Di Balik Api 350 Derajat, Agus Bertahan 27 Tahun Mengantar Manusia ke Peristirahatan Terakhir

kompas.com
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Panas menyengat yang keluar dari pintu oven bersuhu ratusan derajat menjadi bagian dari keseharian Agus (48).

Setiap hari, warga Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, itu harus berhadapan langsung dengan mesin kremasi bersuhu tinggi sebagai bagian dari pekerjaannya.

Selama 27 tahun menjadi petugas kremasi, Agus telah melewati berbagai perubahan metode kremasi, mulai dari cara tradisional menggunakan kayu bakar hingga sistem modern dengan oven otomatis berbasis layar sentuh seperti saat ini.

Jika dulu ia lebih sering menghadapi asap pekat dan bara kayu, kini pekerjaannya lebih banyak berhubungan dengan mesin besar yang memiliki sistem pengaturan suhu.

Baca juga: 27 Tahun Agus Jadi Pekerja Kremasi, Takklukan Rasa Takut demi Keluarga

Namun, kemajuan teknologi tidak serta-merta membuat pekerjaannya menjadi lebih ringan.

Risiko justru tetap ada. Agus harus berhadapan dengan oven besar yang dapat mencapai suhu sekitar 350 derajat Celsius setiap hari. Tak jarang, kulitnya mengalami luka akibat bersentuhan dengan bagian oven yang panas.

"Pasti pernah terluka, karena jarak kita hanya satu langkah dengan suhu tinggi. Kami punya alat bantu logam panjang untuk menarik material kalau ada kendala," kata Agus saat ditemui di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (30/7/2026).

Ayah dua anak itu mengatakan, rata-rata proses kremasi menggunakan oven berlangsung sekitar 90 menit. Durasi tersebut bergantung pada pengaturan suhu, berat peti, dan kondisi jenazah.

Namun, apabila suhu tidak sesuai dengan bobot peti dan jenazah, proses kremasi dapat berlangsung lebih lama.

Terutama untuk jenazah yang sebelumnya diawetkan dalam freezer, proses pembakaran bisa memakan waktu lebih dari 90 menit dan membutuhkan bahan bakar lebih banyak.

KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Pekerja kremasi bernama Agus (48) di Cilincing, Jakarta Utara. Kamis, (30/7/2026).
Ketika Mesin Bermasalah

Selain risiko luka akibat panas, tantangan lain yang kerap dihadapi Agus adalah ketika mesin oven mengalami gangguan.

"Biasanya karena material di dalam peti yang kita tidak tahu karena peti sudah tertutup. Ada bahan yang mudah meledak seperti parfum, baterai, atau handphone," sambung Agus.

Menurut dia, benda-benda tersebut dapat memicu gangguan selama proses kremasi.

Selain itu, pakaian atau kertas yang menutup lubang angin maupun blower juga dapat membuat hawa panas tidak tersalurkan dengan baik hingga mesin otomatis berhenti bekerja.

Ketika hal itu terjadi, Agus menjadi orang yang bertanggung jawab untuk memeriksa sekaligus memperbaiki mesin.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Kremasi Hewan dan Perubahan Cara Kota Memandang Kehilangan


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kemenhan: Calon Manajer Kopdes akan Kerja Selama Dua Tahun
• 9 jam lalu
0
thumb
ITB dan Shanghai Microport MedBot kembangkan teknologi robotika medis
• 16 jam lalu
0
thumb
Budaya Fast Content: Kenapa Otak Kita Susah Menikmati Karya Panjang?
• 20 jam lalu
0
thumb
Bayi MPASI Sudah 8 Hari Belum Mau Menelan Makanan, Apakah Normal?
• 4 jam lalu
0
thumb
Kolaborasi Dunia Usaha Dukung Percepatan Penurunan Stunting di NTT
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.