Jakarta: Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak-anak di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat kasus DBD tertinggi pada 2025 terjadi pada kelompok usia 15–44 tahun (42 persen), dan kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun (41 persen).
Kondisi ini menunjukkan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal DBD. Artinya, upaya pencegahan harus dimulai sejak usia dini.
Perwakilan Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Agus Handito, menekankan keterlibatan aktif semua pihak menjadi kunci keberhasilan penanggulangan dengue.
“Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan,” ujar Dr. Agus Handito, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2026.
Hal ini disampaikan Agus dalam acara puncak ASEAN Dengue Day 2026 yang digelar Enesis Group bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Jakarta di Perpustakaan Nasional. Melalui kolaborasi ini, Enesis Group juga hadir dalam rangkaian kegiatan roadshow edukasi di SDN 03 dan 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, serta SDN 02 Mampang Prapatan.
Program ini menghadirkan edukasi interaktif mengenai Gerakan 3M+, yaitu Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, serta pentingnya melindungi diri dari gigitan nyamuk melalui penggunaan lotion antinyamuk Soffell. Kemudian, memperkuat Gerakan 3M+ upaya mendukung target Indonesia Zero Dengue Death 2030.
Baca Juga :
DBD Ancam Warga Perkotaan, Simak Daftar Kelompok Paling RentanAgus mengatakan pendekatan kolaboratif berbasis bukti harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program menuju target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030.
Agus menambahkan sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat melalui Gerakan PSN 3M+. Maka, budaya pencegahan DBD dapat ditanamkan sejak usia dini dan diterapkan secara konsisten.
Suasana acara puncak ASEAN Dengue Day 2026 yang digelar Enesis Group bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Jakarta di Perpustakaan Nasional. Dok. Istimewa
Sementara itu, RM Ardiantara, Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, menyampaikan edukasi kepada anak-anak menjadi investasi jangka panjang bagi upaya pencegahan DBD di Indonesia.
“Kami berharap Gerakan 3M+ tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat,” ujar RM Ardiantara.
Dia menambahkan generasi muda adalah agen perubahan yang penting dalam menyebarkan kesadaran pencegahan DBD di lingkungan sekitarnya.
“Sebagai perusahaan Indonesia yang juga hadir di sejumlah negara ASEAN, kami berharap semangat Gerakan Bebas Dengue yang dimulai dari Indonesia dapat menginspirasi lahirnya inisiatif serupa di negara-negara ASEAN lainnya,” ujar Ardiantara.





Komentar (0)