JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa dampak musim kemarau mulai dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.
Memasuki akhir Juli 2026, kekeringan dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, sementara potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meningkat seiring meluasnya kondisi kering akibat pengaruh El Nino yang semakin kuat.
Meski demikian, BMKG menegaskan hujan masih berpeluang terjadi secara lokal di beberapa wilayah pada sepekan ke depan.
Peluang tersebut dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, Madden-Julian Oscillation (MJO), hingga keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik utara Papua Barat.
Berikut dinamika atmosfer dan prakiraan cuaca Indonesia untuk sepekan ke depan berdasarkan analisis BMKG, dikutip dari bmkg.go.id.
Baca Juga: Musim Kemarau 2026 Sampai Kapan? Ini Prediksi Curah Hujan Bulanan BMKG
Dinamika Atmosfer Sepekan ke DepanBMKG menyebut perkembangan iklim global masih mendukung berlanjutnya cuaca kering di Indonesia.
Hal ini terlihat dari nilai indeks Niño 3.4 dasarian yang mencapai +2,26 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28,2. Kedua indikator tersebut menunjukkan El Nino berada pada kategori kuat dan diprakirakan masih berpotensi mengalami penguatan.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan sehingga curah hujan di berbagai wilayah Indonesia cenderung menurun.
Dalam prakiraan Dasarian I Agustus 2026, sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan kategori rendah. Sementara itu, sekitar 8,57 persen wilayah diprediksi berada pada kategori curah hujan menengah. BMKG tidak memprakirakan adanya wilayah dengan kategori curah hujan tinggi maupun sangat tinggi pada periode tersebut.
Penulis : Dian Nita Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- bmkg
- dinamika atmosfer sepekan ke depan
- el nino
- musim kemarau 2026
- prakiraan cuaca
- potensi karhutla






Komentar (0)