Bertahan dengan Bantuan Air Bersih Hingga Kemarau Reda

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Deru mesin pompa air pada truk tangki air milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali yang mulai dinyalakan mengoyak suasana tenang di Dusun Bogor Kopen, Desa Bojong, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026) siang. Suara yang telah dinanti-nanti sejak pagi hari itu sontak mengundang warga di sekeliling tempat penampungan air itu keluar rumah sembari membawa wadah air masing-masing.

Kedatangan truk tangki berkapasitas 8.000 liter air itu membuat warga kembali bersemangat. Bantuan air bersih tersebut seolah menjadi oasis bagi dusun yang kembali didera kekeringan selama dua bulan terakhir.

Warga beramai-ramai mengambil bantuan air bersih di Dusun Bogor Kopen.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Warga membawa wadah untuk membawa pulang air ke rumahnya.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Kedatangan truk tangki berisi air bersih bantuan menjadi hal yang dinanti oleh warga Dusun Bogor Kopen.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

“Susahnya jadi orang desa yang kesulitan air. Kami jadi kumal, tidak bisa glowing seperti orang-orang kota,” canda warga lansia Rika dengan sejumlah tetangganya saat sama-sama mengisi wadah air mereka. Meski harus sangat tergantung dengan bantuan air bersih dari berbagai pihak, mereka tetap mensyukuri kehidupan mereka di kawasan yang selalu mengalami kekeringan setiap tahun itu.

“Warga di sini biasanya hanya mandi satu kali sehari,” tutur Mita, keponakan Rika. Hal itu demi menghemat air yang semakin sulit diperoleh.

Desa Bojong berada di wilayah Kecamatan Wonosegoro, berjarak sekitar 41 kilometer dari pusat Kabupaten Boyolali. Kecamatan itu merupakan salah satu wilayah yang mengalami kekeringan terparah di kabupaten tersebut dengan jumlah terdampak mencapai 1.925 jiwa.

BPBD Kabupaten Boyolali pun menyiapkan sekitar 1,25 juta liter air bersih untuk menanggulangi dampak kekeringan pada tahun ini. Hingga akhir Juli 2026, instansi tersebut telah menyalurkan lebih dari 200.000 liter air bersih ke berbagai desa di Boyolali yang terkena dampak kekeringan.

Bantuan air bersih itu biasa digunakan warga untuk mandi, mencuci, dan memberi minum ternak. Kebutuhan air untuk minum diperoleh dari beberapa sumur yang sangat jarang terdapat di dusun itu.

Menurut Kepala Dusun Bogor Kopen Aminantoro, air bersih yang layak minum susah diperoleh meski telah digali menggunakan sistem sumur bor hingga kedalaman sekitar 100 meter. Jika harus membeli air bersih, harganya mencapai Rp 400.000 per 4.000 liter di mana hal tersebut memberatkan warga yang mayoritas petani.

Tohari (70) mengambil air dari ceruk pada dasar sungai di Dusun Bogor Kopen.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Sejumlah ceruk dibuat untuk mendapatkan air jernih dari dasar sungai.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Tohari menggunakan sepeda motornya untuk mengangkut air dari dasar sungai.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Menunggu kiriman bantuan air bersih pun menjadi andalan utama bagi warga Wonosegoro yang terdampak kekeringan. Sebagian di antaranya bahkan sampai harus menggali ceruk pada dasar sungai untuk memperoleh air bersih yang sangat dibutuhkan.

Tohari (70), misalnya, setiap hari mengangkut air yang ia ciduk dari dasar sungai di Dusun Bogor Kopen agar keluarganya dapat mandi dan mencuci. “Air ini paling hanya bisa diambil hingga dua minggu lagi. Setelah itu, seluruh dasar sungai ini sudah mengering,” ujar Tohari sembari menciduk air dan memasukkannya ke jeriken berwarna biru.

Meski sudah mengalami kekeringan selama beberapa minggu, warga menyebut bahwa fenomena tersebut baru permulaan. “Puncak kekeringan biasanya nanti saat akhir bulan Agustus,” kata Tohari.

Instalasi saluran air bersih sebenarnya sudah tersedia di sebagian kawasan dusun itu. Namun, saluran tersebut tidak berfungsi maksimal dan warga masih harus mengandalkan kiriman bantuan air bersih.

Deretan botol bekas tempat air mineral dan jeriken di sejumlah titik tempat penampungan air sudah menjadi pemandangan biasa di dusun itu setiap bulan Juni – Oktober. Kekeringan akibat musim kemarau yang mendera setiap tahun membuat warga setempat selalu berusaha untuk tangguh dan bertahan hidup.

Baca JugaMenyedot Selang untuk Mengalirkan Air
Baca JugaKampung yang Kembali Muncul Saat Musim Kemarau
Baca JugaKobak Semakin Dangkal, Warga Cidokom Menunggu Bantuan Air Bersih
Baca JugaMencari Air Bersih sampai Kelengar di Kaki Gunung Batur, Cilegon


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kepuasan Publik Terhadap Pemerintahan Prabowo 51 Persen, Istana: Kita Kerja, Bukan Cari Survei!
• 2 jam lalu
0
thumb
Anggota DPRD Medan Ditetapkan Tersangka Usai Diduga Keroyok Tetangga
• 23 jam lalu
0
thumb
Dr. Rio Christiawan Dorong Edukasi ESG Lintas Generasi, dari Cerita Anak hingga Film Animasi
• 1 menit lalu
0
thumb
APKASI Usul Gaji Kepala Daerah Disesuaikan, Tugas dan Tanggung Jawab Makin Berat
• 5 jam lalu
0
thumb
Laba RISE Menanjak 273 Persen, Segmen Kawasan Industri dan Logistik Jadi Kontributor Terbesar
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.