Liputan6.com, Jakarta - Masjid yang bersih, wangi, dan nyaman sering kali terasa seperti sesuatu yang sudah semestinya ada. Jamaah datang untuk beribadah, mengambil wudhu, lalu kembali pulang dengan hati yang lebih tenang.
Namun, di balik lantai yang mengilap dan tempat wudhu yang tertata rapi, ada sosok yang bekerja sejak dini hari, bahkan sebelum sebagian besar orang membuka mata. Mereka adalah para marbot, penjaga rumah ibadah yang sering kali bekerja dalam sunyi.
Advertisement
Setiap harinya, tanpa banyak sorotan, marbot memastikan masjid tetap menjadi tempat yang layak dan nyaman untuk beribadah. Kisah-kisah inilah yang ingin diangkat oleh program Gerakan Masjid Bersih 2026 dari WIPOL, sebuah inisiatif yang tidak hanya berbicara tentang kebersihan, tetapi juga tentang apresiasi.
1. Rutinitas Marbot: Hari Dimulai Bahkan Sebelum SubuhBagi jamaah, masjid yang bersih mungkin hanya terlihat sebagai hasil akhir. Tetapi bagi marbot, proses di baliknya sering kali jauh lebih panjang. Tugas mereka sejatinya dimulai ketika sebagian besar orang masih terlelap. Mereka membuka pintu masjid, menyalakan lampu, memastikan karpet tertata rapi, hingga menyiapkan air untuk wudhu sebelum azan Subuh berkumandang.
Rutinitas ini terus berjalan sepanjang hari. Setelah jamaah pulang, mereka pun kembali menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, hingga memastikan semua sudut masjid tetap terjaga kebersihannya.
Pekerjaan yang terlihat sederhana ini menjadi bagian penting dari kenyamanan beribadah. Tanpa disadari, kerja keras para marbot membantu menciptakan suasana yang membuat jamaah merasa lebih khusyuk saat datang ke masjid.
2. Peran Marbot yang Menyatukan Komunitas MasjidLebih dari sekadar menjaga kebersihan, marbot juga sering menjadi bagian dari kehidupan sosial di sekitar masjid. Mereka mengenal jamaah yang datang setiap hari, membantu menyiapkan kegiatan keagamaan, hingga memastikan berbagai aktivitas di masjid berjalan lancar.
Dalam banyak hal, marbot menjadi sosok yang diam-diam menjaga denyut kehidupan komunitas. Ketika masjid terawat dengan baik, jamaah pun merasa lebih nyaman untuk datang, beribadah, dan berinteraksi satu sama lain. Dari sinilah masjid terus hidup sebagai pusat kebersamaan.




