Algoritma Media Sosial Mengendalikan Percakapan Manusia

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Percakapan hari ini tidak lagi murni terjadi antara dua manusia yang duduk berhadapan atau bertukar pesan dengan niat sendiri. Ada pihak ketiga yang diam-diam ikut campur, algoritma. Ia tidak bicara, tapi ia menentukan siapa yang lebih dulu kita balas, unggahan mana yang kita lihat, bahkan topik apa yang tiba-tiba "kebetulan" muncul di beranda setelah kita membicarakannya di grup WhatsApp semalam.

Dari sinilah opini ini bermula bahwa percakapan manusia, yang dulunya spontan dan personal, kini diam-diam dikendalikan oleh sistem yang dirancang bukan untuk mendekatkan kita, melainkan untuk membuat kita betah menatap layar.

Algoritma Media Sosial dan Ilusi Kendali

Kita sering merasa sedang mengendalikan gawai, padahal yang terjadi justru sebaliknya. Setiap kali membuka Instagram untuk sekadar membalas satu pesan, kita bisa keluar tiga puluh menit kemudian tanpa sadar telah menonton belasan video yang tidak pernah kita cari.

Fenomena ini bukan kebetulan. Konsep yang pernah dipopulerkan aktivis internet Eli Pariser secara tidak langsung menjelaskan bahwa mesin pencari dan media sosial menyaring informasi berdasarkan riwayat perilaku kita, sehingga tanpa disadari kita terjebak dalam gelembung realitas yang isinya hanya hal-hal yang sudah kita sukai atau setujui sebelumnya.

Dalam konteks percakapan sehari-hari, ini berarti obrolan kita dengan orang lain pun ikut terarahkan kita cenderung membagikan hal yang sama, membicarakan topik yang sama, karena itulah yang terus disodorkan kepada kita. Seolah kita bebas memilih, padahal pilihan itu sudah disiapkan lebih dulu oleh sistem.

Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang bertanya kepada temannya soal resep MPASI di grup Facebook. Tak lama, beranda Instagram dan TikTok-nya dipenuhi konten seputar bayi, meskipun ia tidak pernah mengetik apa pun di kolom pencarian.

Obrolan pribadi yang seharusnya cair dan spontan itu justru menjadi data yang diolah untuk memprediksi apa yang "layak" ia lihat berikutnya. Kendali percakapan pun bergeser, dari manusia ke mesin.

Ketika Layar Menggantikan Tatap Muka

Perubahan paling terasa ada pada kualitas interaksi itu sendiri. Dulu, ngobrol berarti menatap wajah lawan bicara, menangkap nada suara, membaca ekspresi wajah yang tak bisa dibohongi. Sekarang, banyak percakapan penting justru berlangsung lewat teks singkat, emoji, atau pesan suara yang diputar sambil menyetir.

Psikolog sekaligus profesor Sherry Turkle dari Massachusetts Institute of Technology secara tidak langsung mengingatkan bahwa kehadiran gawai yang terus-menerus di tengah interaksi tatap muka membuat manusia semakin terampil "berbicara" namun kehilangan kemampuan untuk benar-benar "bercakap-cakap" dengan penuh perhatian, karena perhatian kita terpecah antara orang di depan mata dan dunia maya yang seolah selalu menawarkan sesuatu yang lebih menarik.

Contoh paling gampang ada di meja makan keluarga. Orang tua dan anak duduk berdekatan, tapi masing-masing menunduk ke layar sendiri. Secara fisik dekat, secara psikologis jauh.

Bahkan istilah "phubbing", yaitu mengabaikan lawan bicara demi ponsel, sudah menjadi bagian normal dari budaya kita. Ironisnya, platform yang katanya dibuat untuk "menghubungkan" orang, justru pelan-pelan menciptakan jarak baru yang lebih sulit disadari karena tidak terlihat secara kasat mata.

Algoritma sebagai Sutradara Diam-Diam

Bagian yang paling perlu diwaspadai adalah bagaimana algoritma tidak sekadar menyaring konten, tetapi juga membentuk emosi dan opini publik secara masif.

Peneliti media sosial Zeynep Tufekci secara tidak langsung menjelaskan bahwa sistem rekomendasi platform digital dirancang untuk memaksimalkan waktu tonton dan keterlibatan pengguna, sehingga konten yang cenderung memicu emosi kuat, baik itu marah, takut, atau kagum, akan lebih diprioritaskan dibanding konten yang netral atau membosankan meski lebih akurat.

Dalam praktiknya, ini menjelaskan mengapa perdebatan di kolom komentar sering terasa lebih panas dari yang seharusnya, atau mengapa isu-isu kontroversial cepat sekali viral dibanding kabar baik yang biasa-biasa saja.

Kita bisa melihatnya sendiri saat ada isu politik atau bencana. Video atau utas yang paling banyak dibagikan biasanya bukan yang paling lengkap datanya, melainkan yang paling memancing amarah atau rasa penasaran.

Percakapan warganet pun ikut terseret arus itu, saling menyerang di kolom komentar, padahal boleh jadi mereka semua sepakat jika bicara empat mata tanpa tekanan algoritma yang terus mendorong konten paling provokatif ke permukaan.

Mungkin yang perlu kita rebut kembali bukan sekadar privasi, melainkan kedaulatan atas percakapan kita sendiri. Sebab ketika algoritma terlalu jauh menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, dan bicarakan, hubungan antarmanusia perlahan berubah menjadi komoditas perhatian. Teknologi akan tetap berkembang, tetapi keputusan untuk berbicara dengan utuh dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh tetap berada di tangan manusia


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
LPEI Memproyeksikan Ekspor Tekstil Nasional Tumbuh hingga 4 Persen pada 2027
• 14 jam lalu
0
thumb
Mulai 1 Agustus, Bantargebang Hentikan Open Dumping, Apa Dampaknya bagi Warga Jakarta?
• 6 jam lalu
0
thumb
Srikandi Merdeka Cup 2026: Turnamen Sepak Bola Putri Internasional Siap Digelar di Kudus
• 22 jam lalu
0
thumb
Indonesia Menjadi Juara Umum Kategori Senior World Cup Woodball Championship 2026 di Malaysia
• 15 jam lalu
0
thumb
30 Juli Hari Ikrar Gerakan Pramuka, Ini Sejarah dan Ucapan Perayaannya
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.