Jakarta, tvOnenews.com - Kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis HAM KontraS, Andrie Yunus, memicu perhatian luas dari berbagai kalangan, termasuk aktivis perempuan dan pegiat hak asasi manusia.
Peristiwa tersebut turut dibahas dalam podcast Roemah Palapa bertajuk “Ujian Keadilan di Balik Teror Air Keras”, yang menghadirkan Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Mike Verawati Tangka.
Mike menilai, serangan terhadap Andrie tidak dapat dipandang sebagai tindak kriminal biasa, melainkan memiliki dampak serius terhadap kondisi demokrasi dan kebebasan sipil di Indonesia.
“Saya sangat yakin bahwa penyiraman air keras kepada Andrie Yunus itu bukan perkara pidana biasa. Ini adalah sebuah strategi untuk menakut-nakuti, membangun kultur bahwa bersuara dan membela HAM itu berbahaya,” ujar Mike dikutip Selasa (17/3/2026).
Ia menjelaskan, Andrie dikenal sebagai aktivis yang konsisten dan vokal dalam mengkritisi kebijakan negara, terutama di sektor keamanan, termasuk isu militerisme seperti RUU TNI dalam ranah sipil.
Menurut Mike, peristiwa ini juga memperpanjang daftar kasus kekerasan terhadap aktivis yang belum sepenuhnya terungkap hingga tuntas.
“Kalau kita melihat ke belakang, banyak sekali kasus kekerasan terhadap aktivis yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Kita tidak tahu siapa pelakunya, siapa dalangnya, dan sanksi yang tegas pun tidak pernah terlihat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola kekerasan terhadap pembela HAM berpotensi menimbulkan efek jera dan rasa takut di kalangan masyarakat sipil. Bahkan, ancaman serupa dinilai bisa terjadi pada siapa saja yang menyampaikan kritik.
“Kemarin Andrie, besok bisa siapa saja. Ini yang membuat kami melihat bahwa ada ancaman nyata terhadap kebebasan berekspresi,” tambahnya.
Meski demikian, Mike menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan menghentikan perjuangan para aktivis dalam memperjuangkan HAM dan keadilan.
“Kasus Andrie tidak akan membuat kami takut. Justru kami akan semakin berani bersuara melawan pelanggaran HAM dan praktik impunitas,” tegas Mike.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan memicu desakan agar aparat penegak hukum segera mengungkap pelaku secara menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan tersebut.




