Konflik di kawasan Teluk Persia yang telah memasuki hari ke-19 semakin memanas tanpa tanda-tanda mereda. Eskalasi terbaru terjadi setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menewaskan pejabat tinggi Iran, sementara ancaman balasan dari Teheran terus meningkat.
Di tengah situasi tersebut, Donald Trump Presiden Amerika Serikat dinilai menghadapi tekanan politik yang semakin kompleks, baik dari luar negeri maupun dalam negeri.
Mahfuz Sidik mantan Ketua Komisi I DPR RI mengungkapkan, setidaknya ada empat tekanan besar yang kini membebani langkah Trump dalam menangani konflik tersebut.
“Ada empat tekanan berat yang dihadapi Trump saat ini, dan semuanya berpotensi memengaruhi arah kebijakan perang maupun peluang negosiasi,” ujar Mahfuz dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Tekanan pertama datang dari negara-negara sekutu Amerika Serikat, termasuk anggota NATO, yang menolak terlibat langsung dalam konflik, khususnya untuk membuka blokade Selat Hormuz.
Menurut Mahfuz, penolakan tersebut didasari kekhawatiran akan risiko serangan balasan dari Iran.
“Sekutu AS tidak siap menghadapi risiko retaliasi dari Iran. Mereka melihat ini sejak awal sebagai perang antara AS, Israel, dan Iran,” jelasnya.
Tekanan kedua berasal dari negara-negara Teluk yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC). Mereka mendesak agar perang segera diakhiri, namun tetap menginginkan kekuatan militer Iran dilemahkan.
Mahfuz yang juga Sekjen Partai Gelora Indonesia menilai, posisi itu cukup dilematis bagi AS, karena di satu sisi ada dorongan menghentikan konflik, tetapi di sisi lain tetap ada kepentingan strategis untuk menekan Iran.
“Tekanan dari negara Teluk ini juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi. Beberapa negara bahkan mulai menunda investasi besar mereka ke AS,” ungkapnya.
Dari dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan politik yang tidak kalah besar. Gelombang penolakan publik terhadap perang terus meningkat, termasuk dari kalangan pejabat keamanan.
Mahfuz menyorot mundurnya pejabat penting sebagai sinyal kuat adanya perbedaan pandangan di internal pemerintahan.
“Resistensi domestik ini sangat serius. Opini publik yang menolak perang bisa berdampak langsung pada peta politik, terutama menjelang pemilu sela,” katanya.
Tekanan keempat datang dari ancaman Iran yang berpotensi memperluas target serangan, termasuk ke perusahaan teknologi besar yang terafiliasi dengan AS dan Israel.
Langkah itu dinilai dapat memperluas dampak konflik ke sektor ekonomi global, terutama di kawasan Teluk yang tengah berkembang sebagai pusat industri digital.
Dengan kombinasi tekanan tersebut, Mahfuz menilai Trump berada dalam posisi sulit untuk menentukan arah kebijakan yang konsisten.
“Secara psikopolitik, pernyataan Trump terlihat tidak stabil. Kadang keras, kadang mengajak negosiasi. Ini menandakan dia berada dalam tekanan besar,” tegasnya.
Meski demikian, Mahfuz meyakini Trump akan terus mencari jalan untuk mengakhiri konflik, mengingat dampak ekonomi dan kemanusiaan yang semakin besar.
Namun, dia mengingatkan tantangan terbesar dalam upaya perdamaian justru bukan datang dari Iran.
“Tantangan terbesar bukan dari Iran, tetapi dari Israel. Sangat mungkin ada tindakan sepihak yang bisa menggagalkan proses negosiasi,” tandasnya.(faz/rid)



