Bisnis.com, JAKARTA – Perputaran ekonomi yang diharapkan pemerintah pada periode mudik Lebaran, kerap kali hanya direpresentasikan oleh data statistik yang kaku dan jauh dari pemahaman masyarakat awam. Padahal, jauh di akar rumput, data tersebut sejatinya hanya mencerminkan sifat alamiah manusia: kerinduan.
Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, menjadi salah satu lokasi yang menjadi saksi bisu atas besarnya kerinduan perantau terhadap kampung halaman mereka. Ribuan orang, sambil menenteng barang bawaan, berdatangan dan melakukan pemberangkatan ke berbagai kawasan di Pulau Jawa menggunakan kereta api dari stasiun ini.
Data KAI Daerah Operasional 1 Jakarta, menunjukkan bahwa volume penumpang yang melakukan keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen tercatat sebanyak 22.519 orang per siang hari ini. Stasiun ini memang menjadi lokasi dengan keberangkatan KA jarak jauh terbanyak di Jakarta.
Aris (54) seorang perantau asal Tegal, Jawa Tengah, menjadi salah satu orang yang melakukan perjalanan melalui Stasiun Pasar Senen hari ini, Rabu (18/3/2026). Pria ini pergi ke kampung halaman bersama sang istri untuk menengok orang tua mereka.
Sepasang suami istri ini tidak membawa barang yang banyak. Hanya dua dus makanan ringan dan dua tas pakaian untuk masing-masing. Kerinduan terhadap wajah-wajah yang akrab menjadi bekal utama sepasang suami istri itu untuk pulang kampung.
"Setahu saya, mudik itu satu tradisi. Kedua, namanya kita punya kampung halaman ya. Jadi setahun-dua tahun [tidak pulang], kayak rasanya rindu. Jadi nangis saya," kata Aris sambil menyeka air matanya.
Aris menerangkan, tujuannya melakukan mudik hanyalah untuk bertemu kedua orang tuanya yang kini telah lanjut usia. Terlebih, tahun lalu Aris belum sempat mengunjungi kedua orang tuanya di kampung halaman karena pekerjaan.
Sementara sang istri, lebih banyak mengikuti arah kepergian Aris sebagai suaminya. Kedua mertua Aris telah terlebih dahulu meninggal.
"Orang tua saya sudah sepuh lagi, jadi sedih," kata Aris.
Sembari memeluk tas yang berisi pakaiannya dan sang istri, Aris menjelaskan bahwa untuk dapat pergi mudik, mereka mesti menabung sebelumnya. Selama satu tahun bekerja, Aris dengan kesadaran penuh menyisihkan sisa gajinya untuk mudik pada bulan ini.
Bukan hanya untuk mengantisipasi harga tiket yang melonjak jelang peak season, tetapi juga untuk dapat memberikan sedikit dana kepada orang tua dan keluarga saat Lebaran.
"Pokoknya kami sudah ada persiapan. Misalnya beberapa bulan lagi [Lebaran], kami sudah ada persiapan lah. Enam bulan ini nabung, jadi nanti tahun depan bisa pulang," katanya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Ayu (30), perempuan asal Sukoharjo, Jawa Tengah yang mesti menabung demi dapat bertemu kedua orang tuanya di kampung halaman. Bahkan, sebesar 10% dari gaji yang dia terima setiap bulan, dialokasikan untuk persiapan mudik Lebaran.
Alasannya serupa. Bukan hanya persoalan tiket yang menjadi alasan di balik tabungan Ayu, tetapi juga memberikan sedikit dana kepada keluarganya di Sukoharjo.
"Kan kalau itu [mudik] bukan cuma buat ongkos ke sana aja ya. Jadi buat selama di kampung harus ngasih THR gitu. Jadi mengalokasikan sekitar 10% dari gaji bulanan," katanya kepada Bisnis, Rabu (18/3/2026).
Ayu menjadi salah satu perantau yang beruntung dapat melakukan mudik setiap tahunnya. Dia menegaskan bahwa selama memungkinkan, pertemuan Ayu dengan kedua orang tuanya di kampung halaman mesti dilakukan.
"Kebetulan juga orangtuaku keduanya masih ada. Jadi ada kesempatan ini tiap tahun untuk pulang, diusahakan. Apapun keadaannya, harus pulang," tegasnya.
Senada, Fitri (30) juga mengaku mesti menyisakan sebagian pendapatan bulanannya untuk melakukan mudik tahunan. Setiap bulannya, dia mengalokasikan lebih dari 20% pendapatan untuk ditabung demi melakukan mudik.
Perempuan asal Tegal, Jawa Tengah ini menerangkan bahwa di desanya, memang terdapat tradisi membagikan bingkisan kepada keluarganya di kampung halaman.
"Soalnya kan kalau di kampung saya ada tradisi ngasih bingkisan gitu ke saudara. Lumayan itu budget-nya," katanya.
Beruntung Fitri melakukan perjalanan mudik melalui program Mudik Gratis BUMN 2026. Diberangkatkan oleh PLN, Fitri mengaku mampu menekan pengeluaran selama periode Lebaran tahun ini.
Selain PLN, sejumlah BUMN sebetulnya menyiapkan program serupa. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) misalnya, yang telah memberangkatkan masing-masing 7.000 dan 10.000 pemudik dalam program ini.
Hanya saja, kerinduan para pemudik terbatas waktu. Pemerintah hanya memberikan 5 hari libur untuk menyambut hari raya Idulfitri. Sebanyak 3 hari merupakan cuti bersama dan 2 lainnya merupakan perayaan Idulfitri.
Meskipun begitu, para pemudik tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Keterbatasan waktu di tengah rasa rindu yang meledak-ledak yang justru membuat momentum Lebaran selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu masyarakat.
Dana yang telah ditabung berbulan-bulan demi menyambut momentum ini, tidak lagi menjelma sekadar statistik yang diprediksi ekonom, tetapi berubah bentuk menjadi rasa rindu yang kontan terbayarkan.




