Kinerja keuangan dua emiten milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), turun "berjemaah" di paruh pertama 2026. Penurunan laba kedua perusahaan dipicu oleh penurunan penjualan.
Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2026, JARR membukukan laba bersih sebesar Rp 158,93 miliar, turun 0,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 160,39 miliar.
Penurunan laba itu sejalan dengan penurunan penjualan sebesar 13,7% YoY menjadi Rp 1,76 triliun dari Rp 2,04 triliun pada semester pertama 2025. Di tengah penurunan pendapatan, JARR memangkas beban pokok penjualan menjadi Rp 1,41 triliun dari Rp 1,68 triliun, sehingga laba bruto berada di Rp 350,70 miliar.
Perseroan juga menekan beban penjualan. Namun kenaikan beban umum dan administrasi serta beban keuangan membatasi pertumbuhan laba.
Laba usaha JARR tercatat Rp 234,38 miliar, turun dari Rp 263,12 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan beban keuangan menjadi Rp 60,81 miliar, meski sebagian tertopang lonjakan pendapatan lain-lain bersih menjadi Rp 29,96 miliar dari Rp 3,15 miliar.
Sementara itu, PGUN mengalami penurunan kinerja yang lebih dalam. Perseroan membukukan laba bersih Rp 44,51 miliar pada semester pertama 2026, merosot 46,7% YoY dibandingkan Rp 83,53 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba terjadi seiring turunnya penjualan bersih 20,8% YoY menjadi Rp 304,98 miliar dari Rp 385,17 miliar.
Seiring dengan turun pendapatan, beban pokok penjualan menjadi Rp 155,64 miliar dari Rp 233,09 miliar, laba bruto PGUN tetap turun menjadi Rp 149,34 miliar dari Rp 152,09 miliar.
Tekanan terbesar berasal dari lonjakan beban umum dan administrasi yang meningkat lebih dari empat kali lipat menjadi Rp 80,11 miliar dari Rp 17,31 miliar. Akibatnya, laba usaha anjlok 43% menjadi Rp 67,93 miliar dibandingkan dengan Rp 119,10 miliar pada semester pertama 2025.
Di sisi lain, PGUN menekan beban keuangan menjadi Rp 12,95 miliar dari Rp 16,98 miliar. Namun, efisiensi tersebut belum mampu mengimbangi pelemahan penjualan dan kenaikan beban operasional, sehingga laba sebelum pajak turun hampir separuh menjadi Rp 57,20 miliar dari Rp 106,94 miliar pada periode yang sama tahun lalu.





Komentar (0)