapat berubah. Pertumbuhan laba berkualitas dan pengelolaan risiko yang baik berpotensi menjadi katalis positif.

Pasar juga menyoroti rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Kebijakan itu bertujuan meningkatkan kualitas dan transparansi indeks, tetapi dalam jangka pendek berpotensi mendorong penyesuaian portofolio. Perkembangan komunikasi dengan MSCI soal aksesibilitas pasar, transparansi kepemilikan, dan reformasi pasar modal juga masih menjadi sorotan.

Hari ini, BEI menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dengan agenda perubahan anggaran dasar untuk demutualisasi, penggunaan saldo laba ditahan per 30 Juni 2026, serta rencana kerja dan anggaran 2027.

“Agenda RUPSLB ini tentunya memberikan dampak sentimen yang cenderung positif hingga strategis untuk jangka panjang,” kata Nafan.

Menurut dia, demutualisasi berpotensi memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, memisahkan kepentingan bisnis dari fungsi pengawasan, dan membuka peluang masuknya investor strategis.

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG saat ini berada pada bagian dari wave (iv) dari wave [v].

Dengan demikian, koreksi diperkirakan terbatas di area 5.116–5.180 sebelum indeks kembali menguat. Adapun peluang penguatan IHSG selanjutnya diperkirakan berada di rentang 5.456–5.564.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Persahabatan Masa Kecil Berubah Rumit, Gisellma Firmansyah Ungkap Sisi Lain Karakter Sekar di Hajatan Setan
• 14 jam lalu
0
thumb
BP BUMN: Program MBG dan Sekolah Rakyat Tingkatkan Kualitas SDM di Indonesia
• 22 jam lalu
0
thumb
BPBD Lampung Pastikan Kebakaran Terbaru di Taman Nasional Way Kambas Padam, Tim Gabungan Lakukan Penyisiran
• 21 jam lalu
0
thumb
Mobil Ringsek Usai Ditabrak Truk Towing di Gate Tol Koja Barat Jakut
• 4 jam lalu
0
thumb
Yusril dan Luhut Bahas UU Tipikor, Tak Ada Niat Hapus Unsur Kerugian Negara
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.