Khutbah Salat Jumat Tentang Mitos di Bulan Safar Lengkap dengan Link Rujukan

metrotvnews.com
19 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Bulan Safar kerap dianggap bulan sial bagi umat Muslim. Anggapan tersebut keliru dan mesti diluruskan, salah satunya melalui Khutbah Salat Jumat di mana para umat muslim laki-laki berkumpul.

Bulan Safar bukanlah bulan kesialan, melainkan bagian dari waktu yang Allah Swt. ciptakan untuk memperkuat keimanan. Di antara penguatan keimanan tersebut adalah iman kepada takdir Allah beserta qada dan qadar-Nya.

Melansir mui.or.id, umat Muslim tentu tidak boleh menggantungkan nasib kepada bulan, hari, angka, atau pertanda tertentu. Umat mesti senantiasa berikhtiar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah Swt. dalam menghadapi setiap keadaan.

Berikut naskah khutbah berjudul Menyikapi Mitos di Bulan Safar, lengkap dengan link rujukan.
Isi Khutbah Jumat
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa, yakni takwa yang tidak sekadar di lisan, namun meresap hingga ke dalam lubuk hati yang paling dalam, yang kemudian terwujud dalam segala tindakannya. Senantiasa bersungguh-sungguh dalam melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Demikian inilah ketakwaan yang berlandaskan pada keteguhan iman, sebuah keyakinan kokoh yang menyatakan bahwa seluruh denyut nadi alam semesta, setiap kejadian yang menimpa diri kita, hingga setiap lembar daun yang gugur, semuanya berada dalam kendali mutlak dan ketetapan Allah Swt..

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Mari kita jujur menengok realitas di sekitar kita. Sampai hari ini, kita masih sering mendengar bisik-bisik yang meresahkan, sebuah anggapan yang diwariskan secara turun-temurun bahwa bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan kesialan, bulan yang dianggap “angker” atau dipenuhi dengan bala.

Ada keyakinan keliru yang meyakini bahwa di bulan ini Allah menurunkan musibah secara berlipat ganda ke bumi, sehingga seolah-olah seluruh dunia sedang berada dalam ancaman nasib buruk.

Akibat dari mitos yang tidak berdasar ini, muncullah kecemasan-kecemasan yang tidak beralasan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita melihat banyak orang yang akhirnya menunda hajatan-hajatan penting, merasa was-was dan takut jika harus melangsungkan pernikahan, bahkan ada yang enggan memulai usaha baru, menandatangani kontrak kerja, atau sekadar melakukan perjalanan penting hanya karena takut “salah langkah” di bulan Safar.

Padahal, bayangkan betapa ruginya seorang mukmin jika ia membatasi langkah kebaikannya hanya karena ketakutan terhadap kalender. Kehidupan yang seharusnya dijalani dengan optimisme disertai sikap tawakal kepada Allah, justru menjadi sempit dan penuh ketakutan akibat prasangka-prasangka yang tidak memiliki pijakan dalam Al-Qur'an maupun sunnah Rasulullah saw..

Tidakkah kita menyadari bahwa dengan mengikuti mitos ini, kita secara tidak langsung sedang membiarkan rasa takut kepada bulan mengalahkan rasa takut dan tawakal kita kepada Allah Swt.? Maka berhati-hatilah dalam bersikap.

Hadirin yang Dirahmati Allah,

Ketahuilah bahwa kepercayaan semacam ini bukanlah ajaran Islam, melainkan sisa-sisa jahiliyah yang masih melekat.

Dalam syariat kita, perilaku mengaitkan nasib buruk atau kesialan dengan waktu, tempat, atau makhluk tertentu disebut dengan istilah “tathayyur”. Islam dengan tegas melarang keras praktik ini karena tathayyur hakikatnya adalah bentuk pelemahan terhadap akidah.

Ketika seseorang mempercayai mitos bulan sial, ia sebenarnya sedang “meragukan” kekuasaan Allah Swt. atas takdir yang ditetapkan-Nya. Padahal, baik dan buruknya nasib seorang hamba sepenuhnya berada di bawah kendali Allah Yang Maha Mengatur, bukan ditentukan oleh kalender atau perubahan musim. Dan mempercayai bulan sebagai sumber kesialan adalah bentuk keraguan terhadap ketetapan Allah, yang jika dibiarkan, bisa menggerogoti keteguhan iman.

