Tak Hanya Minyak, Perang AS-Iran Juga Ancam Pasokan Obat dan Kebutuhan Medis

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Ketegangan di Timur Tengah yang terjadi akibat agresi Amerika Serikat-Israel terhadap Iran masih terjadi. Dampak dari konflik tersebut dikhawatirkan meluas tidak hanya pada pasokan minyak, melainkan juga sektor lainnya, termasuk sektor kesehatan.

Gangguan yang terjadi di jalur perdagangan seperti Selat Hormuz dapat mengganggu distribusi obat-obatan dan bahan baku farmasi skala global. Sejumlah perusahaan farmasi global pun sudah mulai mengalihkan rute pengiriman obat dan vaksin. Dampaknya, biaya logistik meningkat dan waktu distribusi menjadi lebih lama.

Dikutip dari Reuters, Senin (16/3/2026), peneliti senior kesehatan global Council on Foreign Relations, Prashant Yadav mengatakan, ketersediaan obat-obatan dengan masa simpan pendek yang sensitif pada suhu tertentu bisa paling terancam jika konflik terjadi berkepanjangan. Itu termasuk pada obat-obatan untuk kanker, terutama untuk jenis antibodi monoklonal yang hanya memiliki masa simpan sekitar tiga bulan.

Baca JugaHujan Berwarna Hitam di Iran Membahayakan Pernapasan Warga
Baca JugaPerang AS-Iran dan Kematian-kematian Menyakitkan

Sementara, pengiriman obat masih menghadapi kendala. Persoalan tersebut sudah dikeluhkan oleh beberapa perusahaan obat. Stok obat bisa menipis hanya dalam empat sampai enam minggu apabila situasi tidak membaik. Meskipun stoknya ada, harga dari obat tersebut bisa meningkat signifikan.

Kepala eksekutif Independent Pharmacies Association (IPA) Inggris Raya, Leyla Hannbeck, dikutip dari ABC News, menuturkan, gangguan yang terjadi pada perdagangan internasional akan mempersulit pengadaan bahan-bahan penting untuk bahan baku obat. Pemerintah Inggris pun didesak untuk memberlakukan larangan ekspor obat-obatan esensial tertentu. Ketergantungan produk farmasi impor masih cukup tinggi di Inggris.

Gangguan yang terjadi pada perdagangan internasional akan mempersulit pengadaan bahan-bahan penting untuk bahan baku obat.

“Kita terlalu bergantung pada China, India, dan negara-negara lain untuk obat-obatan kita, dan oleh karena itu, sesuatu yang terjadi secara global akan berdampak besar bagi kita (Inggris),” katanya.

Harga obat

Hannbeck juga mengatakan bahwa banyak obat-obatan seperti aspirin, parasetamol, dan ibuprofen yang mengandung beberapa bahan berbasis petroleum (minyak mentah). Jika akses pada bahan baku tersebut terganggu, produksi obat akan terhambat serta harga obat bisa semakin mahal.

Selain obat-obatan, pasokan kebutuhan medis lain juga bisa terdampak, seperti jarum suntik insulin, pembersih tangan, serta salep tertentu yang berbasis petroleum. Kenaikan harga minyak dunia akan berdampak pada biaya produksi dari produk tersebut.

Kekhawatiran akan ketersediaan stok obat terjadi pula di Australia. Ketua komite Pelayanan Berkualitas Royal Australian College of General Practitioners (RACGP), Mark Morgan, menyampaikan, dampak dari kendala rantai pasok obat tidak hanya terkait biaya, namun pada akses dari obat yang dibutuhkan itu sendiri. Hal tersebut terutama bagi pasien yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.

Dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pembatasan akses udara yang terjadi juga telah mengganggu pergerakan pasokan medis dari pusat logistik global di Dubai. Lebih dari 50 permintaan pasokan darurat dengan tujuan ke 25 negara terganggu. Setidaknya obat-obatan senilai 6 juta dolar AS dan perlengkapan laboratorium untuk polio senilai 1,6 juta dolas AS tidak dapat didistribusikan.

Baca JugaDampak Perang AS-Israel Vs Iran Sudah Sampai di Indonesia, Ini Tandanya
Baca JugaDampak Konflik Timur Tengah, Ujian Berat Ketahanan Ekonomi dan Pertahanan Indonesia

Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy menyampaikan, sistem kesehatan termasuk yang paling terdampak dari konflik Timur Tengah. Rantai pasokan kesehatan semakin terancam. Operasional hub untuk sementara dihentikan karena masalah keamanan, penutupan wilayah udara, dan pembatasan akses di Selat Hormuz.

“Meningkatnya konflik di Timur Tengah memperparah tuntutan terhadap sistem kesehatan. Dukungan sangat penting untuk mempertahankan petugas kesehatan garda terdepan dan menjaga layanan perawatan kritis,” tuturnya.

Stok Indonesia masih aman

Sementara di Indonesia, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar pada Rabu (4/3/2026) menyebutkan, ketersediaan obat di Indonesia sampai saat ini masih dipastikan aman. Konflik yang terjadi di Timur Tengah tidak memengaruhi stok obat, khususnya stok obat esensial di Tanah Air.

“Untuk obat-obatan esensial yang artinya obat-obatan yang sangat dibutuhkan masyarakat, seperti obat hipertensi, diabetes, antibiotik, dan beberapa obat-obatan lain, (stoknya) masih aman,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Imsakiyah Hari Ini: 18 Maret 2026 di Semarang, Membawa Semangat Beribadah
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Konsolidasi Bank Perekonomian: OJK Proses Merger 22 BPR/S Jadi 6 BPR/S
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Anak Kena Peluru Nyasar Saat Main di Taman, Begini Nasibnya
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
FIFA Tolak Mentah-mentah Permintaan Iran Pindah Venue Piala Dunia 2026
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Pemerintah Kaji Opsi WFH untuk Tekan Konsumsi BBM
• 20 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.