Trump Selangkah Lagi "Rebut" Negara Ini: Saya Bisa Lakukan Apapun!

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato di Pelabuhan Corpus Christi di Corpus Christi, Texas, AS, 27 Februari 2026. (REUTERS/Elizabeth Frantz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan eskalasi retorika terhadap Kuba pada Senin waktu setempat. Dirinya menyatakan harapan untuk mendapatkan kehormatan guna mengambil alih negara kepulauan tersebut dalam bentuk tertentu dan menegaskan kekuasaannya yang mutlak atas negara tetangganya itu.

Pernyataan ancaman ini muncul justru di saat Kuba dan Amerika Serikat telah membuka pembicaraan yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan buruk mereka. Hubungan kedua negara saat ini telah mencapai salah satu momen paling krusial dalam 67 tahun sejak Fidel Castro menggulingkan sekutu dekat AS di masa lalu.

Baca: Breaking: Gempa M 5,8 Guncang Kuba


"Saya benar-benar percaya saya akan mendapatkan kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Itu adalah kehormatan besar. Mengambil alih Kuba dalam beberapa bentuk," kata Trump kepada wartawan saat pulau tersebut menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dikutip Selasa (17/3/2026).

Kondisi ekonomi Kuba kian diperburuk oleh blokade minyak yang diberlakukan AS setelah penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah acara penandatanganan di Ruang Oval Gedung Putih.

"Maksud saya, apakah saya membebaskannya, atau mengambilnya. Saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya. Anda ingin tahu yang sebenarnya," ujar Trump menambahkan.

Baca: Jerman Tampar Trump, Sebut Perang AS di Timur Tengah Bukan Urusan NATO

Menyusul pernyataan tersebut, laporan New York Times menyebutkan bahwa penggulingan Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel dari jabatannya merupakan tujuan utama AS dalam pembicaraan bilateral tersebut. Mengutip empat sumber yang mengetahui pembicaraan itu, Amerika Serikat telah memberi sinyal kepada negosiator Kuba bahwa Diaz-Canel harus turun, namun menyerahkan langkah selanjutnya kepada pihak Kuba.

Selama ini, pihak Kuba secara tradisional menolak segala bentuk campur tangan dalam urusan dalam negeri mereka. Pemerintah Kuba menganggap setiap proposal yang menyentuh ranah tersebut sebagai faktor pembatal kesepakatan bagi perjanjian apa pun.

Miguel Diaz-Canel, yang berusia 65 tahun dan menggantikan mendiang Fidel Castro serta saudaranya Raul Castro sebagai presiden pada 2018, sempat memberikan pernyataan terkait proses diplomasi ini. Pada hari Jumat sebelumnya, dirinya menyatakan ekspektasi agar pembicaraan dengan AS dilakukan secara adil.

"Saya mengharapkan pembicaraan dengan Amerika Serikat berlangsung di bawah prinsip-prinsip kesetaraan dan penghormatan terhadap sistem politik kedua negara, kedaulatan, serta penentuan nasib sendiri," tutur Diaz-Canel.

Baca: 'Malapetaka' Hantam Amerika, Risiko Tinggi Jatuh ke Jurang Stagflasi

Namun, setelah menggulingkan Maduro dari kekuasaan dan bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran, Trump secara terbuka merenungkan bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya. Ia meningkatkan tekanan dengan menghentikan semua pengiriman minyak Venezuela ke Kuba dan mengancam akan mengenakan tarif pada negara mana pun yang menjual minyak ke negara komunis tersebut.

Akibat kebijakan tersebut, pemerintah Kuba menyatakan tidak menerima pengiriman minyak dalam tiga bulan terakhir dan telah memberlakukan penjatahan energi yang ketat, yang mengakibatkan pemadaman listrik berkepanjangan. Sebagian besar ekonomi negara tersebut telah terhenti, bahkan pada Senin ini jaringan listrik Kuba runtuh total dan menyebabkan 10 juta orang tanpa daya.

Sentimen agresif pemimpin AS ini juga sempat terungkap saat dirinya berada dalam perjalanan udara sehari sebelumnya. Trump mengonfirmasi adanya komunikasi, namun menegaskan prioritas militernya di wilayah lain.

"Kami sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kami akan menangani Iran sebelum Kuba," ungkap Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada hari Minggu.

Meskipun lebih dari selusin Presiden AS selama beberapa dekade terakhir menentang pemerintahan Komunis Kuba dan mengkritik catatan hak asasi manusianya, Washington selama ini menghormati janji untuk tidak menyerang Kuba. Hal itu merupakan bagian dari perjanjian dengan Uni Soviet untuk menyelesaikan krisis rudal Kuba tahun 1962, meskipun hingga kini Gedung Putih belum merinci dasar hukum untuk kemungkinan intervensi apa pun.

Baca: Perang Arab Kacaukan Dunia, Trump Akhirnya Izinkan Iran Lakukan Ini

(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Setelah Iran Usai, Trump Sebut Akan Gulingkan Rezim Kuba

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lafal Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga yang Sah & Benar, Jangan Salah Ucap!
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Uni Eropa Tolak Bantu AS Amankan Selat Hormuz: Ini Bukan Perang Kami
• 59 menit lalukompas.tv
thumb
Perjalanan Malam Pemudik, Penuh Harap Menuju Kampung
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Anomali Lelang KPK: Ponsel Biasa Laku Hampir Rp 60 Juta
• 23 jam laludetik.com
thumb
Pembiayaan Negara Hadapi Beban Ganda
• 21 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.