Bisnis produk digital, khususnya top up gim, dinilai menjadi strategi PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) untuk menjaga profitabilitas di tengah persaingan e-commerce yang semakin ketat. Berbeda dengan penjualan barang fisik, bisnis gaming menawarkan biaya operasional lebih rendah sekaligus transaksi yang berulang, sehingga mampu menjadi mesin laba baru perusahaan.
"Menurut saya, bisnis digital gaming merupakan salah satu segmen yang paling menarik karena memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan e-commerce konvensional," kata Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta kepada Katadata.co.id, Kamis (30/7).
Ia menjelaskan, penjualan voucher gim, top up, hingga produk digital lainnya tidak membutuhkan inventori maupun logistik. Alhasil, biaya operasional relatif rendah dengan proses transaksi yang berlangsung cepat.
Selain itu, transaksi pada industri game juga bersifat berulang atau recurring. Pemain aktif umumnya melakukan pembelian diamond, skin, battle pass, maupun item premium berkali-kali selama masih memainkan gim tersebut.
"Hal ini membuat pendapatan lebih stabil dibandingkan penjualan barang fisik yang lebih bergantung pada musim promosi atau daya beli," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan Bukalapak semakin mengandalkan bisnis digital. Hal ini setelah mengurangi eksposur terhadap model e-commerce yang selama ini diwarnai perang harga dan tingginya biaya promosi.
"Dengan kata lain, fokus pada bisnis digital seperti gaming dapat memberikan profitabilitas yang lebih baik dibandingkan mengandalkan marketplace semata," katanya.
Nafan menilai prospek bisnis gaming di Indonesia masih menjanjikan. Indonesia merupakan salah satu pasar gim terbesar di Asia Tenggara dengan basis pengguna yang didominasi pemain mobile game.
Menurutnya, kebiasaan membeli voucher, diamond, mata uang virtual, hingga item premium telah menjadi bagian dari ekosistem industri gim. Aktivitas tersebut juga didorong oleh pertumbuhan komunitas e-sports, streamer, dan content creator yang ikut meningkatkan frekuensi transaksi digital.
"Frekuensi transaksi top-up biasanya lebih tinggi dibandingkan pembelian barang konsumsi biasa karena pemain dapat melakukan pembelian berkali-kali dalam satu bulan," katanya.
Karena itu, ia menilai, selama Bukalapak mampu menjaga kerja sama dengan publisher game, menawarkan harga yang kompetitif, serta menghadirkan proses transaksi yang mudah, segmen gaming berpotensi tetap menjadi salah satu kontributor laba utama perusahaan.
Meski demikian, Nafan mengingatkan bisnis gaming juga memiliki risiko karena sangat bergantung pada siklus hidup sebuah gim. Ketika popularitas suatu game menurun, volume transaksi top up untuk judul tersebut biasanya ikut melemah.
Namun, menurutnya, risiko tersebut dapat ditekan apabila Bukalapak tidak bergantung pada satu gim saja. "Risiko tersebut dapat diminimalkan apabila Bukalapak memiliki portofolio gim yang beragam dan tidak bergantung pada satu judul saja. Kehadiran gim baru juga dapat menggantikan penurunan transaksi dari game lama, sehingga sumber pendapatan tetap terjaga," katanya.
Ia menambahkan, perusahaan juga perlu terus memperluas kerja sama dengan publisher lokal maupun internasional. Hal ini agar pilihan produk digital semakin lengkap dan tidak terkonsentrasi pada beberapa gim populer.
Mesin Uang Baru BukalapakBerdasarkan laporan keuangan perseroan, BUKA membukukan pendapatan sebesar Rp 3,99 triliun pada semester I 2026. Angka ini naik 29,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,09 triliun. Meski begitu, perusahaan masih mencatat rugi bersih Rp 817,8 miliar.
Pertumbuhan utama motor tersebut berasal dari segmen gaming. Dalam siaran persnya, Bukalapak mengungkapkan pendapatan bisnis gaming mencapai Rp 3,5 triliun sepanjang semester I 2026, meningkat 42% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada kuartal II saja, segmen ini menghasilkan pendapatan Rp 1,39 triliun. Perusahaan juga mencatat secara konsisten membukukan EBITDA yang disesuaikan positif sebesar Rp 7 miliar.
Dengan total pendapatan perusahaan sekitar Rp 4 triliun, bisnis gaming menyumbang sekitar 87% dari keseluruhan pendapatan Bukalapak pada enam bulan pertama tahun ini. Angka tersebut menunjukkan transformasi model bisnis Bukalapak yang kini semakin bergantung pada penjualan produk digital, seperti top up game dan voucher gaming, dibandingkan bisnis marketplace yang selama ini menjadi identitas perusahaan.
Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana mengatakan kinerja tersebut menunjukkan transformasi bisnis yang dijalankan perseroan mulai menghasilkan hasil. Ia mengatakan EBITDA yang disesuaikan yang tetap positif sepanjang semester I 2026 mencerminkan kemajuan berkelanjutan dari transformasi yang dijalankan.
“Di tengah kondisi perekonomian yang masih penuh, kami tetap fokus pada disiplin operasional, peningkatan kualitas pendapatan, serta pengembangan bisnis yang berkelanjutan di seluruh segmen,” kata Victor dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Rabu (29/7).
Berbeda dengan bisnis gaming yang tumbuh pesat, beberapa segmen usaha lain justru mengalami tekanan. Pendapatan mitra Bukalapak turun 27% secara tahunan karena perusahaan memilih lebih banyak pilihan dalam menawarkan produk untuk meningkatkan profitabilitas.
Sedangkan segmen ritel juga mencatat penurunan pendapatan 14% menjadi Rp 139 miliar pada semester I 2026. Sementara bisnis investasi melalui BMoney tumbuh 68% menjadi Rp44 miliar, namun keuntungannya masih jauh lebih kecil dibandingkan bisnis gaming.
Victor mengatakan perkembangan positif segment gaming menjadi salah satu bukti bahwa strategi transformasi perusahaan berjalan sesuai rencana.
“Perkembangan positif yang berkelanjutan pada segmen Gaming, pencapaian Mitra segmen positif EBITDA yang disesuaikan, dan segmen pertumbuhan Investasi menunjukkan kemajuan dari strategi yang kami jalankan. Dengan dukungan neraca yang solid, kami akan terus menjaga disiplin operasional dan fokus pada pertumbuhan keberlanjutan di seluruh segmen,” katanya.





Komentar (0)