Okupansi Hotel Naik Saat Lebaran Tapi Sahamnya Lesu, Kenapa?

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Momentum Ramadan hingga Lebaran biasanya identik dengan lonjakan aktivitas pariwisata dan tingkat hunian hotel. 

Namun, fenomena tersebut ternyata tidak selalu tercermin pada pergerakan saham sektor hospitality di pasar modal Indonesia.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengatakan meskipun secara operasional industri pariwisata dapat menikmati peningkatan okupansi selama periode lebaran, saham-saham hotel dan pariwisata di Bursa Efek Indonesia justru jarang menjadi perhatian utama investor.

"Kalau bicara realitas pasar saham Indonesia, segmen hospitality dan tourism memang tidak cukup likuid untuk menjadi tema trading besar, bahkan pada periode Lebaran sekalipun," ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga : Jelang Idulfitri 2026, Summarecon Agung (SMRA) Genjot Portofolio Hotel

Menurutnya ada dua faktor utama yang membuat sektor ini kurang menarik sebagai tema trading musiman di pasar saham.

Pertama, struktur emiten di sektor hospitality dan tourism di Indonesia relatif kecil dan memiliki likuiditas terbatas. Banyak perusahaan hotel yang tercatat di bursa memiliki kapitalisasi pasar yang tidak besar serta porsi saham beredar atau free float yang terbatas.

Akibatnya, meskipun periode Lebaran dapat meningkatkan tingkat hunian hotel dan pendapatan sektor pariwisata, dampaknya terhadap pergerakan harga saham sering kali tidak signifikan.

Kedua, dalam kondisi pasar seperti sekarang yang didominasi oleh sentimen geopolitik dan lonjakan harga energi, investor cenderung menghindari saham berkapitalisasi kecil dan beralih ke saham yang lebih likuid atau defensif. 

Oleh karena itu, lanjutnya, sektor hospitality hampir tidak pernah menjadi tema utama di pasar saham Indonesia, berbeda dengan negara yang memiliki emiten tourism besar seperti negara Thailand.

Dalam praktiknya di pasar domestik, lanjut dia, sentimen lebaran justru lebih sering mengalir ke saham yang memiliki likuiditas tinggi, terutama emiten yang berkaitan dengan pusat perbelanjaan dan sektor konsumsi. 

Saham pengelola mal atau perusahaan yang memiliki eksposur terhadap lonjakan kunjungan masyarakat selama musim mudik dinilai lebih menarik bagi investor.

Sementara itu, Liza menyebut saham hotel murni hampir tidak pernah menjadi pusat perhatian pasar karena keterbatasan likuiditas dan skala bisnisnya yang relatif kecil.

Dengan kondisi tersebut, peluang sektor hospitality untuk menjadi pendorong kinerja indeks properti pada Ramadan tahun ini dinilai sangat terbatas.

Liza menegaskan arah sektor properti di pasar saham masih akan lebih banyak dipengaruhi faktor makro, seperti pergerakan suku bunga, stabilitas nilai tukar rupiah, serta dinamika sentimen global, dibandingkan dengan faktor musiman seperti peningkatan aktivitas pariwisata saat lebaran.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sidak Terminal Kalideres Jelang Mudik, Kenneth DPRD DKI Soroti Fasilitas Kurang Memadai
• 16 jam laludetik.com
thumb
Penyelundupan 1,7 Ton Minyak Tanah Bersubsidi Digagalkan Polisi di Labuan Bajo
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Gus Alex Bantah Ada Aliran Uang Kasus Kuota Haji ke Yaqut, Begini Respons KPK
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
One Way Diberlakukan, Arus Mudik di Tol Cipali Mulai Meningkat 27 Persen
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Asik! Transjakarta Terapkan Tarif Rp1 pada Hari H Lebaran 2026
• 19 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.