Teheran: Sekitar 90 kapal, termasuk tanker minyak, tercatat melintasi Selat Hormuz sejak dimulainya perang dengan Iran.
Negara tersebut tetap mengekspor jutaan barel minyak meski jalur perairan strategis itu secara efektif sempat tertutup.
Data dari platform maritim dan perdagangan menunjukkan bahwa banyak kapal yang melintas merupakan perjalanan “gelap” yang menghindari sanksi serta pengawasan pemerintah Barat dan diduga memiliki keterkaitan dengan Iran, menurut firma data maritim Lloyd’s List Intelligence.
Baca Juga :
Jepang Lepas Cadangan Minyak Darurat Akibat Krisis Selat HormuzDilansir dari TRT World, Rabu, 18 Maret 2026, lonjakan harga minyak mentah yang menembus di atas USD100 per barel mendorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menekan sekutu dan mitra dagang agar mengirim kapal perang guna membuka kembali jalur tersebut, dengan harapan dapat menurunkan harga energi global.
Sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz -,jalur utama distribusi minyak dan gas dunia yang menyuplai sekitar seperlima kebutuhan minyak global,- telah terhenti sejak awal Maret setelah konflik dimulai. Sekitar 20 kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di kawasan itu.
Meski demikian, Iran tetap mampu mengekspor lebih dari 16 juta barel minyak sejak awal Maret, berdasarkan estimasi platform analisis perdagangan Kpler. Di tengah sanksi Barat dan berbagai risiko, Tiongkok menjadi pembeli terbesar minyak Iran.
Analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, menyebut terdapat “ketahanan berkelanjutan” dalam volume ekspor minyak Iran.
Direktur klien di firma konsultan Reddal, Kun Cao, mengatakan Iran tidak hanya memperoleh keuntungan dari penjualan minyak, tetapi juga berhasil “mempertahankan jalur ekspornya sendiri” dengan memanfaatkan kendali atas titik sempit strategis tersebut.
Navigasi Aman Melalui Selat Hormuz Data lalu lintas maritim menunjukkan setidaknya 89 kapal melintasi Selat Hormuz antara 1 hingga 15 Maret, termasuk 16 tanker minyak. Angka ini turun signifikan dibandingkan sebelum perang, yang mencapai sekitar 100 hingga 135 kapal per hari.
Lebih dari seperlima kapal tersebut diduga berafiliasi dengan Iran, sementara sisanya terkait dengan Tiongkok dan Yunani.
Beberapa kapal dari negara lain juga tetap melintas. Tanker minyak mentah berbendera Pakistan, Karachi, yang dikelola Pakistan National Shipping Corporation, tercatat melintasi selat tersebut pada Minggu.
Juru bicara Pakistan Port Trust, Shariq Amin, tidak mengonfirmasi rute yang dilalui kapal tersebut, namun menyatakan kapal itu akan segera tiba dengan selamat di Pakistan.
Dua kapal pengangkut gas petroleum cair (LPG) berbendera India, Shivalik dan Nanda Devi, yang dimiliki Shipping Corporation of India, juga melintasi selat tersebut sekitar 13 atau 14 Maret. LPG merupakan bahan bakar utama bagi jutaan rumah tangga di India.
Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar mengatakan kepada Financial Times bahwa kedua kapal tersebut dapat melintas setelah dilakukan pembicaraan dengan Iran. Irak juga dilaporkan tengah bernegosiasi dengan Iran untuk memungkinkan tanker minyaknya melewati jalur yang sama.
Pemimpin redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, menyebut beberapa kapal kemungkinan melintas “dengan tingkat intervensi diplomatik tertentu,” sehingga Iran diduga telah menciptakan semacam koridor aman dengan rute yang berdekatan dengan wilayah pantainya.
Analisis sebelumnya dari platform pelacakan kapal MarineTraffic juga menunjukkan bahwa sejumlah kapal mengklaim memiliki keterkaitan dengan Tiongkok atau diawaki seluruhnya oleh awak asal Tiongkok guna mengurangi risiko serangan, memanfaatkan hubungan dekat antara kedua negara.
Dinamika Harga Minyak Dunia Harga minyak global telah melonjak lebih dari 40 persen hingga melampaui 100 dolar AS per barel sejak konflik Iran dimulai. Iran juga mengancam tidak akan mengizinkan “bahkan satu liter minyak pun” yang ditujukan ke Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya untuk melintasi jalur tersebut.
Dalam upaya menstabilkan harga, Amerika Serikat menyatakan mengizinkan tanker minyak Iran untuk tetap melintas.
“Kapal-kapal Iran sudah keluar, dan kami membiarkan itu terjadi untuk menjaga pasokan bagi dunia,” ujar Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara dengan CNBC pada Senin.
Amerika Serikat sebelumnya membombardir situs militer di Pulau Kharg, yang menjadi pusat penting jaringan dan ekspor minyak Iran. Namun, Presiden Donald Trump mengatakan infrastruktur minyak Iran untuk sementara tidak menjadi target serangan.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya tertutup. Kun Cao menyebut jalur tersebut lebih tepat dipahami sebagai “tertutup secara selektif,” di mana sebagian lalu lintas dibatasi, namun tetap berfungsi untuk ekspor Iran dan sejumlah pergerakan kapal non-Iran yang diizinkan.
Sementara itu, analis dari bank Belanda ING, Warren Patterson dan Ewa Manthey, memperingatkan bahwa jika Iran berniat meningkatkan tekanan melalui kenaikan harga energi, jumlah tanker yang diizinkan melintas bisa menjadi sangat terbatas.




