Puasa di Tengah Kerakusan Dunia

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Ramadan selalu datang dengan pesan yang sederhana namun mendalam: menahan diri. Menahan lapar, menahan haus, menahan amarah, dan menahan keinginan. Ibadah ini tampak personal, bahkan sangat fisik—sekadar menunda makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam. Namun di balik kesederhanaannya, puasa sebenarnya menawarkan gagasan moral yang jauh lebih luas: manusia perlu belajar batas.

Masalahnya, dunia modern justru bergerak ke arah yang berlawanan.

Dalam banyak peristiwa yang kita saksikan hari ini, manusia tampak semakin sulit menahan diri. Ambisi politik melebar tanpa jeda. Kekuasaan diwariskan seolah menjadi properti keluarga. Kemewahan tampil tanpa rasa canggung di ruang publik. Bahkan dalam skala global, rivalitas antarnegara terus memanas, memperlihatkan bagaimana perebutan pengaruh sering kali lebih kuat daripada upaya menahan diri.

Di tengah situasi seperti itu, puasa terasa seperti pesan yang kontras dengan zaman. Ia mengajarkan cukup, ketika dunia terus mendorong manusia untuk selalu merasa kurang.

Ketika Kekuasaan Tak Pernah Merasa Cukup

Salah satu bentuk kerakusan yang paling mudah terlihat hari ini adalah kerakusan terhadap kekuasaan. Dalam demokrasi modern, kekuasaan seharusnya bersifat sementara. Ia diberikan oleh publik untuk dikelola dalam batas waktu tertentu. Setelah itu, kekuasaan kembali kepada rakyat dan digantikan oleh orang lain.

Namun praktik politik sering berjalan berbeda.

Di banyak tempat, jabatan tidak berhenti pada satu orang. Ia merambat ke lingkaran keluarga. Istri ikut maju dalam pemilihan. Anak menyusul dalam kontestasi berikutnya. Saudara dan kerabat mengisi berbagai posisi strategis.

Fenomena ini bukan sekadar soal individu. Ia memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi dilihat sebagai amanah sementara, melainkan sebagai aset yang perlu dijaga keberlangsungannya. Akibatnya, politik kehilangan salah satu prinsip paling mendasarnya: sirkulasi kekuasaan yang sehat.

Padahal jika dilihat dari perspektif moral, kekuasaan sebenarnya membutuhkan kualitas yang sangat mirip dengan puasa—kemampuan menahan diri.

Menahan diri untuk tidak memperluas pengaruh secara berlebihan. Menahan diri untuk tidak mengubah jabatan publik menjadi proyek keluarga. Menahan diri untuk berhenti ketika masa jabatan telah selesai. Tanpa kemampuan itu, kekuasaan mudah berubah menjadi akumulasi tanpa batas.

Kemewahan di Tengah Kesulitan Publik

Kerakusan juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih simbolik: kemewahan. Belakangan, publik sempat menyoroti pengadaan mobil dinas mewah bagi gubernur Kalimantan Timur yang nilainya mencapai sekitar Rp8,5 miliar. Keputusan tersebut memicu perdebatan luas karena dianggap tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat. Kritik publik kemudian mendorong keputusan untuk mengembalikan kendaraan tersebut.

Peristiwa itu memang berakhir dengan langkah koreksi. Namun polemiknya meninggalkan pertanyaan yang penting: mengapa gagasan tentang kemewahan dapat muncul begitu mudah dalam kebijakan publik?

Dalam sistem demokrasi, simbol memiliki arti besar. Gaya hidup pejabat sering kali dibaca masyarakat sebagai cerminan empati atau jarak sosial. Ketika fasilitas publik terlihat terlalu mewah, jarak itu menjadi semakin terasa.

Sebaliknya, kesederhanaan sering kali menghasilkan efek yang berbeda. Ia menciptakan kedekatan moral antara pemimpin dan masyarakat.

Di sinilah puasa menawarkan refleksi yang menarik. Selama Ramadan, setiap orang—apa pun status sosialnya—mengalami pengalaman yang sama: lapar dan haus. Pengalaman ini menghapus banyak batas sosial yang biasanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pejabat tinggi dan seorang pekerja harian sama-sama menunggu azan magrib untuk berbuka. Puasa menciptakan kesetaraan yang jarang terjadi di luar bulan Ramadan.

Kerakusan dalam Skala Global

Jika pada level domestik kerakusan terlihat dalam bentuk kekuasaan dan kemewahan, pada level global ia muncul sebagai perebutan pengaruh.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan berbagai negara besar menunjukkan bagaimana rivalitas internasional dapat dengan mudah berubah menjadi konflik terbuka. Persaingan antara negara-negara besar di Timur Tengah, misalnya, terus menciptakan risiko eskalasi yang luas.

Dalam konflik semacam itu, keputusan sering diambil di ruang politik dan militer yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun dampaknya dirasakan langsung oleh rakyat biasa: krisis kemanusiaan, kerusakan infrastruktur, dan ketidakpastian masa depan.

Konflik global selalu memperlihatkan pola yang hampir sama. Ambisi berada di atas. Korban berada di bawah.

