Percetakan Braille Kemensos Hadirkan Buku, Majalah dan Alquran Gratis

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Percetakan ‘Literasi Braille’ Sentra Wyata Guna Bandung di bawah Kementerian Sosial menjadi bagian penting dalam perkembangan literasi braille bagi penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia.

Percetakan Literasi Braille menjadi satu-satunya yang memproduksi buku braille gratis bagi penyandang disabilitas sensorik netra seluruh Indonesia. Beberapa literatur yang rutin dicetak, seperti Alquran Braille, Al-Kitab Braille, serta buku-buku pengetahuan umum untuk sekolah.

“Yang komplit, yang gratis disini satu-satunya. Kalau yayasan-yayasan lain ada mungkin donatur khusus, berbayar mereka ke yayasan itu untuk disebarkan,” terang Pengalih Huruf Braille, Yunna Nursyalamah di Sentra Wyata Guna Bandung, beberapa waktu lalu.

“Yang wajib itu Alquran, Al-Kitab. Kemudian buku pengetahuan umum, buku keterampilan, buku keagamaan. Itu harus wajib ada, buku pengetahuan, dari mulai SD, SMP, SMA itu harus ada, ataupun pelajaran dari universitas,” imbuh Yunna.

Produk cetak menarik lainnya seperti majalah Gema Braille. Majalah yang diterbitkan per edisi setiap dua bulan sekali ini berisi karya tulis penyandang disabilitas sensorik netra atau kiriman tulisan dari penulis lain, sesuai dengan tema yang sedang diangkat pada edisi tersebut.

“Dapat hasil inti bacaannya itu dari para disabilitas netra atapun dari teman-teman yang menyampaikan inspirasinya lewat tulisan. Lalu dikumpulkan ke kita, kemudian dirapatkan di Dewan Redaksi, lalu kita sortir mana yang cocok untuk tema di bulan ini,” jelas Yunna.

Setiap hari, percetakan ini mampu memproduksi kurang lebih 30 buku braille. Khusus proses cetak Alquran Braille prosesnya lebih panjang, satu juz dicetak menjadi satu buku, artinya satu set Alquran Braille terdiri dari 30 jilid. “Tahun ini, kita cetak Alquran hanya 50 set,” kata Yunna.

Dalam setahun, percetakan ini memproduksi sekitar 50 set atau 1.500 buku yang harus dicetak, diperiksa, dan di jilid satu persatu dengan penuh ketelitian. Sebelum masuk ke mesin cetak, setiap buku braille melewati pengeditan yang ketat, untuk memastikan setiap huruf dan tanda baca sudah tepat.

Semua buku, kitab, maupun majalah produksi Literasi Braille tersebut akan dikirimkan kepada penerima manfaat, baik itu perorangan, SLB, kampus atau lembaga yang telah berlangganan di seluruh Indonesia.

“Nah, kalau untuk teman-teman disabilitas di Indonesia yang telah berlangganan dikirim secara otomatis. Secara rutin, dua bulan sekali, majalah kita kirim, dan jika di bulan itu ada buku yang telah terbit, kita kirim secara otomatis,” kata Yunna.

Literasi Braille juga memproduksi buku-buku khusus pemesanan oleh pihak eksternal seperti dari pemerintah daerah, pihak swasta, atau individu. Permintaan layanan alih huruf buku ke braille secara gratis pun menjadi komitmen utama percetakan. Para peminat dapat menghubungi Literasi Braille melalui WhatsApp Center. Prosedur selanjutnya, yaitu mengirimkan surat permohonan alih huruf.

Selain menyebarkan buku braille, Literasi Braille juga memproduksi audio book atau buku yang alihkan menjadi suara untuk teman-teman tuna netra. Dalam hal ini, percetakan bekerjasama dengan komunitas readers dalam proses alih suara buku.

“Uniknya di sini, yang mengalih suara itu, yaitu ada komunitas reader. Di dalamnya ada ibu-ibu yang bersedekah suara, bahkan tidak hanya mensedekahkan suara itu asal baca, bahkan mereka itu punya bakat,” ujar Yunna.

Penyebarluasan audio book kepada penerima manfaat individu maupun SLB secara gratis, melalui flashdisk atau dulu CD dan kaset. “Itu untuk teman-teman tuna netra juga. Sekarang opsional ke SLB juga, anak-anak SLB, antusias untuk mendengarkan suara, cerita,” tambah Yunna.

Sejarah Panjang Sejak 1952

Dikutip dari profil Literasi Braille, sejarah panjang pendidikan tuna netra di Indonesia dimulai pada 1952, saat Ketua Perkumpulan peduli Tuna Netra Mr. Heymen dan H.A Malik Udin mendirikan pengelolaan Perpustakaan Braille dalam bahasa Indonesia. Di tahun yang sama, H.A Malik Udin diangkat menjadi Kepala Kantor Braille Indonesia.

Pada 1961, berdasarkan SK Menteri Kesejahteraan Sosial RI berdiri Lembaga Penerbitan dan Perpustakaan Braille Indonesia (LPPBI) sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Kesejahteraan Anak dan Taruna yang berlokasi di Jalan Pajajaran No. 52, Kota Bandung.

Akhir 1989, lembaga penerbitan braille ini pindah lokasi dari Kota Bandung ke Jalan Kerkhof No. 21 Leuwigajah, Cimahi Selatan. Sebelumnya, LPPBI juga telah mengalami perubahan nama menjadi Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI).

Di Cimahi, BPBI terus berkontribusi dalam perkembangan literasi braille di Indonesia. Hingga 2018, setelah mengalami beberapa kali pergantian nama dan perpindahan Unit Pelaksana Teknis (UPT), BPBI menjadi Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) ‘Abiyoso’ dibawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos. “Untuk awal mulanya di Abiyoso Cimahi, pindah ke sini (Bandung) 2022,” kata Yunna.

Setelah berkiprah cukup lama di Cimahi, pada 2022, BLBI ‘Abiyoso’ menjadi Literasi Braille dan berpindah tempat kembali ke Jalan Pajajaran No. 52, Kota Bandung. Dibawah Sentra Wyata Guna Bandung, Literasi Braille terus memproduksi buku braille sebagai sarana pembelajaran bagi penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia.

Layanan literasi ini tidak hanya membuka akses informasi, tapi juga berperan penting dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis huruf braille serta mendorong kemandirian penerima manfaat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dirut KAI: Kereta Kerakyatan Laris Manis, Okupansi Tembus 102% Saat Mudik
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Sinopsis Series OTW Halal, Dibintangi Oleh Fadly Faisal dan Maudy Effrosina
• 5 jam lalugrid.id
thumb
H-1 Nyepi, Antrean Kendaraan ke Pelabuhan Gilimanuk Capai 20 KM Pagi Ini
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Hanya Minyak, Perang AS-Iran Juga Ancam Pasokan Obat dan Kebutuhan Medis
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Warga Agusen Gayo Lues suka cita sambut Idul Fitri di huntara
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.