EtIndonesia. Pada Senin (16 Maret), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan bahwa ia mungkin akan “mengambil alih” Kuba dalam suatu bentuk tertentu.
Tak lama kemudian, muncul laporan bahwa pihak AS telah menyampaikan sikapnya kepada Kuba, menuntut Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel untuk mundur dari jabatannya.
Pada hari yang sama, jaringan listrik nasional Kuba mengalami keruntuhan total, menyebabkan seluruh negeri dilanda kegelapan. Rakyat yang putus asa turun ke jalan untuk melakukan protes—hal yang sangat jarang terjadi di negara komunis tersebut. Perubahan besar di Kuba tampaknya sudah di depan mata.
Presiden Trump mengatakan: “Saya benar-benar percaya bahwa saya akan… mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Entah itu membebaskannya atau mengambil alihnya, saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan terhadapnya.”
Setelah pernyataan tersebut, media mengutip sumber yang mengetahui situasi bahwa menuntut pengunduran diri Díaz-Canel merupakan salah satu tujuan utama AS dalam negosiasi kali ini. Kepergiannya dinilai akan membantu mendorong reformasi struktural dalam ekonomi Kuba.
Sumber tersebut juga menyatakan bahwa pihak AS telah menegaskan kepada Kuba: selama Díaz-Canel masih berkuasa, tidak akan mungkin tercapai kesepakatan apa pun.
Selain itu, AS juga terus memberikan tekanan agar tahanan politik dibebaskan.
Banyak pengungsi Kuba konservatif yang tinggal di Amerika Serikat berharap rezim komunis Kuba runtuh sepenuhnya. Anggota Kongres AS keturunan Kuba serta politisi dari negara bagian Florida juga kemungkinan akan mendorong Presiden Trump untuk mengambil langkah lebih lanjut.
Akibat embargo minyak, jaringan listrik nasional Kuba runtuh total pada Senin, menyebabkan sekitar 10 juta orang mengalami pemadaman listrik. Ini merupakan kejadian terbaru dari serangkaian pemadaman besar dalam beberapa waktu terakhir, yang sering berlangsung berjam-jam bahkan berhari-hari.
Pada Senin, ratusan warga Kuba turun ke jalan di Havana, memukul panci dan wajan sebagai bentuk protes terhadap pemadaman listrik besar-besaran. Aksi protes serupa semakin sering terjadi. Bahkan pada Sabtu (14 Maret), bentrokan kekerasan yang jarang terjadi pecah di wilayah utara Kuba, menunjukkan bahwa rakyat sudah tidak tahan lagi.
Seorang warga Havana, Lázaro Hernández, mengatakan: “Tidak ada listrik, tidak ada makanan, tidak ada minyak, tidak ada bahan bakar. Dan sekarang semua harga naik, karena barang hanya bisa diangkut dengan truk. Ini benar-benar sangat buruk.”
Pada Selasa (17 Maret), meskipun listrik mulai pulih di beberapa wilayah Kuba, keinginan rakyat untuk perubahan sudah menjadi tren yang tidak bisa dihentikan.





