BI Siaga Lonjakan Harga Minyak Dunia & Kemarau Panjang Ancam Inflasi Domestik

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mewanti-wanti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak dunia dan proyeksi kemarau panjang berpotensi menambah tekanan inflasi domestik ke depan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menegaskan bahwa secara keseluruhan, proyeksi inflasi masih terkendali dan berada di dalam rentang sasaran BI yaitu 2,5±1% sepanjang tahun ini. 

Kendati demikian, otoritas moneter menggarisbawahi sejumlah dinamika terkini menuntut mitigasi ekstra. Fokus utama bank sentral saat ini ujar Aida, tertuju pada rambatan tensi geopolitik global.

"Kami akan terus melakukan monitoring perkembangan dari Perang Timur Tengah. Eskalasinya seperti apa, dan ini tentunya akan mempunyai dampak kepada inflasi, terutama dari jalur rantai pasokan maupun dari kenaikan harga komoditas [minyak dunia]. Itu yang harus kita lihat," paparnya dalam Pengumuman RDG Maret, Selasa (17/3/2026).

Meski mengakui adanya ancaman eksternal itu, Aida mengakui bahwa hingga saat ini seluruh indikator pergerakan harga komoditas dan dampaknya ke dalam negeri masih terkelola dengan baik.

Di dalam negeri, BI juga menyoroti tekanan dari kelompok harga pangan bergejolak (volatile food). Aida mengungkapkan bahwa bank sentral telah menerima peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi anomali cuaca tahun ini.

Baca Juga

  • Bank Indonesia Genjot Insentif KLM, Capai Rp427,1 Triliun hingga Awal Maret 2026
  • Syarat Magang Bank Indonesia Jakarta 2026, Ini Jadwal Seleksinya
  • Rupiah Tertekan Krisis Timur Tengah, Bank Indonesia Siaga Intervensi di Pasar

"Dari BMKG itu ada keterangan kemungkinan musim kemarau yang lebih kering dan datangnya lebih gini. Jadi ini perlu kita perhatikan khususnya nanti untuk komoditas hortikultura seperti cabai-cabaian, kemudian jagung maupun beras," ungkapnya.

Terkait dengan posisi inflasi terkini, dia memaparkan bahwa realisasi inflasi pada Februari 2026 yang tercatat di level 4,76% masih sangat dipengaruhi oleh base effect atau basis rendah inflasi akibat kebijakan tahun sebelumnya.

Menurutnya, angka tersebut masih merefleksikan dampak dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% yang digulirkan pemerintah pada Januari dan Februari 2025 silam.

"Angkanya ini masih kita akan lihat, lebih kurang sampai dengan [rilis] inflasi di bulan Maret," jelasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Global Mendidih Lagi, Serangan Iran Picu Gangguan Pasokan
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Penyelidikan Kasus Dugaan Perzinaan, Rumah Inara Rusli Didatangi Polisi
• 10 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kabar Baik untuk Timnas Indonesia, Kapten dan Top Skor Bulgaria Dipastikan Absen di FIFA Series 2026
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Polytron Bakal Rilis 2 Speaker Baru, Teman Gaya Hidup Gen Z dan Milenial
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Jelang Lebaran, Pemerintah Tak Naikkan Tarif Listrik Kuartal II 2026
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.