Kepala BGN ‘Gemas’ Lihat Medsos Seolah-olah MBG Habiskan Anggaran

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku gemas melihat komentar di media sosial yang seolah-olah menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghabiskan anggaran negara. Dia meminta masyarakat melihat program tersebut secara lebih utuh dan tidak menganggap anggaran MBG membuat sektor lain terbengkalai.

“Ini kalau kita lihat perkembangan di medsos, di sosial media kan seolah-olah MBG ini ngabisin anggaran negara. Terus seolah-olah ini kurang, itu kurang, ini kurang, itu kurang,” jelas Sudaryono saat konferensi pers di Kantor BGN, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (31/7).

Dia kemudian mencontohkan sektor pertanian, khususnya pupuk. Menurut Sudaryono, persoalan ketersediaan pupuk tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan adanya anggaran MBG.

“Maksud saya begini, ada yang nanya apa hubungannya pupuk Pak sama MBG? Kan orang menuduh bahwa MBG ngabisin anggaran. Dulu tidak ada MBG artinya tidak ada anggaran yang kepakai untuk MBG itu pupuknya kurang ya volume-nya Anda bisa cek itu,” katanya.

Menurutnya, setelah adanya MBG, pemerintah justru tetap memenuhi kebutuhan pupuk dan bahkan memberikan kebijakan harga yang lebih murah.

“Dan bahkan sekarang sudah anggarannya dipakai MBG itu kemudian pupuknya dicukupi harganya diskon,” tuturnya.

Sudaryono juga menyinggung kondisi jaringan irigasi. Dia mengatakan kerusakan irigasi sudah terjadi sebelum program MBG berjalan sehingga tidak tepat jika kondisi tersebut dikaitkan dengan penggunaan anggaran untuk MBG.

Dia kemudian menyebut pemerintah tetap melakukan revitalisasi jaringan irigasi meski anggaran negara juga dialokasikan untuk MBG.

“Terus sekarang ada MBG sudah diambil untuk MBG sekarang ada revitalisasi irigasi Rp 12 T, Rp 14 T, Rp 14 T sampai dengan 5 tahun ini diberesin semua,” kata dia.

Hal serupa, kata dia, terjadi pada persoalan sekolah rusak. Sudaryono mempertanyakan anggapan bahwa kerusakan sekolah terjadi karena adanya program MBG.

“Dulu nggak ada MBG kan sekolah itu ada yang rusak, bolong, apa semua itu kan, nggak karena terus kemudian Pak Prabowo jadi presiden ada MBG terus sekolahnya mendadak jadi rusak kan nggak,” ujar Sudaryono.

Dia meminta masyarakat melihat persoalan tersebut secara lebih objektif dengan mempertanyakan kondisi sekolah sebelum MBG berjalan.

“Dulu ke mana? Anda harusnya bertanya dong ya dulu ke mana? Yang sekolah rusak itu dulu duit yang untuk MBG mestinya dari kemarin-kemarin dong nggak ada MBG harusnya sekolah sudah bagus semua. Kan nggak,” jelasnya.

Menurut Sudaryono, pemerintah saat ini juga melakukan perbaikan sekolah secara besar-besaran.

“Ada dipakai MBG sekolahnya sekarang diperbaiki sama pemerintah. 16.000 kemarin, tahun ini 90.000 dan akan selesai 300.000 atau hampir 400.000 sekolah ini akan diperbaiki semua,” ungkap Sudaryono.

Sudaryono juga membawa persoalan guru honorer untuk menjelaskan bahwa adanya MBG tidak berarti seluruh kebutuhan negara menjadi terabaikan.

“Kita ngomongin misalnya yang lain guru honorer. Loh dulu nggak ada MBG kan, nggak kemudian karena MBG kemudian guru honorer gajinya kecil,” kata Sudaryono.

“Bahkan oleh Pak Presiden kan sudah dipastikan sampai dengan 2 juta ya kan gitu. Dulu kan nggak,” sambungnya.

