Trump Geram! Sekutu AS Tolak Kirim Kapal ke Selat Hormuz Meski 40 Tahun Dilindungi

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump geram. Dia frustrasi terhadap sekutu-sekutunya yang enggan mengirim kapal untuk mengamankan Selat Hormuz. Padahal mereka telah menikmati perlindungan militer AS selama puluhan tahun.

Ketegangan di kawasan Teluk yang menjadi jalur perdagangan energi utama dunia semakin memuncak setelah serangkaian insiden militer, dan Trump menuntut lebih banyak kontribusi dari negara-negara yang selama ini mendapat jaminan keamanan dari Washington.

Pada Senin (16/3/2026) waktu setempat, Trump dengan tegas mengkritik sikap negara-negara sekutu yang sebelumnya telah menerima bantuan militer dari AS namun kini enggan menurunkan kapal penyapu ranjau untuk menjaga keamanan di Selat Hormuz. Menurutnya, respons mereka tidak sebanding dengan dukungan yang telah diberikan Amerika selama lebih dari 40 tahun.

“Banyak negara telah memberi tahu saya bahwa mereka sedang menuju lokasi, beberapa sangat antusias, beberapa tidak. Beberapa adalah negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun,” ujar Trump.
Kritik tersebut merujuk pada upaya Amerika Serikat untuk membentuk koalisi internasional demi memastikan kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan terpenting dunia ini.

Mengapa Sekutu AS Menolak Terlibat?

Trump menegaskan bahwa beban pengamanan Selat Hormuz seharusnya dibagi bersama oleh negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi melalui jalur tersebut. Namun, dalam permintaan terbaru untuk mengirimkan kapal perang, terutama kapal penyapu ranjau, negara-negara sekutu justru menunjukkan keraguannya.

“Kami ingin tahu, ‘Apakah Anda memiliki kapal penyapu ranjau?’ Mereka menjawab, ‘Kami lebih suka tidak terlibat.’ Selama 40 tahun, kami melindungi Anda, dan Anda tidak ingin terlibat dalam hal yang sangat kecil,” tegas Trump, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap respons yang dianggap tidak setimpal.

Pada akhir pekan sebelumnya, Trump telah meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan beberapa negara besar lainnya untuk mengirimkan kapal perang guna menjaga Selat Hormuz. Permintaan ini mencuat di tengah ketidakpastian pasokan energi global yang berisiko memicu krisis ekonomi dunia.

Reaksi Negara Eropa

Di sisi lain, beberapa negara Eropa, termasuk Prancis, dikabarkan tengah merancang misi bersama untuk mengamankan jalur perairan Selat Hormuz. Laporan dari Financial Times mengungkapkan bahwa mereka menyiapkan kapal-kapal untuk merespons meningkatnya ancaman terhadap kapal tanker yang melintas, menyusul serangan-serangan yang terjadi di kawasan tersebut.

Namun, meskipun beberapa negara Eropa menunjukkan niat untuk berkolaborasi, Trump tetap merasa bahwa kontribusi mereka tidak sebanding dengan upaya yang telah dilakukan AS. Hal ini juga menambah ketegangan dalam hubungan internasional, khususnya dengan sekutu-sekutu yang selama ini menjadi bagian dari aliansi pertahanan global.

NATO: Solidaritas yang Terguncang?

Selain persoalan di Selat Hormuz, Trump juga menyinggung keraguannya terhadap solidaritas aliansi NATO, yang telah menjadi pilar keamanan bagi banyak negara sejak Perang Dingin. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa sekutu-sekutu NATO mungkin tidak akan membela Amerika Serikat jika terjadi serangan terhadap negaranya, pandangan yang menantang dasar komitmen kolektif yang selama ini dijunjung tinggi dalam aliansi tersebut.

Krisis yang Semakin Memanas

Eskalasi ketegangan di kawasan Teluk ini mencapai puncaknya pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran, termasuk beberapa titik strategis di ibu kota Teheran. Serangan ini terjadi setelah serangkaian provokasi dan ancaman yang semakin meningkatkan ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat.

Trump kini menuntut agar sekutu-sekutu AS lebih aktif berperan dalam menjaga keamanan global, terutama di jalur perdagangan energi yang vital ini. Sebuah seruan yang sepertinya tidak akan mudah terwujud, mengingat perbedaan pandangan antara negara-negara yang selama ini dilindungi oleh kekuatan militer Amerika Serikat. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Angkutan Lebaran 2026 Penumpang Turun di Stasiun Pekalongan Capai 16 Ribu
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Analisis CCTV, Polisi: Terduga Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis Berjumlah 4 Orang
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Amalan yang Melancarkan Rezeki dan Menaikkan Karier
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Polisi Berlakukan One Way Lokal Semarang-Bawen jika Kendaraan Capai 3.000/Jam
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Pemprov DKI ikuti arahan Prabowo soal hemat BBM dan WFH
• 4 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.