Indeks Bursa Korsel Kospi Anjlok 34% Sebulan, IHSG Potensi Tadah Inflow Asing?

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Indeks saham Korea Selatan atau KOSPI memasuki tren bearish (balik arah usai naik) setelah anjlok dalam sebulan terakhir. Penurunan itu diperkirakan akan membayangi tekanan kepada pasar saham regional, termasuk Indonesia. Kendati demikian, banyaknya arus dana asing yang keluar dari Kospi belum berarti langsung beralih masuk ke pasar saham regional. 

Pada perdagangan Kamis (30/7), indeks KOSPI turun 1,26% atau 71,45 poin ke level 5.592,79. Dalam lima hari perdagangan terakhir saja, indeks merosot 20,13%, sementara anjlok 34,03% dalam sebulan perdagangan.

Padahal, sebelum memasuki fase koreksi, KOSPI sempat mencatat reli panjang. Sejak awal tahun hingga 22 Juni 2026, KOSPI meroket 111,51% dan mencapai rekor tertinggi (all time high) di level 9.385.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, koreksi tajam KOSPI memang perlu diwaspada bagi pelaku pasar Indonesia. Namun dia melihat dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak bersifat langsung.

Menurut Nafan, turunnya indeks KOSPI dipicu aksi ambil untung atau profit taking pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, terutama Samsung Electronics dan SK Hynix yang disertai deleveraging serta arus keluar dana asing. Kondisi tersebut meningkatkan sentimen risk-off di kawasan Asia sehingga investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Namun, Nafan menilai dana asing yang keluar dari Korea Selatan tidak otomatis berpindah ke Indonesia.

"Arus keluar dari Korea tidak selalu berujung menjadi arus masuk ke pasar saham negara berkembang lain," kata Nafan kepada Katadata.co.id, Kamis (30/7).

Menurut dia, dalam kondisi risk-off, investor global umumnya memilih meningkatkan posisi kas atau mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat, dibandingkan masuk ke pasar saham negara berkembang lainnya.

Apalagi investor asing masih mencatatkan net sell atau aksi jual bersih di saham Indonesia, Namun, Nafan mengatakan net sell selama ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik.

Beberapa faktor yang masih menjadi perhatian investor antara lain likuiditas pasar, isu klasifikasi indeks global seperti MSCI dan FTSE, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan pemerintah. Karena itu, aksi jual bersih asing di IHSG lebih mencerminkan belum pulihnya kepercayaan terhadap faktor domestik.

Meski demikian dia melihat peluang masuknya dana asing ke Indonesia tetap terbuka apabila volatilitas di Korea mulai mereda. 

Menurut Nafan, investor global berpotensi melakukan rotasi portofolio ke pasar dengan valuasi yang lebih murah dan fundamental ekonomi yang lebih stabil, termasuk Indonesia. Namun, kondisi tersebut baru dapat terjadi jika tekanan jual global mereda, minat terhadap aset berisiko kembali meningkat, serta sentimen terhadap pasar modal Indonesia membaik.

"Dengan demikian, potensi inflow ke Indonesia lebih mungkin terjadi setelah fase kepanikan mereda, bukan ketika aksi jual di Korea masih berlangsung," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama. Menurut dia, koreksi tajam KOSPI mencerminkan meningkatnya kehati-hatian (risk aversion) investor global setelah reli panjang yang terjadi sebelumnya.

Kondisi tersebut berpotensi memberi sentimen negatif bagi bursa regional, termasuk Indonesia, karena investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko secara bersamaan.

Namun, Elandry menyatakan keluarnya dana asing dari Korea Selatan tidak otomatis menjadi aliran modal masuk ke Indonesia. Pergerakan arus modal tetap bergantung pada daya tarik masing-masing pasar, mulai dari valuasi, prospek pertumbuhan ekonomi, stabilitas kebijakan, hingga tingkat likuiditas.

Saat ini Indonesia sendiri masih mencatatkan foreign net sell yang menunjukkan investor asing masih berhati-hati terhadap pasar domestik.

Karena itu, menurut Elandry, dampak yang lebih mungkin terjadi dalam jangka pendek adalah meningkatnya volatilitas di IHSG, bukan perpindahan dana asing secara langsung dari Korea Selatan ke Indonesia.

Ke depan menurut dia arah arus modal asing akan lebih ditentukan oleh katalis domestik, seperti kebijakan Bank Indonesia, kinerja emiten, serta perbaikan sentimen global. Selama arus dana asing masih mencatatkan net sell, ruang penguatan IHSG diperkirakan tetap terbatas.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Tegaskan Seluruh Pabrik Gula Wajib Memiliki Kebun Tebu Demi Swasembada Nasional
• 13 jam lalu
0
thumb
Pembuang Bayi di Teras Klinik Tangsel Ternyata Ibunya, Polisi: Hasil Hubungan di Luar Nikah
• 40 menit lalu
0
thumb
Birthday Bash x MilkLife Semarakkan Panggung Bambala di FHA 2026 Day 2
• 4 jam lalu
0
thumb
Ide Pembatasan Biaya Politik Dinilai Tak Otomatis Tekan Korupsi Kepala Daerah
• 11 jam lalu
0
thumb
Demokrasi Lokal dan Bayang-Bayang Politik Transaksional
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.