Air Hujan Hilang, Warga Pun Berharap dari Air Bantuan

kompas.id
17 jam lalu
Cover Berita

Walau berada di lereng Gunung Penanggungan, Desa Kunjorowesi bukanlah desa yang terpencil yang sulit diakses. Jalan-jalan yang ada cukup baik kualitasnya dan lebar dengan beberapa bagian sudah dibeton. Rumah-rumah juga hampir semuanya berdinding tembok. Di  jalan yang mulus tersebut sering melintas sepeda motor keluaran terbaru milik warga. Di sejumlah dusun banyak warga yang bekerja sebagai petani dan da juga yang bekerja di sektor tambang galian C, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Namun semua kemudahan itu seakan berubah menjadi rupa menjadi aura kesengsaraan saat musim kemarau. Ketiadaan air menjadikan Desa Kunjorowesi merupakan, satu dari tiga desa di Kabupaten Mojokerto yang seringkali mengalami kekeringan ekstrem. Walau tumbuhan masih terlihat hijau, air yang menjadi sumber kehidupan perlahan hilang sejalan habisnya air di tempat penampunag air hujan.

Saat musim hujan, warga menampung air dengan tong-tong besar dan juga dengan tempat penampungan air berkapasitas besar milik dusun. Saat kemarau seperti saat ini, warga harus mengambil aie ke tempat penampungan air PDAM yang jauh dari permukiman warga. Untuk mengantisipasi kesulitan yang lebih berat, merekapun mendapat bantuan air yang dikirim dengan truk-truk tangki bantuan dari pemerintah Kabupaten Mojokerto maupun Provinsi Jawa Timur.

Salah satu warga, Abdurohim, mengaku kondisi ketiadaan air menjadi masalah yang bikin pusing warga. “Kami harus benar-benar berhemat,” ujar Abdurohim saat ditemui saat antre bantunan air di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (30/7/2026).

“Saat musim hujan, air cukup berlimpah. Tampungan air bersama milik dusun dan tong-tong besar yang ada di rumah penuh. Namun hampir dua bulan hujan tidak datang, air di tampungan sudah habis. Kalaupun mau yang harus turun ke bawah sekitar satu kilometer, tapi berat pas membawa ke atasnya,” katanya.

Jeriken milik warga. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Membawa jeriken kosong. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Membawa air bantuan. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Kekeringan di Kecamatan Ngoro bukan fenomena baru. Setiap musim kemarau, sebagian warga mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi geografis yang berada di kawasan perbukitan menyebabkan pasokan air dari sumber alami berkurang saat curah hujan menurun.

Sementara itu, prakiraan BMKG menunjukkan curah hujan di wilayah Mojokerto selama Agustus hingga Oktober 2026 cenderung berada pada kategori rendah dengan sifat hujan di bawah normal. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang periode kekeringan apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan sumber daya air yang memadai.

Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak, menjaga fasilitas penampungan air, serta segera melaporkan kepada pemerintah desa maupun BPBD apabila mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Diharapkan, sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat meminimalkan dampak kekeringan selama musim kemarau 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto telah menetapkan langkah penanganan dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak. Program bantuan air bersih dimulai sejak 22 Juli 2026 dan dijadwalkan berlangsung selama 43 hari hingga 11 September 2026.

Berdasarkan data BPBD, sebanyak 1.499 kepala keluarga (3.053 jiwa) di Desa Kunjorowesi dan 774 kepala keluarga (2.086 jiwa) di Desa Manduro Manggung Gajah terdampak kekeringan. Setiap hari BPBD menyalurkan lima tangki air bersih ke dua desa tersebut, terdiri atas empat tangki untuk Desa Kunjorowesi dan satu tangki untuk Desa Manduro Manggung Gajah. Setiap tangki membawa sekitar 4.500 liter air sehingga total distribusi mencapai sekitar 22.500 liter per hari.

Untuk menghadapi puncak musim kemarau, BPBD Kabupaten Mojokerto juga telah menyiapkan hampir 1.000 tangki air bersih sebagai cadangan apabila jumlah desa terdampak terus bertambah.

Kini warga sedikit bernafas lega, air-air yang didatangkan dengan truk tangki cukup membantu mereka melewati kemarau, walau untuk itu  mereka harus melakukan bermacam penyesuaian dan penghematan hingga musim berganti dan mereka dapat kembali menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

Serial Artikel

Bertahan dengan Bantuan Air Bersih hingga Kemarau Reda

Warga di Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, kembali didera kekeringan akibat kemarau. Warga mengandalkan kiriman bantuan air bersih untuk bertahan hidup selama kemarau.

Baca Artikel

 

 

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jejak Nyata Jokowi Ubah Wajah Flobamora, 20 Triliun Untuk Bangun NTT
• 17 jam lalu
0
thumb
Link Live Streaming Piala AFF 2026: Timor Leste Vs Timnas Indonesia
• 7 jam lalu
0
thumb
Kisah 2 Legenda Sepak Bola yang Pernah jadi Kebanggaan Indonesia, kini Ikon Timor Leste
• 19 jam lalu
0
thumb
Kejagung Lelang 16 Unit Apartemen dan 24 Aset Tanah Senilai Rp129 Miliar Milik Benny Tjokro
• 13 jam lalu
0
thumb
Seribuan Ojol Perempuan di Surabaya Diberi Pendampingan agar Punya Sumber Pendapatan Alternatif
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.