Jakarta, CNBC Indonesia - Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah alias tabungan negara pada 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Pada 2025 nilai SAL awal tercatat sebesar Rp457,54 triliun. Lalu, menyusut Rp19,28 triliun atau setara 4,21% menjadi Rp438,26 triliun berdasarkan catatan SAL akhir.
Pada 2024, turunnya terbilang jauh lebih rendah yakni dari SAL awal Rp459,49 triliun, menyusut Rp1,95 triliun atau sekitar 0,42% menjadi Rp457,54 triliun dalam catatan SAL akhirnya.
"Dengan demikian, SAL Akhir pada 31 Desember 2025 mengalami penurunan sebesar Rp19.277.706.151.687 atau 4,21% dibandingkan dengan dari SAL Akhir 31 Desember 2024," sebagaimana tertulis dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK atas LKPP 2025, Rabu (29/7/2026).
Berdasarkan rincian dalam Laporan Perubahan SAL, penyebab utama derasnya penyusutan SAL 2025 adalah melonjaknya penggunaan SAL sebagai sumber penerimaan pembiayaan tahun berjalan, yakni untuk menambal defisit APBN.
Pada 2025, pemerintah menggunakan SAL sebagai penerimaan pembiayaan sebesar Rp93,15 triliun, melonjak 65,2% dibandingkan tahun 2024 yang hanya Rp56,38 triliun. Artinya, pemerintah menarik dana simpanan dari SAL jauh lebih besar untuk membiayai belanja negara pada tahun anggaran 2025.
Penarikan sebesar itu memang sebagian tertutup oleh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun berjalan yang juga naik, dari Rp45,73 triliun pada 2024 menjadi Rp72,40 triliun pada 2025, atau tumbuh 58,3%. SiLPA ini pada dasarnya mengembalikan sebagian dana ke SAL karena realisasi pembiayaan tahun berjalan ternyata lebih rendah dari yang direncanakan.
Namun, karena penarikan SAL untuk pembiayaan jauh lebih besar ketimbang kenaikan SiLPA, dampak bersih dari dua pos ini saja membuat SAL setelah penggunaan tergerus Rp20,75 triliun pada 2025 yakni dari Rp 457,54 triliun menjadi Rp 436,79 triliun, dibandingkan hanya tergerus Rp10,65 triliun pada 2024 dari Rp 459,49 triliun menjadi Rp 448,84 triliun.
Faktor kedua yang membuat penyusutan SAL 2025 lebih dalam adalah mengecilnya nilai koreksi pembukuan yang biasanya menambah kembali saldo SAL. Pada 2024, total penyesuaian pembukuan (seperti koreksi SiLPA, koreksi kurs, koreksi kas BUN, dan sejenisnya) mencapai Rp9,29 triliun. Namun pada 2025, angka koreksi ini hanya Rp2,13 triliun, atau susut lebih dari Rp7 triliun.
Dengan kata lain, tambahan dari koreksi pembukuan yang biasanya turut menahan penurunan SAL, tahun ini jauh lebih tipis, sehingga penyusutan SAL akhir menjadi semakin dalam.
Melalui uraian itu, maka total Rp19,28 triliun SAL yang telah terpakai selama 2025 merupakan hasil dari penggunaan SAL sebagai penerimaan pembiayaan tahun berjalan yang sebesar Rp 93,15 triliun dan penyesuaian perhitungan catatan SAL Rp 653,68 miliar. Penggunaan dan penyesuaian itu lalu ditambal oleh SiLPA tahun berjalan Rp 72,40 triliun serta Rp 2,13 penyesuaian pembukuan.
Dalam rincian perhitungan fisik SAL akhir, juga terlihat total SAL sebelum penyesuaian perhitungan fisik tercatat anjlok tajam, dari Rp458,49 triliun pada 2024 menjadi hanya Rp232,81 triliun pada 2025, hampir separuhnya hilang.
Komponen yang paling besar penurunannya adalah Saldo Akhir Kas Bendahara Umum Negara (BUN), yang turun dari Rp350,03 triliun pada 2024 menjadi Rp150,55 triliun pada 2025, atau anjlok Rp199,48 triliun sekitar 57%.
Kas pada Badan Layanan Umum (BLU) yang sudah disahkan juga turun dari Rp96,97 triliun menjadi Rp80,03 triliun, susut Rp16,94 triliun.
Sementara saldo kas hibah di kementerian/lembaga yang sudah disahkan anjlok drastis dari Rp10,55 triliun menjadi hanya Rp1,14 triliun, turun 89,2%.
Kendati Kas BUN turun tajam, penurunan itu tidak sepenuhnya berarti hilang dari kas pemerintah. Dalam pos penyesuaian perhitungan fisik SAL, muncul item baru yang tidak ada pada 2024, yaitu Penempatan Dana di Bank Umum senilai Rp206 triliun.
Pos ini menjadi penambah dalam perhitungan fisik SAL, sehingga sebagian besar dana yang hilang dari Kas BUN sebenarnya dipindahkan menjadi penempatan atau deposito di bank-bank umum, bukan langsung dibelanjakan seluruhnya.
Total penyesuaian perhitungan fisik SAL pada 2025 pun berbalik menjadi positif Rp205,46 triliun, jauh berbeda dari 2024 yang justru negatif Rp941,88 miliar. Penempatan dana di bank umum inilah yang menjadi penyumbang utama pembalikan tersebut.
(arj/arj)





Komentar (0)