Kenaikan harga bensin akibat perang Timur Tengah memicu kekhawatiran dan ketidakpastian bagi produsen mobil, dealer, dan pemilik kendaraan.
IDXChannel - Kenaikan harga bensin akibat perang Timur Tengah memicu kekhawatiran dan ketidakpastian bagi produsen mobil, dealer, dan pemilik kendaraan. Namun bagi Martin Miller, situasi ini justru menjadi peluang.
Miller memiliki dealer mobil listrik bekas di barat daya London dan mencatat hari Sabtu tersibuk sepanjang sejarahnya, seminggu setelah perang dimulai pada 28 Februari. Konflik tersebut mengganggu pengiriman di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Kini Miller bergegas menambah stok. “Mobil terjual sangat, sangat cepat,” ujarnya dilansir Reuters, Rabu (18/3/2026).
Dia mengatakan bahwa pelanggan di tokonya, EV Experts, khawatir harga bensin akan terus naik. Stafnya bahkan membeli lebih banyak mobil listrik di lelang karena mereka yakin tren ini akan berlanjut.
Data pemerintah Inggris menunjukkan bahwa hingga 16 Maret, harga rata-rata bensin per liter di Inggris naik 7 persen sejak perang dimulai. Di Uni Eropa, kenaikannya mencapai 8 persen, menurut Komisi Eropa.
Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin per galon naik 27 persen sejak akhir Februari, menjadi USD3,72, menurut Administrasi Informasi Energi AS pada hari Selasa.
Perilaku Pembeli Berubah
Sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak dapat memicu perubahan struktural dalam kebiasaan konsumen saat membeli mobil. Krisis energi tahun 1970-an, misalnya, membuat pembeli mobil di AS beralih ke kendaraan yang lebih kecil, yang menguntungkan produsen mobil Jepang dan menggerus pangsa pasar pesaing domestik mereka.
Analis mengatakan kenaikan tajam harga bahan bakar belakangan ini kemungkinan belum akan langsung mengubah pola pembelian mobil baru secara signifikan. Biasanya, dibutuhkan periode harga tinggi yang berlangsung cukup lama, atau harga mencapai ambang psikologis tertentu, sebelum konsumen beralih ke pilihan yang lebih hemat bahan bakar.
“Perilaku konsumen sangat reaktif terhadap harga bensin, tapi biasanya harus mencapai angka bulat tertentu,” kata Direktur intelijen ekonomi dan pasar di CarGuru, Kevin Roberts.
Ambang USD4 per galon, kata dia, mungkin jadi titik penting mengingat itu menjadi titik lonjakan minat mobil listrik saat krisis minyak terakhir pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Zach Xavier, seorang pelanggan di AS, tidak ingin menunggu. Ia mengunjungi Recharged, dealer mobil listrik bekas di Richmond, Virginia, untuk menukar SUV berbahan bakar bensin dengan mobil listrik, sekaligus membeli satu mobil listrik kecil tambahan.
“Saya ingin masuk lebih dulu sebelum semua orang panik,” katanya.
Sejauh ini, kenaikan harga belum terlalu memengaruhi pembeli mobil baru di AS, menurut aktivitas di beberapa situs riset kendaraan.
CarGurus menyebutkan pada pekan lalu bahwa mereka belum melihat perubahan besar dalam pencarian mobil listrik. Sementara itu, situs lain, Edmunds, melaporkan bahwa porsi konsumen yang mencari kendaraan listrik pada minggu pertama setelah perang dimulai hanya naik sedikit, menjadi 22,4 persen dari 20,7 persen pada minggu sebelumnya.
(NIA DEVIYANA)





