Harga Emas dan Perak Melonjak Lagi, Bandar Yakin Perang Bakal Lama

cnbcindonesia.com
17 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik pada Kamis seiring melemahnya dolar AS dan meredanya inflasi. Pelaku pasar juga mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh tidak memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan moneter.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (30/7/2026) ditutup di posisi US$ 4102,39 per troy ons atau melonjak 0.92%.

Kenaikan ini memperpanjang tren positif emas dengan menguat 1,86% dalam dua hari terakhir.

Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Jumat (31/7/2026) pukul 06.49 WIB ada di posisi US$ 4108,72 per troy ons atau menanjak 0,15%.

Indeks dolar melemah ke 99,86 pada perdagangan Kamis, posisi terendah sejak 16 Juni 2026.

Dolar yang lebih lemah membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri.

Pergerakan harga emas relatif stabil setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) turun 0,1% pada Juni, sesuai dengan perkiraan ekonom dalam survei Reuters. Namun, pelemahan inflasi tersebut diperkirakan hanya sementara karena memanasnya kembali konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak naik.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan data PCE sedikit lebih baik dari perkiraan pasar sehingga kondisi inflasi saat ini relatif stabil.

"Perang di Timur Tengah tampaknya tidak akan segera berakhir. Karena itu, tekanan inflasi yang sempat mereda dalam beberapa bulan terakhir berpotensi kembali muncul," tutur Bart Melek, dikutip dari Refinitiv.

Baca: Perang Memanas: Ini Peta Kekuatan Militer Iran, Irak, Arab Saudi-Mesir

 

Dia menambahkan pasar juga berpandangan bahwa bank sentral pada akhirnya akan merespons kondisi tersebut.

"Hal inilah yang mendorong harga emas menembus level resistensi, yang kami perkirakan berada di kisaran US$4.150 hingga US$4.200 per ons."imbuhnya.

Sehari sebelumnya, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga.

Setelah keputusan tersebut diumumkan, Kevin Warsh menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi, tetapi pernyataannya dinilai belum memberikan gambaran jelas mengenai langkah kebijakan berikutnya. Harga emas spot pun sempat melonjak sekitar 2% setelah keputusan The Fed.

Baca: Nasabah Bullion Melonjak, Fee-Based Income Bisnis Emas BSI Naik 712%

 

Berdasarkan alat FedWatch CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed tanggal 15-16 September turun menjadi 61%, dari sekitar 77% sebelum rapat The Fed.

Suku bunga yang tinggi dalam waktu lama umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, laporan pemerintah AS lainnya menunjukkan klaim pengangguran mingguan naik lebih rendah dari perkiraan, menandakan kondisi pasar tenaga kerja AS masih stabil.

Jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran pertama kali mencapai 197.000 pada pekan yang berakhir 25 Juli 2026. Angka ini naik 9.000 dari level terendah dalam 57 tahun pada pekan sebelumnya, namun masih lebih baik dari perkiraan pasar sebesar 200.000.


(mae/mae)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bupati Cilacap Didakwa Peras Anak Buah Rp 568 Juta Buat THR
• 10 jam lalu
0
thumb
GIIAS 2026: Mitsubishi Umumkan Strategi Global dan Luncurkan Xforce HEV
• 12 jam lalu
0
thumb
Laba Emiten Haji Isam JARR dan PGUN Turun di Paruh Pertama 2026, Ini Penyebabnya
• 1 jam lalu
0
thumb
Pemkot Surabaya Pastikan Lindungi Driver Ojol dengan BPJS Ketenagakerjaan
• 11 jam lalu
0
thumb
Korban Terus Berjatuhan, Koalisi Tier Two Desak Segera Revisi UU PTPPO
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.