Sesuai firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an yang berarti:

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Tidak ada satu detik pun atau waktu tertentu yang membawa kesialan. Segala peristiwa yang terjadi di permukaan bumi ini—baik itu berupa kegembiraan yang melimpah maupun ujian yang terasa berat—seluruhnya telah tertulis dengan rapi dalam Lauh Mahfuz jauh sebelum kita diciptakan.

Tidak ada satu musibah pun yang luput dari catatan dan ketetapan Allah, dan tidak ada pula kebahagiaan yang datang tanpa seizin-Nya. Oleh karena itu, sungguh keliru jika kita menyematkan sifat “pembawa sial” pada bulan-bulan tertentu, seolah-olah waktu memiliki kekuatan untuk menentukan nasib manusia di luar kehendak Sang Pencipta.

Rasulullah saw. sebagai pembawa risalah kebenaran, secara tegas telah meruntuhkan dinding-dinding mitos jahiliyah yang selama ini membelenggu pikiran umat manusia. Dalam sabdanya yang mulia, Rasulullah saw. menegaskan:

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada kesialan (tathayyur), tidak ada burung hantu (yang membawa nasib buruk), dan tidak ada kesialan bulan Safar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah pedoman bagi setiap muslim untuk membebaskan hatinya dari segala bentuk rasa was-was terhadap waktu.

Ketika Rasulullah saw. menafikan kesialan bulan Safar, beliau sedang mengajarkan kita untuk meletakkan keyakinan hanya kepada Allah. Jika kita terjebak dalam mitos tersebut, berarti kita sedang membagi ketaatan dan rasa takut kita kepada sesuatu selain Allah.

Mari kita camkan bahwa tidak ada bulan, hari, atau jam yang memiliki kekuatan untuk mencelakakan kita. Dan bahwa satu-satunya yang patut kita takuti adalah saat kita menjauh dari ketaatan kepada-Nya, karena di sanalah letak kerugian dan kesialan yang sesungguhnya.

Jemaah yang dirahmati Allah,

Hadis di atas menghapus mitos bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Islam datang untuk memerdekakan akal manusia dari takhayul. Bagi seorang mukmin, setiap bulan dan setiap waktu adalah kesempatan untuk beramal saleh. Kesialan bukanlah terletak pada nama bulan, melainkan pada kemaksiatan dan kelalaian manusia terhadap perintah Allah.

Islam hadir bukan sebagai agama ritual semata, melainkan sebagai cahaya yang memerdekakan akal manusia dari belenggu takhayul, khurafat, dan mitos-mitos yang melemahkan jiwa.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Islam datang, banyak orang merasa takut melangkah, takut memulai usaha, atau takut melaksanakan pernikahan hanya karena prasangka terhadap waktu tertentu. Namun, Islam datang untuk menegaskan bahwa kemuliaan manusia terletak pada akal yang jernih dan kesucian iman.

Bagi seorang mukmin yang hakiki, tidak ada hari yang buruk, tidak ada bulan yang sial, dan tidak ada waktu yang membawa bencana. Setiap detik yang berputar, setiap pergantian bulan, dan setiap helaan napas adalah kesempatan emas untuk menanam benih amal saleh. Sebab, bukankah memang waktu adalah titipan Allah yang setiap detiknya harus diisi dengan ketaatan?

Ilustrasi salat (MI/Andri Widiyanto)


Sekali lagi, ketahuilah, wahai jemaah sekalian, bahwa sumber kesialan yang sesungguhnya bukanlah terletak pada nama bulan atau posisi bintang, melainkan terletak pada kemaksiatan, dosa, dan kelalaian manusia itu sendiri terhadap perintah Allah.

Kemaksiatanlah yang menyempitkan hati, menghalangi datangnya keberkahan, dan mendatangkan musibah dalam hidup. Maka, alih-alih takut akan mitos bulan tertentu, marilah kita lebih takut jika di setiap waktu yang kita lalui, kita luput dari syukur dan jauh dari ingat kepada Allah SWT. Ubahlah ketakutan kita terhadap mitos menjadi ketakutan akan hilangnya kesempatan untuk berbuat baik.

