Biaya Produksi Naik, Laba TLDN Turun Jadi Rp543,65 Miliar di Semester I

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Teladan Prima mencatatkan penurunan laba bersih 3,14 persen menjadi Rp543,65 miliar hingga Juni 2026.

Biaya Produksi Naik, Laba TLDN Turun Jadi Rp543,65 Miliar di Semester I (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) mencatatkan penurunan laba bersih 3,14 persen menjadi Rp543,65 miliar pada semester I-2026 imbas kenaikan biaya produksi.

Namun, pendapatan perseroan tercatat meningkat 6,5 persen menjadi Rp2,71 triliun dari posisi Rp2,55 triliun di semester I-2025. Kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya volume penjualan serta harga jual rata-rata produk utama berupa crude palm oil (CPO), palm kernel (PK), dan crude palm kernel oil (CPKO). 

Baca Juga:
Emiten Sawit (TLDN) Bagikan Dividen Interim 35,8 Persen dari Laba, Nilainya Rp200 Miliar

"Pertumbuhan pendapatan yang diikuti dengan terjaganya profitabilitas menjadi hasil dari konsistensi kami dalam meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan efisiensi operasional, serta menjaga kualitas aset perkebunan di tengah dinamika industri kelapa sawit," ujar Direktur Utama TLDN, Wishnu Wardhana dalam keterangan resminya, Kamis (30/7/2026). 

Secara rinci, pendapatan dari penjualan CPO tercatat sebesar Rp2,32 triliun, tumbuh 4,6 persen secara tahunan (year-on-year). 

Baca Juga:
Teladan Prima (TLDN) Bagi Dividen Final Rp500,38 Miliar, Ini Jadwalnya

Penjualan PK menyumbang Rp227,01 miliar, didukung oleh peningkatan volume penjualan sebesar 5,3 persen dan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 9,3 persen, dan penjualan CPKO berkontribusi sebesar Rp158,02 miliar. 

Meskipun menghadapi kenaikan biaya produksi, khususnya dari pembelian tandan buah segar (TBS) pihak ketiga serta biaya pemeliharaan, perseroan tetap membukukan laba kotor sebesar Rp960,50 miliar, EBITDA sebesar Rp904,30 miliar. 

Baca Juga:
Bangun Pabrik hingga Akuisisi, Emiten Sawit (TLDN) Siapkan Capex Rp600 Miliar

Dari sisi operasional, produksi TBS kebun inti naik 1,5 persen menjadi 552.631 ton, sedangkan produksi TBS kebun plasma tumbuh 10,5 persen menjadi 83.382 ton. Total TBS yang diolah meningkat 4,7 persen menjadi 734.369 ton. 

Sejalan dengan itu, produksi CPO naik 6,6 persen menjadi 169.881 ton dengan Oil Extraction Rate (OER) mencapai 23,13 persen. Adapun produksi PK tercatat sebesar 27.622 ton dan CPKO sebesar 6.780 ton.
  
Wishnu menjelaskan, peningkatan ini didukung oleh penerapan Teladan Productivity Technology Science (TPTS) berbasis data serta pengembangan Teladan Green Metrics (TGM) untuk aspek Environmental, Social, and Governance (ESG). 

"Memasuki paruh kedua tahun 2026, perseroan akan terus berfokus pada peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, serta implementasi praktik perkebunan berkelanjutan. Dengan fundamental operasional yang kuat dan disiplin dalam menjalankan strategi bisnis, kami optimistis dapat terus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan," tutur Wishnu.

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dokter Tifa Kembali Didakwa, Prabowo Disebut Terikat ‘Utang Budi’ di Kasus Ijazah
• 12 jam lalu
0
thumb
Dasco Kaji Survei SMRC, Sebut Penurunan Kepuasan Prabowo Jadi Evaluasi
• 4 jam lalu
0
thumb
Perajin Batik Semarang Mencari Nilai Tambah
• 6 jam lalu
0
thumb
Honda Cuma Jual 100 Unit Super-One di Indonesia
• 11 jam lalu
0
thumb
Radio Suara Surabaya Terima Enam Laporan Kehilangan Motor Hari Ini
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.