CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Dalam lembaran sejarah sepak bola dunia, nama Vittorio Pozzo menempati kasta tertinggi yang sulit digoyahkan.
Dikenal dengan julukan ‘Il Vecchio Maestro’ atau ‘Si Guru Tua’, Pozzo hingga kini masih memegang rekor yang belum mampu disamai oleh pelatih mana pun yakni memenangkan dua gelar Piala Dunia secara berturut-turut.
Keberhasilan Pozzo membawa Timnas Italia merajai panggung dunia pada edisi 1934 dan 1938 bukan sekadar keberuntungan.
Statistik mencatat, Pozzo memiliki rasio kemenangan yang mencengangkan, yakni mencapai 89 persen di ajang paling bergengsi tersebut.
Sepanjang kiprahnya memimpin Gli Azzurri di putaran final Piala Dunia 1934 dan 1938, Pozzo tercatat melakoni sembilan pertandingan. Dari total laga tersebut, ia mengemas delapan kemenangan dan hanya satu kali meraih hasil imbang.
Hebatnya, Pozzo tidak pernah mengecap rasa kekalahan di putaran final Piala Dunia. Satu-satunya noda dalam catatan sempurnanya hanyalah hasil imbang 1-1 saat menghadapi Spanyol di babak perempat final tahun 1934.
Namun, dominasi Pozzo kembali terbukti ketika ia berhasil membawa Italia menang dalam pertandingan ulang (replay) yang digelar keesokan harinya, sekaligus melapangkan jalan menuju tangga juara.
Keberhasilan mempertahankan gelar juara pada edisi 1938 di Prancis mengukuhkan posisi Vittorio Pozzo sebagai satu-satunya pelatih dalam sejarah yang berhasil meraih dua trofi Piala Dunia secara beruntun.
Meski era sepak bola modern telah melahirkan pelatih-pelatih jenius seperti Mario Zagallo, Franz Beckenbauer, hingga Didier Deschamps, rekor back-to-back juara dunia milik Pozzo tetap bertahan selama hampir satu abad.
Strategi taktisnya yang disiplin serta kepemimpinannya yang karismatik menjadikan Pozzo bukan hanya sekadar pelatih, melainkan arsitek utama yang meletakkan fondasi mentalitas juara bagi sepak bola Italia di mata dunia.
Kesuksesan Pozzo tidak lepas dari inovasi taktiknya yang dikenal dengan sistem Metodo atau formasi 2-3-2-3.
Pada era 1930-an, mayoritas tim dunia menggunakan formasi Pyramid (2-3-5) yang sangat ofensif. Namun, Pozzo merasa sistem tersebut terlalu rentan di lini pertahanan.
Ia kemudian menarik dua penyerang ke tengah untuk menjadi inside forwards yang menjemput bola, menciptakan keseimbangan antara pertahanan yang kokoh dan serangan balik yang mematikan.
Strategi ini memungkinkan Italia mengontrol lini tengah dan menjadi fondasi awal dari filosofi sepak bola Italia yang sangat mengutamakan disiplin organisasi permainan.
Dengan kombinasi fisik yang kuat dan kecerdasan taktik ini, Pozzo berhasil membangun skuad yang sulit ditembus oleh lawan-lawan terkuat di Eropa dan Amerika Selatan pada masanya.



