Upaya memperkuat daya saing batik Semarang tidak hanya ditempuh melalui peningkatan keterampilan membatik, tetapi juga dengan membangun identitas motif yang kuat. Sebanyak puluhan perajin mengikuti pelatihan batik tulis unggulan di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kota Semarang untuk memperdalam teknik produksi sekaligus mengembangkan desain berbasis ikon lokal.
Selama sepekan, para peserta mempelajari seluruh tahapan membatik, mulai dari perancangan motif hingga proses penyelesaian. Mereka juga diajak mengeksplorasi berbagai ikon Kota Semarang, seperti Warak Ngendog, Kelenteng Sam Poo Kong, lampion, hingga motif naga, sebagai inspirasi desain agar batik Semarang memiliki kekhasan dan unik, Kamis (30/7/2026).
Instruktur pelatihan dari Batik Mutiara Hati, Rudjiman Slamet, mengatakan pelatihan tersebut ditujukan untuk mendorong usaha batik skala kecil agar mampu menghasilkan produk dengan kualitas lebih baik dan menyasar pasar yang lebih luas.
"Materinya batik tulis unggulan untuk pasar berkelas. UKM pembatik kami dorong supaya naik kelas melalui pengembangan model dan warna yang menjadi ciri Semarang," katanya. Menurut Rudjiman, penguatan identitas daerah menjadi salah satu strategi penting.
Hal ini dilakukan agar batik Semarang memiliki keunikan tersendiri dari daerah lain. Peserta didorong menerjemahkan berbagai simbol yang lekat dengan Kota Semarang menjadi motif batik yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual.
Kelompok pembatik dari kampung tematik mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mereka. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Pengembangan produk yang tidak sebatas pakaian. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Ketelitian dan ketekunan perajin saat menggoreskan cantingnya. KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Mayoritas peserta bukan pembatik pemula. Mereka telah memproduksi batik secara mandiri di rumah, namun masih membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas desain maupun hasil produksinya. "Harapannya kualitas meningkat, produksinya juga berkembang sehingga mereka benar-benar bisa naik kelas," tambah Rudjiman.
Materi yang diberikan lebih banyak berfokus pada aspek teknis pembuatan batik, sedangkan penguatan pemasaran menjadi bagian dari pembinaan yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang. Meski demikian, sebagian perajin telah mulai memanfaatkan pemasaran digital maupun penjualan langsung untuk memperluas pasar.
Salah seorang peserta, Istiari, perajin batik dari Kampung Durenan Indah, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, mengaku pelatihan tersebut memperkaya pengetahuan yang selama ini telah dimiliki para perajin di kampungnya.
Di Kampung Durenan Indah terdapat sekitar 30 perajin batik yang selama ini mengembangkan batik sebagai bagian dari kampung tematik. Melalui pelatihan itu, mereka diperkenalkan pada tahapan pengembangan batik menuju kategori unggulan, termasuk pengembangan motif kontemporer tanpa meninggalkan identitas lokal.
"Selama ini kami lebih banyak membuat motif klasik. Di sini kami belajar mengembangkan motif kontemporer dengan tetap mengangkat ikon-ikon Semarang, termasuk motif naga hijau," kata Istiari.
Penguatan keterampilan, eksplorasi motif lokal, dan peningkatan mutu produksi menjadi bagian dari upaya membangun daya saing batik Semarang. Dengan identitas yang semakin kuat, batik Semarang diharapkan tidak hanya dikenal sebagai produk kerajinan, tetapi juga mampu menjangkau pasar dengan nilai tambah yang lebih tinggi.






Komentar (0)