Garuda Indonesia (GIAA) Catat Rugi Rp5,39 Triliun pada 2025

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) masih mencatatkan rugi pada kinerja tahun 2025. Perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,39 triliun pada 2025.

Sepanjang tahun buku 2025, Garuda Indonesia mencatatkan pendapatan usaha konsolidasi sebesar US$3,22 miliar, turun 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring fase konsolidasi operasional untuk memperkuat fundamental bisnis.

"Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I/2025 di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan dalam keterangan tertulis, Rabu (18/3/2026).

Selain itu, pada 2025 Perseroan turut mencatatkan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,39 triliun, yang turut dipengaruhi oleh fluktuasi kurs, serta peningkatan biaya fixed cost seiring intensitas program pemulihan serviceability armada yang belum serviceable.

Glenny mengatakan Garuda Indonesia terus memaksimalkan jumlah serviceable aircraft di akhir tahun 2025 menjadi sedikitnya 99 armada dari sebelumnya sekitar 84 armada per Juni 2025.

Dia menyebut total unserviceable armada pada akhir 2025 sebanyak 43 pesawat yang saat ini tengah dalam tahapan penyelesaian perawatan armada. Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga

  • Garuda dan Citilink Ajukan 449 Extra Flight untuk Arus Mudik 2026
  • DPR Sentil Tiket Pesawat Mahal, Begini Respons Garuda dan Menhub
  • Kans Kinerja Garuda Indonesia (GIAA) Kembali Tinggal Landas

Lebih lanjut, tren tekanan kinerja Garuda Indonesia di tahun buku 2025 juga turut dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, tekanan nilai tukar Rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan.

"Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid," ujarnya.

Fase Titik Balik Kinerja 2026

Glenny menyatakan Garuda Indonesia terus memperkuat fondasi transformasi bisnisnya dengan menargetkan tahun 2026 sebagai fase turn around atau titik balik kinerja Perseroan. Target ini seiring dengan pemulihan kapasitas produksi secara bertahap, penguatan struktur permodalan, inisiatif langkah perbaikan bisnis dan operasional, serta transformasi yang dicanangkan Garuda Indonesia Group.

Dia menyebut terdapat 11 inisiatif strategis untuk mewujukan fase titik balik kinerja perseroan pada 2026. Kesebelas inisiatif tersebut di antaranya, optimalisasi jaringan rute, peningkatan kapasitas armada, transformasi digital prlatform, keunggulan revenue management, peningkatan monetisasi kargo.

Kemudian, optimalisasi pendapatan tambahan, pembentukan aliansi strategis, peningkatan tata kelola biaya, digitalisasi operasional, sinergi struktur organisasi, dan peningkatan pengalaman pelanggan.

"Dengan berbagai langkah transformasi yang terus dijalankan secara disiplin dan terukur, Garuda Indonesia menempatkan tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja Perusahaan. Penguatan fundamental bisnis yang telah dibangun sejak beberapa tahun terakhir menjadi landasan penting untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi, optimalisasi pendapatan, serta efisiensi operasional yang lebih berkelanjutan," ujarnya.

Ke depan, melalui eksekusi transformasi yang konsisten, dukungan pemegang saham, serta penguatan kemitraan strategis di tingkat global, Glenny mengaku optimistis Garuda Indonesia dapat mempercepat langkah menuju fase turnaround yang lebih solid, sekaligus memperkuat perannya sebagai national flag carrier yang kompetitif, adaptif terhadap dinamika industri penerbangan global, serta mampu menghadirkan kontribusi terbaiknya bagi bangsa dan negara.

Transformasi Kinerja & Penguatan Modal Usaha

Selaras dengan tantangan fundamental kinerja di tahun buku 2025, manajemen baru Garuda Indonesia yang ditunjuk Danantara di akhir kuartal IV 2025 memproyeksikan sejumlah fokus transformasi kinerja yang akan diakselerasikan pada kinerja 2026.

Selain itu, melalui dukungan pendanaan shareholder loan dan capital injection pada 2025 oleh Danantara, pada akhir tahun Perseroan berhasil mencatatkan perbaikan signifikan pada posisi ekuitas yang kembali positif sebesar US$91,9 juta per 31 Desember 2025, meningkat dari posisi tahun sebelumnya yang masih negatif US$1,35 miliar.

Dukungan Shareholder Loan (SHL) pada pertengahan 2025 serta capital injection pada akhir 2025 dengan nilai keseluruhan sekitar Rp23,7 triliun, ditujukan untuk mendukung percepatan program perawatan dan reaktivasi armada, serta penyelesaian kewajiban Citilink kepada Pertamina.

Glenny menjelaskan, dari total dukungan tersebut, 64% atau sekitar Rp15 triliun dialokasikan kepada Citilink, sedangkan Garuda Indonesia memperoleh total alokasi sebesar Rp8,7 triliun untuk kebutuhan perawatan armada, yang masih terus berlangsung dan terus dioptimalkan hingga akhir tahun 2026.

Dengan kondisi tersebut, Garuda Indonesia mencatatkan kas dan setara kas sebesar US$943,4 juta pada akhir 2025, meningkat signifikan dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$219,1 juta. Arus kas tersebut yang akan dioptimalkan untuk memaksimal fundamental operasional Perusahaan ke depannya.

"Lebih lanjut, peningkatan ini turut mencerminkan perbaikan likuiditas perusahaan yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas operasional serta mendukung berbagai langkah transformasi bisnis yang tengah dijalankan," jelasnya.

Pemulihan Kapasitas Produksi

Dukungan pendanaan dari Danantara juga mulai memberikan dampak terhadap pemulihan kinerja operasional pada Semester II/2025, yang turut ditunjang oleh penyelesaian lebih dari 100 event maintenance dalam mengoptimalkan penguatan kapasitas produksi Garuda Indonesia Group.

"Melalui dukungan pendanaan capital injection pada akhir 2025, Garuda Indonesia menargetkan sedikitnya di akhir tahun 2026 akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft di akhir 2026 sebanyak 50 pesawat," ungkapnya.

Langkah optimalisasi serviceable aircraft yang ada pada tahun 2026 akan diperkuat melalui proyeksi percepatan beberapa inisiatif strategis proses perawatan armada. Inisiatif ini mencakup heavy maintenance airframe check pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330.

Selain itu, Perseroan juga menjalankan overhaul dan shop visit untuk komponen utama seperti engine, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna memastikan performa armada tetap optimal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengenal Pulau Qeshm, Kunci Strategis Iran di Perang Lawan AS-Israel
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Begini Caranya Biar Uang THR Nggak Cuma Sekadar Numpang Lewat!
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
8.400 Kendaraan per Jam Keluar Jakarta di H-3 Lebaran 2026
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Singkirkan Man City, Arbeloa Blak-blakan: Bukan Taktik, Pemain Madrid Terlalu Bagus!
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Mojtaba Khamenei Tolak Gencatan Senjata dengan AS, Janji Balas Dendam
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.