Dampak Kekeringan Bekasi, Anak-anak Cibarusah Sering Telat Sekolah karena Mandi di Kali

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Anak-anak Kampung Pamoyanan, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mandi di kali karena krisis air bersih akibat kemarau

Mereka juga sering telat berangkat sekolah karena mandi di kali sejak habis subuh.

"Anak jadi sering telat sekolah, soalnya kan mereka juga ikut mandi di kali. Biasanya subuh sudah berangkat, pulangnya sekitar jam 07.30, itu juga kalau enggak antre," ujar Iin (33), warga Sirnajati, kepada Kompas.com, Kamis (30/7/2026).

Baca juga: Kekeringan Landa Cibarusah Bekasi, Warga Antre Air Bersih Berjam-jam hingga Ambil ke Kali

Iin mengatakan, keluarganya telah mengalami krisis air bersih selama sekitar empat bulan.

Selama itu, sumur di rumahnya nyaris tidak lagi mengeluarkan air sehingga warga terpaksa mengandalkan Kali Tegakadu-Leuwi Kacapi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk mencapai kali tersebut, warga harus berjalan kaki sekitar satu jam atau menempuh perjalanan 15 hingga 20 menit menggunakan sepeda motor.

KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Sejumlah warga mengantre membawa jeriken, ember, dan galon bekas untuk mendapatkan bantuan air bersih di Kampung Pamoyanan, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Kamis (30/7/2026).

Menurut Iin, air dari kali digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan, hingga mencuci beras.

Sementara untuk kebutuhan air minum, keluarganya membeli air galon isi ulang.

"Kalau minum mah beli air galon. Ini juga nyuci baju kadang dua hari sekali. Soalnya jauh, dan bajunya dikumpulin dulu biar enggak capek bolak-balik," ujarnya.

Baca juga: Ekonomi Sudah Susah, Masak Harus Keluar Uang Beli Air Saat Warga Bekasi Dilanda Kekeringan

Ia menuturkan, aktivitas mengambil air dan mandi di kali setiap harinya selalu dimulai sejak habis subuh.

Meski datang pagi-pagi, warga tetap harus mengantre karena sumber air tersebut juga dimanfaatkan masyarakat dari wilayah perbatasan Kabupaten Bogor.

Tak hanya pada pagi hari, Iin juga kerap kembali ke kali setelah mengantar anaknya ke sekolah untuk mengambil air bagi kebutuhan rumah tangga.

"Berangkat sekitar jam satu siang, pulangnya jam tiga. Sebenarnya takut mandi di kali. Tapi mau gimana lagi, kalau enggak ke kali ya enggak mandi," tuturnya.

KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Sejumlah warga mengantre membawa jeriken, ember, dan galon bekas untuk mendapatkan bantuan air bersih di Kampung Pamoyanan, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Kamis (30/7/2026).

Menurut Iin, selama ini warga mengandalkan air hujan untuk mengisi sumur.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun, selama empat bulan terakhir hujan jarang turun sehingga sumur di rumahnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
OTT Kerap Menyasar Bupati, Pimpinan KPK: Bukan Berarti di Level Gubernur Gak Ada
• 8 jam lalu
0
thumb
Anak Ketua Yayasan Daycare Little Aresha 2 Kali Mangkir Diperiksa: di Australia
• 9 jam lalu
0
thumb
AFC Tolak Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia ke Swasta: Merusak Fondasi Sepak Bola Kontinental
• 2 jam lalu
0
thumb
Bethsaida Hospital Gading Serpong Hadirkan Urology dan Nephrology Clinic
• 13 jam lalu
0
thumb
Setelah Patah Hati Kalah di Final Piala Dunia, Messi Kembali Berlatih di Inter Miami
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.