BANDUNG, KOMPAS-Kabut misteri di balik tewasnya Sumarna, satpam di Waduk Jatilihur, Purwakarta, belum juga tersingkap. Polisi menyebut masih berusaha mengungkap pelaku di balik kasus ini.
Jumat (24/7/2026) pagi, jasad Sumarna ditemukan rekan kerjanya mengambang di perairan Tanggul Kayat, Waduk Jatilihur. Almarhum ditemukan dengan tangan terborgol sembari masih mengenakan seragam dinas serba coklat.
Kematian itu mengejutkan. Selain tak wajar, Sumarna masih bertugas pada Kamis sore. Namun, pada Kamis malam, jejak Sumarna menghilang.
Saat rekan kerja mendatangi pos keamanan yang sedang dijaga Sumarna, hanya ada lampu menyala dan sepeda motor korban.
Rekannya itu kemudian mencoba berulang kali menghubungi telepon seluler korban. Namun, nomor Sumarna sudah tidak dapat dihubungi. Sementara itu perangkat handy talky milik Sumarna ditemukan tergeletak di atas sebuah perahu di sekitar Tanggul Kayat.
Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Pipit Rismanto angkat suara terkait pengungkapan kasus tewasnya Sumarna yang belum menemui titik terang hingga kini. Ia menyatakan, polisi sudah menerjunkan tim gabungan untuk mempercepat penyelidikan kasus itu.
Pipit mengungkapkan, korban diduga terluka lalu tewas sebelum dibuang ke waduk. Luka diperkirakan dari benturan benda keras.
"Saya telah memerintahkan tim dari Direktorat Kriminal Umum untuk melakukan hasil investigasi sementara mulai olah tempat kejadian perkara kasus tersebut," kata Pipit.
Ia menuturkan, hasil investigasi akan menjadi bahan evaluasi penyidik Polres Purwakarta dalam menentukan langkah selanjutnya pengungkapan kasus itu.
"Kami mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai penyebab kematian korban. Sebab, itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman," tuturnya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Purwakarta Ajun Komisaris I Made Purwantara menambahkan, masih berupaya mengungkap pihak-pihak yang terlibat di balik kematian Sumarna. Sejauh ini, polisi sudah memeriksa 15 saksi dan menyita sejumlah rekaman kamera pemantau di lokasi waduk tersebut.
Purwantara mengaku terdapat sejumlah kendala dalam pengungkapan kasus ini, Salah satunya tidak terdapat kamera pemantau yang lengkap di area Waduk Jatiluhur, bendungan terbesar di Indonesia.
"15 saksi ini terdiri dari keluarga, rekan kerja, serta orang-orang yang berada di sekitar korban. Kami masih mendalami sejumlah kemungkian seperti permasalahan keluarga atau pribadi," kata Purwantara.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berharap Polda Jabar dan Polres Purwakarta bersungguh-sungguh mengungkap kasus kematian Suwarna. Ia pun telah mengunjungi keluarga korban yang merupakan ayah dari dua anak ini.
Ia juga prihatin dengan kondisi Waduk Jatiluhur yang merupakan objek vital nasonal tapi tidak memiliki kamera pemantau atau CCTV yang lengkap. Waduk Jatilihur kini di bawah pengelolaan Perum Jasa Tirta II.
Dedi berharap pengelola segera mengevaluasi sistem pengamanan dengan melengkapi kamera pengawas dan membangun pusat komando. ”Saya meminta kasus ini segera terungkap pelakunya karena ini menyangkut rasa aman masyarakat,” tuturnya.






Komentar (0)