Libur Panjang Lebaran, BI Tetap Kawal Rupiah

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Bank Indonesia (BI) memastikan tetap mengawal nilai tukar rupiah di pasar offshore atau luar negeri meski pasar domestik libur sepekan saat Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idulfitri, seiring dengan masih tingginya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah.

Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan BI tetap berada di pasar, tidak hanya pasar domestik tetapi juga pasar offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa henti.

“Kita boleh libur Lebaran di sini, offshore Non-Deliverable Forward (NDF) terus berjalan dan BI New York juga akan terus mengawal rupiah di luar negeri,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 18 Maret 2026.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga memastikan bahwa BI terus berjaga-jaga dan memantau pasar rupiah-dolar melalui NDF selama 24 jam.

Meskipun pasar domestik libur Lebaran, BI bekerja sama dengan BI New York untuk terus memantau, dan siap melakukan intervensi di pasar NDF global apabila dibutuhkan.

Baca Juga :

Jaga Rupiah, BI Atur Batas Pembelian Valas Jadi USD50 Ribu
 


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Di tengah volatilitas dan ketidakpastian yang sangat tinggi, Destry memastikan bahwa BI tetap fokus menjaga stabilitas rupiah.

“All effort akan kami lakukan, seperti disampaikan juga oleh Pak Gubernur, seperti yang biasa kita lakukan, intervensi di spot DNDF dan NDF untuk di pasar globalnya,” kata dia.

Di samping itu, imbuh Destry, instrumen operasi moneter juga dioptimalkan untuk memberikan yield menarik, sehingga tetap mendukung stabilitas di tengah meningkatnya risiko global. Depresiasi rupiah lebih rendah dari negara kawasan Sebagai gambaran, Destry menyebutkan bahwa sepanjang Maret ini rupiah terdepresiasi 1,29 persen secara month to date (mtd), lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang di kawasan, seperti India 1,52 persen dan Filipina 3,71 persen.

“Artinya, kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama. Tapi di Bank Indonesia tentunya kami terus akan fokus untuk menjaga stabilitas tersebut,” ujar dia.

Ia menambahkan perdagangan dengan local currency transaction (LCT) juga terus meningkat. Pada Februari 2026, total transaksi LCT mencapai USD4,12 miliar, terbesar untuk Tiongkok sebesar USD3,026 miliar.

Tren ini, catat Destry, menunjukkan meningkatnya kebutuhan transaksi menggunakan mata uang selain dolar di Indonesia. BI pun terus mendorong pendalaman pasar keuangan mata uang lokal, seperti yuan (CNH/CNY), sehingga pelaku pasar tidak perlu lagi membeli dolar untuk melakukan konversi.

“Ini juga tentunya akan berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik karena langsung permintaannya adalah ke mata uang mitra yang bersangkutan,” kata Destry.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Resmikan Masjid Al-Adzim Polda Riau, Kapolri Perkuat Community Policing lewat Satgas PHK dan Ojol
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Chelsea Hancur di Liga Champions, Enzo Fernandez Ragu Bertahan di Stamford Bridge
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Kapan Malam Takbiran 2026? Ini Perkiraan Berdasarkan Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Bareskrim Bongkar Sindikat Uang Palsu di Purwakarta jelang Lebaran, 4 Pelaku Ditangkap
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemprov Jatim Fasilitasi 2.230 Pemudik untuk Pulang Kampung dari Jakarta
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.