Dalam konteks ini, pesan puasa terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa kekuatan terbesar manusia bukanlah kemampuan memperluas dominasi, melainkan kemampuan membatasi diri.

Bagi individu, pembatasan diri itu terlihat dalam menahan makan dan minum. Bagi negara, pembatasan diri bisa berarti menghindari eskalasi konflik, menahan ambisi geopolitik, atau memilih jalur diplomasi.

Puasa, dengan demikian, dapat dibaca sebagai etika universal tentang batas.

Etika Puasa dalam Kehidupan Publik

Selama ini puasa sering dipahami sebagai ibadah individual. Ia dilakukan oleh seseorang dalam relasi pribadinya dengan Tuhan. Namun jika diperhatikan lebih jauh, nilai yang diajarkan puasa sebenarnya sangat relevan bagi kehidupan publik.

Puasa melatih disiplin diri. Puasa mengajarkan kesederhanaan. Puasa menumbuhkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting bagi tata kelola yang baik.

Bayangkan jika prinsip menahan diri benar-benar diterapkan dalam kebijakan publik. Sebelum menambah fasilitas pejabat, pemerintah bertanya: apakah ini benar-benar diperlukan? Sebelum memperbesar anggaran proyek tertentu, pembuat kebijakan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat luas. Sebelum memperluas kekuasaan, politisi mengingat bahwa jabatan publik memiliki batas waktu.

Dengan kata lain, puasa dapat menjadi inspirasi etika politik. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus diperbesar. Kadang justru perlu dibatasi.

Kesederhanaan sebagai Kekuatan Moral

Dalam budaya politik yang penuh kompetisi simbol, kesederhanaan sering dianggap tidak menarik. Kemewahan dianggap sebagai tanda keberhasilan. Gaya hidup mewah dipandang sebagai simbol status.

Namun sejarah menunjukkan bahwa kesederhanaan sering kali memiliki kekuatan moral yang lebih besar. Pemimpin yang hidup sederhana biasanya lebih mudah mendapatkan kepercayaan publik. Masyarakat merasa bahwa pemimpin tersebut memahami realitas kehidupan mereka.

Sebaliknya, jarak gaya hidup dapat menciptakan jarak psikologis. Ketika masyarakat merasa pemimpinnya hidup terlalu jauh dari kondisi mereka, kepercayaan perlahan terkikis.

Puasa mengingatkan kembali nilai kesederhanaan ini.

Selama sebulan penuh, manusia dilatih untuk hidup dengan batas. Bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan berbagai bentuk keinginan yang berlebihan.

Latihan ini bukan untuk membuat manusia menjauh dari dunia, melainkan untuk menata kembali hubungannya dengan dunia. Ramadan sebagai Pengingat Ramadan hadir setiap tahun, tetapi pesan yang dibawanya tidak pernah kehilangan relevansi.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, puasa mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu memperbesar dirinya. Di tengah budaya konsumsi yang agresif, puasa mengajarkan kesederhanaan. Di tengah konflik dan perebutan pengaruh, puasa menunjukkan pentingnya batas.

Pesan ini mungkin terdengar sederhana. Namun dalam praktik kehidupan modern, ia justru terasa radikal. Menahan diri bukanlah pilihan yang populer di zaman yang memuja ekspansi—ekspansi kekuasaan, ekspansi kekayaan, dan ekspansi pengaruh.

Namun justru karena itulah puasa menjadi penting. Ia menawarkan alternatif cara hidup: hidup yang tidak didorong oleh kerakusan, tetapi oleh kesadaran akan batas.

Belajar Mengatakan “Cukup”

Pada akhirnya, inti dari puasa mungkin terletak pada satu kata yang jarang kita dengar dalam percakapan tentang ambisi: cukup.

Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak harus memiliki segalanya. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Dalam kehidupan pribadi, kesadaran ini membawa ketenangan. Dalam kehidupan publik, ia dapat membawa keadilan.

Jika lebih banyak orang—terutama mereka yang memiliki kekuasaan—belajar mengatakan cukup, banyak persoalan sosial mungkin dapat dikurangi. Anggaran publik dapat digunakan lebih bijak. Persaingan politik dapat berjalan lebih sehat. Konflik internasional dapat diredam sebelum berubah menjadi perang.

Semua perubahan besar sering dimulai dari kesadaran yang sederhana. Puasa adalah salah satu cara manusia mengingat kembali kesadaran itu. Di tengah dunia yang sering bergerak tanpa batas, Ramadan mengajak manusia berhenti sejenak dan bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah semua yang kita kejar benar-benar kita butuhkan?

Jika jawabannya tidak selalu ya, maka mungkin sudah saatnya kita belajar sesuatu yang sangat mendasar—sesuatu yang setiap hari dilatih oleh orang yang berpuasa.

Menahan diri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pergerakan Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus Terekam CCTV, Ini Detail Lengkapnya!
• 22 jam laluokezone.com
thumb
GNET Membangun Kebaikan di Wilayah Jabodetabek
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Anne Hathaway Pidato di Kantor PBB, Soroti Masifnya Kekerasan Terhadap Perempuan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Pesan Menhan ke Prajurit Yon TP 845: Rakyat Harus Merasakan Manfaat Kalian
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Role Model: The Mastermind Behind RiaMiranda
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.