Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan “sangat kecewa” jika Israel tidak mematuhi rencana yang diusulkan AS untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza, kata seorang pejabat AS.
Pada Kamis malam, Trump mengatakan bahwa kesepakatan mengenai pelucutan senjata penuh terhadap kelompok Palestina Hamas dan kelompok-kelompok lainnya di Jalur Gaza telah tercapai.
“Kami tidak meminta Israel melakukan apa pun selain menyetujui rencana 20 poin yang sebelumnya telah mereka setujui. Karena itu, kami sangat yakin mereka akan mematuhinya. Jika tidak, tentu saja Presiden Trump akan sangat, sangat kecewa,” kata pejabat tersebut kepada wartawan, seperti dikutip CNN pada Jumat.
Washington meyakini Israel akan terus menjadi “mitra yang baik” dan “mematuhi” kesepakatan tersebut, tambah pejabat itu.
“Saya pikir dalam beberapa minggu ke depan kami akan terus menyempurnakan detail semuanya, dan saya pikir kita dapat melihat kemajuan dalam satu atau dua bulan ke depan,” kata pejabat tersebut ketika ditanya mengenai waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelucutan senjata Hamas.
Pada Kamis, kantor otoritas Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Garis Kuning di Jalur Gaza sampai Hamas dilucuti dan wilayah tersebut didemiliterisasi.
Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas, dengan mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki, sepakat untuk melaksanakan tahap pertama dari rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump. Sehari kemudian, gencatan senjata mulai berlaku di Gaza.
Sesuai kesepakatan tersebut, pasukan Israel mundur ke apa yang disebut Garis Kuning, tetapi tetap mempertahankan kendali atas lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Pada Kamis malam, Trump mengatakan bahwa kesepakatan mengenai pelucutan senjata penuh terhadap kelompok Palestina Hamas dan kelompok-kelompok lainnya di Jalur Gaza telah tercapai.
“Kami tidak meminta Israel melakukan apa pun selain menyetujui rencana 20 poin yang sebelumnya telah mereka setujui. Karena itu, kami sangat yakin mereka akan mematuhinya. Jika tidak, tentu saja Presiden Trump akan sangat, sangat kecewa,” kata pejabat tersebut kepada wartawan, seperti dikutip CNN pada Jumat.
Washington meyakini Israel akan terus menjadi “mitra yang baik” dan “mematuhi” kesepakatan tersebut, tambah pejabat itu.
“Saya pikir dalam beberapa minggu ke depan kami akan terus menyempurnakan detail semuanya, dan saya pikir kita dapat melihat kemajuan dalam satu atau dua bulan ke depan,” kata pejabat tersebut ketika ditanya mengenai waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelucutan senjata Hamas.
Pada Kamis, kantor otoritas Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Garis Kuning di Jalur Gaza sampai Hamas dilucuti dan wilayah tersebut didemiliterisasi.
Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas, dengan mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki, sepakat untuk melaksanakan tahap pertama dari rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump. Sehari kemudian, gencatan senjata mulai berlaku di Gaza.
Sesuai kesepakatan tersebut, pasukan Israel mundur ke apa yang disebut Garis Kuning, tetapi tetap mempertahankan kendali atas lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti






Komentar (0)