jpnn.com, JAKARTA - Pengamat otomotif Bebin Juana menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak dunia dapat memicu kelangkaan serta lonjakan harga BBM.
Oleh karena itu, menurut dia, penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menjadi solusi yang kian relevan bagi masyarakat.
BACA JUGA: Beniyanto Tamoreka DPR Dukung Pemerintah Jaga Stabilitas Harga BBM Bersubsidi
“Ketika BBM menjadi langka akibat kemelut di Timur Tengah, selain langka, harganya juga berpotensi melejit. Sampai berapa harganya tentu tidak ada yang tahu,” ujar Bebin dalam keterangannya pada Rabu (18/3/2026).
Menurut Bebin, secara logika kondisi kelangkaan dan tingginya harga bahan bakar minyak akan mendorong konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik.
BACA JUGA: Bahlil Lahadalia Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Lebaran
“Pilihan masyarakat pada kendaraan listrik berbasis baterai sebagai alternatif yang patut dipertimbangkan,” katanya.
Meski demikian, dia mengingatkan agar konsumen tetap cermat dan tidak sekadar tergiur dengan label teknologi pada kendaraan tersebut.
BACA JUGA: INDEF: Kendaraan Listrik Jadi Strategi Meredam Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia
Dia berharap masyarakan memilih kendaraan yang mampu memberikan dampak nyata pada efisiensi konsumsi energi harian.
“Konsumen harus cerdas memilih kendaraan yang benar-benar membuktikan penghematan BBM,” ujarnya.
Bebin memperkirakan jika terdapat peralihan sekitar 100 ribu hingga 150 ribu konsumen ke kendaraan listrik, dampaknya akan terasa signifikan pada pengurangan antrean pengisian BBM di stasiun pengisian bahan bakar.
Langkah tersebut juga berpotensi mengurangi beban pasokan BBM yang selama ini harus dipenuhi.
“Peralihan ini juga dipastikan akan membawa dampak positif bagi keuangan negara melalui berkurangnya konsumsi BBM nasional, meski detail penghematannya memerlukan perhitungan lebih lanjut dari kementerian terkait," ujarnya.
Guna mempercepat transisi tersebut, Bebin mengharapkan adanya dukungan kebijakan yang lebih luas bagi para pengguna kendaraan ramah lingkungan.
Dia juga menyoroti bahwa keberlanjutan kebijakan insentif menjadi faktor penting dalam menjaga momentum adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Saat ini, sejumlah insentif kendaraan listrik seperti subsidi pembelian dan keringanan pajak yang sebelumnya diberikan pemerintah masih menunggu kepastian perpanjangan.
Menurutnya, jika pemerintah segera memastikan kelanjutan insentif tersebut, minat masyarakat terhadap kendaraan listrik diperkirakan akan meningkat lebih cepat.
Hal itu sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah risiko fluktuasi harga minyak dunia.
Bebin berharap pemerintah dapat memberikan keringanan pajak yang lebih konsisten bagi kendaraan listrik berbasis baterai agar jumlah penggunanya terus meningkat.
“Dengan dukungan kebijakan yang jelas dan berkelanjutan, kendaraan listrik bisa menjadi salah satu solusi strategis menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga BBM global,” pungkas Bebin.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