Karena itu, Sudaryono kembali menegaskan agar masyarakat tidak melihat persoalan pembangunan secara sepotong-sepotong dan menyimpulkan bahwa MBG mengambil anggaran dari kebutuhan lainnya.

“Maksud saya mari kita sama-sama kita semua ini anak pinter lah ya, Anda semua media semua kita semua pakai akal sehat sekarang ini sedang kita perbaiki semua,” ucap Sudaryono.

Sudaryono menyadari anggaran MBG yang disiapkan pemerintah memang besar. Namun, menurut dia, program tersebut berjalan bersamaan dengan pembenahan di berbagai sektor lain.

Dia kembali mengajak masyarakat melihat pembangunan secara menyeluruh, bukan dengan menganggap MBG sebagai penyebab persoalan di sektor lainnya.

“Terus kemudian siapa yang artinya kan maksud saya ini saya mengajak sebagai anak bangsa, sebagai kita punya akal sehat, kita orang-orang yang diberi akal kita adalah orang-orang terpilih yang sekolah oleh Allah, diberikan anugerah kecerdasan, mari kita bicara pakai hati pakai hati nurani pakai akal sehat. Jadi yang inilah yang sekarang sedang dikerjakan oleh Presiden kita,” kata Sudaryono.

Sudaryono juga menyinggung pembangunan jembatan di berbagai daerah. Dia mengatakan persoalan akses masyarakat yang harus menggunakan jembatan sederhana sudah ada sebelum program MBG berjalan.

“Dulu nggak ada MBG, jembatan nggak ada, dibangun maksudnya ya ada satu dua kemudian orang sekarang di video orang nyebrang sungai pakai titian mempertaruhkan nyawa. Dulu nggak ada MBG kenapa nggak dibangun jembatannya,” tuturnya.

Menurut dia, pemerintah kini juga menjalankan program pembangunan jembatan untuk menjawab persoalan tersebut.

“Maksud saya ini sekarang ada diambil MBG sekarang ada satgas jembatan target 10.000 jembatan dibangun sudah ribuan jembatan oleh angkatan darat sama polisi dibangun di desa-desa,” kata dia.

Sudaryono menegaskan pemerintah menyadari masih banyak persoalan yang perlu dibenahi. Namun, dia meminta pembenahan tersebut tidak diposisikan sebagai akibat dari pelaksanaan MBG.

“Jadi saya ingin mengajak kita semua, bukan hanya awak media tapi semua yang kemudian menonton press conference ini untuk kita sama-sama kita ini mau negara kita maju, mau negara kita aman negara kita baik ya,” tuturnya.

“Sekarang dunia sedang tidak baik-baik saja kita alhamdulillah nggak ada orang datang ke sini awak media datang ke sini jalan kaki kan nggak, di Filipina jalan kaki loh,” sambungnya.

Menurut Sudaryono, pemerintah memang masih memiliki banyak pekerjaan rumah, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga gizi.

“Maksud saya kita memang banyak yang harus dibenahi, betul banyak yang harus dibenahi. Memang tugas pemerintah adalah membenahi hal-hal yang memang harus dibenahi pendidikan kesehatan gizi termasuk bagaimana pilar demokrasi media kita benahi semua,” pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rekomendasi Drama China dengan Rating Tinggi di Netflix
• 16 jam lalu
0
thumb
Polisi Ungkap Penculikan Jesslyn: Dibawa oleh Orang-orang Suruhan Ibunya
• 9 jam lalu
0
thumb
Ternyata Kakek Nabi yang Pertama Memperkenalkan Nama Hari Jumat, Begini Kisahnya
• 13 jam lalu
0
thumb
Kepala BSKDN Ajak Bantul Bangun Ekosistem Inovasi dari Sekolah ke Kampus
• 8 jam lalu
0
thumb
IM57+ Minta Hukuman Lebih Berat untuk Staf KPK Tersangka Korupsi Pemalang
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.