Seorang hamba yang beriman tidak akan pernah menggantungkan nasibnya pada hitungan hari yang dianggap buruk, tidak akan gemetar karena mitos kesialan, dan tidak akan berputus asa hanya karena prasangka terhadap waktu tertentu.

Kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa tidak ada satu pun nasib buruk yang bisa menimpa kita tanpa seizin Allah, dan tidak ada pula waktu yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan bala atau bencana.

Segala mitos yang tumbuh di tengah masyarakat dan tidak memiliki sandaran dalam agama hanyalah bisikan yang melemahkan iman. Maka, kita harus membersihkan akal dan hati kita dari segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah. Lalu sepenuhnya kita gantungkan seluruh nasib, harapan, serta langkah hidup kita hanya kepada Dzat yang Maha Mengatur seluruh urusan dunia dan akhirat.

Seperti firman Allah Swt. yang artinya:

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Ingatlah, bahwa setiap detik kehidupan kita adalah milik Allah. Jika Allah menguji kita dengan kesulitan, dengan sempitnya rezeki, atau dengan beban hidup yang terasa menghimpit, janganlah mencari pelarian yang sia-sia. Kembalilah kepada Allah, rangkullah kesulitan itu dengan doa yang tulus dan kesabaran yang indah.

Kemudian, saat Allah melimpahkan kesenangan, kebahagiaan, serta nikmat yang tak terhingga, jangan biarkan diri kita terbuai hingga lupa diri. Kembalilah kepada Allah dengan sujud syukur, karena kita sadar sepenuhnya bahwa setiap kebaikan yang menyentuh hidup kita adalah karunia dari-Nya semata.

Jadikanlah petunjuk agama sebagai kompas kehidupan kita. Biarlah hati kita hanya bergetar karena takut kepada Allah, dan biarlah jiwa kita hanya tenang karena berharap penuh kepada-Nya.

Dengan cara inilah, tidak akan ada lagi bulan yang kita takuti, tidak ada lagi nasib buruk yang kita cemaskan. Sebab kita tahu persis bahwa selama Allah bersama kita, tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang dapat mencelakakan kita kecuali atas izin-Nya.

Semoga Allah Swt. senantiasa menetapkan hati kita dalam iman, menjaga langkah kita dalam ketaatan, dan mengumpulkan kita semua dalam keridhaan-Nya di dunia hingga akhirat nanti.

Baca Juga :

7 Negara dengan Populasi Muslim Terbesar di Dunia, Indonesia Teratas

Jemaah Salat Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup dari khutbah ini, mari kita ikat kembali komitmen hati kita untuk senantiasa memperkuat iman. Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan berbagai mitos yang mencoba menggoyahkan keyakinan, satu-satunya jangkar yang akan menjaga kita tetap teguh adalah menggantungkan seluruh harapan dan perlindungan hanya kepada Allah SWT.

Jangan biarkan hati kita bercabang. Jangan biarkan arah tujuan kita melenceng kepada selain-Nya. Sebab hanya kepada Allah-lah kita patut bergantung dalam segala hal.


Bagi para khatib yang akan menggunakan khutbah di atas bisa langsung melihat teks arab dengan mengakses link di sini.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kepala BSKDN Ajak Bantul Bangun Ekosistem Inovasi dari Sekolah hingga Perguruan Tinggi
• 3 jam lalu
0
thumb
Pemkab Tulang Bawang Hibahkan Lahan 19,1 Hektare, SNT Pertama di Lampung Segera Dibangun
• 12 jam lalu
0
thumb
BTN Salurkan 30 Ribu Rumah Subsidi dalam Akad Massal KPR FLPP di Batang
• 13 jam lalu
0
thumb
Prabowo Sebut Perut Lapar Jadi Persoalan Mendasar Bangsa Indonesia
• 9 jam lalu
0
thumb
Tom Holland Mengungkap Proses Penyuntingan "Spider-Man: Brand New Day" yang Berubah Berkali-kali
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.